Tips Meluluhlantakkan Hati Perempuan Lewat Percakapan

•Oktober 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

+ Kamu pasti seorang pengrajin sendok.
- Emang kenapa?
+ Karena kamu selalu mengaduk-aduk perasaanku.

+ Sakit tidak saat kamu jatuh?
- Jatuh? kapan?
+ Waktu kamu jatuh dari langit ke dalam hatiku.

+ Dik, kemarin aku di diagnosa mengidap sakit jantung.
- Hah! Kok bisa?
+ Iya. Soalnya, jantungku selalu berdegup kencang bila dekat denganmu.

+ Kamu pasti suka dengan seni pahat ya?
- Sok tahu kamu. Emang kenapa gitu?
+ Soalnya kamu pintar sekali memahat namamu di hatiku.

+ Bapak kamu pasti seorang astronot.
- Bukan. Kenapa memang?
+ Soalnya aku melihat begitu banyak bintang di matamu.

+ Kamu nggak capek bolak-balik terus?
- Bolak-balik gimana maksudmu?
+ Bolak-balik dalam pikiranku.

+ Kamu punya kunci apa aja sih?
- Kunci motor, kunci kamar, kunci lemari. Emangnya ada apa?
+ Punya nggak kunci untuk membuka hatimu padaku?

+ Kakekmu pasti penambang ya?
- Sembarangan
+ Soalnya banyak sekali berlian di matamu.

+ Kamu tahu tidak, berapa kali kamu datang dalam pikiranku?
- Nggak.
+ Hanya sekali.
- Hah, cuma sekali
+ Ya, soalnya kamu tidak pernah pergi lagi dari pikiranku.

+ Kalau suatu saat kamu menghancurkan hatiku, kamu tahu apa yang akan kulakukan?
- Bunuh diri kali …
+ Tidak. Aku akan mencintaimu dengan kepingan yang tersisa.

+ Dirumah punya peta nggak?
- Peta apa?
+ Peta hatimu. Karena aku begitu tersesat dan tak bisa keluar dari hatimu.

+ Kata orang bulan itu begitu indah. Tapi aku tidak suka.
- Lho, emang kenapa?
+ Soalnya tidak ada kamu di sana.

+ Kemarin aku ke dokter mata. Kamu tahu apa yang dikatakan dokter?
- Apa? Parah?
+ Kata dokter ada kamu di mataku.

+ Boleh nggak aku melihat punggungmu?
- Hus, apa apaan sih
+ Nggak, aku cuma ingin melihat sayapmu. Karena kamu pasti seorang bidadari.

so guys (cieeh gaya @#?!) selamat mencoba. Yaah, kalo gak diterima paling banter dimuntahin

Liar Liar Liar

•Oktober 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Pabila rumahtangga disemai benih kebohongan, yang tumbuh pastilah omong kosong. Lantas, untuk apa menanam dan memeliharanya, jikalau saat panen nanti yang disemai hanyalah sia belaka semata.

Sia-sialah jadinya segala apa yang telah dibina dan ditata. Semua luluh lantak berserak diserang hama bernama dusta.

Noda, tentu saja telah tercipta di atas mahligai rumah tangga. Laksana cermin retak yang selamanya akan membekas kendati bersikeras untuk mengembalikannya ke wujud semula. Tapi sudahlah, usah diratap, cukup sebagai bukti bahwa di antara kita pernah ada dusta.

©firman.taqur
maleber/20/02/08/17.30pm

Jangan Benci Daku Sebab Daku Tua

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

old faceDISAAT daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.  Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.  Disaat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku, disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.

Ingatlah saat-saat daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya  Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu, bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku.

Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.  Disaat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,  Janganlah menyalahkanku.  Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,

Janganlah menertawaiku, renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita, berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih, maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir hidup ini.  Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.  Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

Tenzing Norgay : Man From Himalaya

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

tenzing-norgayDUNIA mungkin tidak mengenal siapa Tenzing Norgay.  Dia adalah sebuah nama.  Nama yang mungkin terlupakan karena sosok Edmund Hillary? Siapa Edmund Hillary? Apa yang pernah dilakukannya?

Edmund Hillary yang kemudian mendapat gelar Sir dari Ratu Elizabet II dari Inggris adalah seorang pendaki gunung yang berhasil menaklukkan dan menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest.

Lanjutkan membaca ‘Tenzing Norgay : Man From Himalaya’

Indah Nian Kasih Ibu Itu!

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

loving mommySeorang anak menghampiri ibunya yang tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam keluarga, diserahkannya secarik kertas kepada ibunya.  Sang ibu lantas mengambil dan membaca tulisan yang ada di lembar kertas itu,

BIAYA MEMBANTU IBU :

Biaya cuci piring Rp. 15.000

Biaya buang sampah Rp. 10.000

Biaya menjaga adik Rp 30.000

Biaya menyapu Rp 20.000

Biaya mengepel lantai Rp 25.000

Total Rp. 100.000

Usai membaca, sang ibu hanya melempar senyum kepada anaknya itu. Kemudian, ia mengambil secarik kertas kosong dan pulpen, lantas menulis sesuatu, kemudian diserahkan ke anaknya itu.

BIAYA MEMBESARKANMU :

Biaya mengandungmu : GRATIS

Biaya menyusuimu setiap hari : GRATIS

Biaya bangun tengah malam untuk mengganti popokmu : GRATIS

Biaya membesarkanmu : GRATIS

Biaya kasih sayang : GRATIS

Usai membaca, sang anak tak tersontak, dipandangi wajah ibunya dengan dalam, sang ibu hanya membalasnya dengan senyuman penuh makna. Sang anak lantas merebut kertas yang diberikan pada ibunya itu, lantas ia menuliskan “LUNAS” pada kertas tersebut.

Waktu, Sanggupkah Dibeli?

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

pink-neon-clockALKISAH dijaman tiongkok kuno, hiduplah seorang ayah beserta anaknya yang masih kecil berusia 7 tahun. Sementara ibunya, telah meninggal saat anak itu baru berumur 2 tahun. Karenaya, anak tersebut dirawat oleh seorang baby sitter yang disewa ayahnya..

Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses, sehingga waktunya selalu dihabiskan untuk bekerja dan mencari uang. Akibatnya, snag anak selalu merasakan kesepian, hingga pada suatu malam anaknya berkata pada ayahnya yang baru pulang dari kerja,

“Ayah kalau boleh tahu berapa penghasilan ayah untuk satu jam?” tanya anak itu polos.

“Buat apa kamu ingin tahu, lebih baik tidur sana hari sudah malam,” jawab ayahnya tanpa roman.

Mendapat jawaban ayahnya yang ketus, anak itu pun terdiam dan membalikkan badannya menuju tempat tidur.

Namun, keesokkan harinya, anak tersebut kembali menanyakan hal serupa. Kesal karena ditanya terus ayahnya pun terpaksa menjawab, “Satu jam ayah bisa menghasilkan uang 1 keping emas? Kenapa kamu selalu bertanya begitu?” tanya ayahnya penasaran.

Mendengar jawaban dari ayahnya demikian, si anak itu pun lantas berlari ke kamar dan kembali ke tempat ayahnya sambil menenteng celengan, kemudian memecahkannya. Kepingan-kepingan uang yang berhamburan lantas dikumpulkannya, kemudian dihitung satu demi satu.

Melihat polah anaknya yang aneh, sang ayah menjadi penasaran, “Apa yang kamu lakukan dengan uang itu, apakah engkau ingin membeli permen, tahukah kamu ayah mencari uang dengan susah?” tanya ayahnya dengan kesal.

“Ayah, aku telah mengumpulkan uang yang ayah berikan kepadaku sen demi sen, dan aku berhasil mengumpulkan 1/2 keping emas. Aku ingin membeli waktu ayah 1/2 jam saja? aku sangat merindukan ditemani ayah sewaktu tidur, bukan oleh orang lain, aku sangat ingin dipeluk dan merasakan kehangatan belaian orang tua, walaupun hanya 1/2 jam, aku mohon ayah,” sahut anak tersebut sambil menahan isak.

Mendengar kalimat yang meluncur dari anaknya seperti itu, sang ayah tercekat kalimatnya, ia hanya terdiam dalam bisu, tak sanggup berkata apapun.

Khalil Gibran (1883-1931) : The Wisdom Man

•Mei 20, 2009 • 1 Komentar

gibranKahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon.  Beshari sendiri merupakan daerah yang sering dilandai badai gurun, gempa bumi serta petir.  Makanya, tak heran bila sejak kecil, hidup Gibran sudah terbiasa menyaksikan fenomena-fenomena alam tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang nantinya banyak mempengaruhi karya-karya satra tentang alam.

Lanjutkan membaca ‘Khalil Gibran (1883-1931) : The Wisdom Man’

Iwan Fals, The Living Legend

•Mei 20, 2009 • & Komentar

iwan_fals_01Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gampang menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangis

Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi. Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.

Lanjutkan membaca ‘Iwan Fals, The Living Legend’

Malcolm X, The Black Muslim Movement

•Mei 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

malcolmXMALCOLM Little lahir di Kota Omaha, sebuah kota kecil di sudut Amerika Serikat pada 19 Mei 1925. Ayahnya adalah seorang Pendeta Baptis bernama Earl Little yang juga aktivis Universal Negro Improvement Association (UNIA). Ibunya bernama Louise little.

Malcolm punya 5 orang saudara seibu dan 3 saudara lain ibu. Masa kecil Malcolm dihabiskan di Lansing, Michigan. Keluarganya tinggal di sebuah ladang dengan kondisi yang memprihatinkan. Apalagi setelah ayahnya terbunuh oleh Ku Klux Klan di tahun 1931.

Keluarga Little menjadi berantakan. Ibunya masuk rumah sakit jiwa. Sementara Malcolm bersaudara harus tinggal di panti asuhan dan sebagian lagi tinggal bersama orang lain. Malcolm sendiri sempat empat kali menjadi anak angkat di empat keluarga berbeda.

Lanjutkan membaca ‘Malcolm X, The Black Muslim Movement’

How Are u Mommy

•Mei 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

young momAKU rindu ibu, aku rindu keberadaannya di teras rumah ini, di atas kursi roda dengan senyuman penuh kasih saat menyambut kepulanganku sembari menyapa, “Ada berita heboh apa hari ini?”

Ibuku, seorang perempuan paruh baya yang harus rela penuh tabah direnggut kebebasan bergeraknya oleh Stroke yang menyerangnya Rabu subuh empat tahun silam.

Sungguh, aku tak kuasa setiap melihat ibuku hanya mampu sampai beranda, berjuta kali aku berharap datangnya keajaiban, di suatu sore, saat aku pulang, aku melihat ibuku berdiri tegap, melambaikan tangannya lantas menyambutku dengan senyuman selamat datang.

Namun, asaku ternyata hanya tinggal asa tak bernyata, bahkan asaku kini terkubur seiring jasadnya di bawah nisan itu.

Dua bulan berlalu saat kepergianmu itu ibu. Aku rindu padamu, aku rindu marahmu saat aku berlena dengan alpa, aku rindu nasihatmu ketik aku terlelap dalam khilap. Aku rindu semuanya, aku ingin memelukmu lagi saat tubuhmu kedinginan seperti dikala itu ibu.

Sungguh, saat kau masih menjadi malaikat penjagaku, aku tak pernah bisa menyadari betapa penuh artinya kehadiranmu itu.  Kini, saat jasad lumpuh itu pergi dan takkan pernah kembali, sungguh betapa berharganya semua masa itu ibu.

Ibu, mengharapmu kembali hanyalah sebuah kemuskilan, menginginimu hadir lagi di rumah ini tentulah asa yang sia-sia.

Ibu, sedang apa di sana? Sesekali kunjungi aku dalam mimpi tidurku yang tak pernah lelap setelah kepulanganmu.  Dalam mimpi, aku hanya ingin menyapa , maafkan aku ibu, anakmu yang tidak istimewa yang selalu membuatmu kecewa, yang tidak pernah bisa membuatmu bangga…

Pab-Tji, 05/05/09/02.00am