Selamat Hari Ibu …..

•Januari 3, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ibuku pergi, dan takkan pernah kembali … membawa sakit hati dan mimpi-mimpi.
Ibuku pergi sudah dan takkan pernah lagi singgah, meninggalkan resah dan amarah yg tak membuncah.
Ibuku tinggal kenangan, dan yg tersisa hanya harapan dan ajaran.
Ibuku berpulang tak pernah bilang.
Aku di sini tenggelam di lautan pedih nan perih ….. hanya sanggup berucap dalam ketiadaannya, SELAMAT HARI IBU … ibu ….

Leles,22/12/09
Luv 4 Mom

….. dan akupun hanya bisa diam

•Desember 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

KADANG aku harus belajar untuk diam ……. Karena bicara hanya sekedar menambah luka bagi mereka.  Karena ucapku akan semakin menambah pundi-pundi duka mereka di sana.

Namun, aku tidak belajar untuk diam, seperti yang disarankan Farid Gaban pada dunia.  Bagiku, untuk diam tak harus belajar, karena diam adalah titik dimana raga tak sanggup berbuat apapun juga.  Karena diam adalah sebuah kepengecutan tak berbelas kasihan.

Aku diam, karena memang aku hanya bisa diam, terpaksa dan dipaksa untuk diam. Diam, sekedar untuk dendam yang kupendam, memendam amarah yang tak sanggup membuncah.

Diamku sekedar untuk simpati, sekedar untuk mengheningkan diri kendati dunia tak lagi sehening dulu.  Dunia sudah bising, bising oleh kemunafikan, kerakusan, ketamakan, keserakahan dan kebusukan-kebusukan yang sengaja dibalut dengan kain sutra bercampur parfum.

Saudaraku, maafkan aku yang hanya bisa diam, hanya bisa memendam dendammu dalam setiap malam-malam tak berartiku, hanya bisa merasakan jerit tangismu di tengah malam di atas peraduan.

Saudariku, Aku tak pantas menjadi akhi fillah kalian, bahkan mungkin kamu tak pantas mengenalku, karena aku hanya bisa diam melihatmu dihina nistakan, karena aku hanya bisa dendam saat harga dirimu dicampakkan.

Inilah sejati-jatinya aku, seorang manusia di bumi nusantara yang hanya bisa berkoar atas ketidakadilan penghuni dunia terhadapmu.  Inilah sebenar-benarnya aku, yang hanya bisa berteriak seperti riak atas derita berabad-abadmu.

Namun, semua yang telah kulakukan itu tak sanggup mengembalikan tawa ceriamu, tak mampu mengembalikan senyum-senyum anakmu usai belajar di surau-surau, tak sangup mengembalikan canda mesra ayah dan ibumu, tak sanggup lagi mengembalikan malam-malam sunyi nan hening saat kamu bercengkarama dengan-Nya.

Jika semua itu tak begitu memberi arti atas setiap tetes darah yang tumpah di tanah sucimu, maka aku pun memilih diam.

Leles’ 09

The Looser Person

Surat Seorang Perempuan Palestina Kepada Pemuda di Indonesia

•Desember 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

WAHAI akhi fillah, beritahu aku, kapankah kau akan marah? Jika milik kita yang suci dihina, dan tempat kita dihancurkan, dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh, dan kehormatan kita diinjak-injak, dan dunia kita berakhir,dan kau tidak menjadi marah? Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas, dan institusi kita diruntuhkan, dan masjid-masjid kita dihancurkan, dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita tetap dirampas tak berbekas, dan kau tidak menjadi marah? Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu, menghina kehormatan, darahku dijadikan mainan oleh dia, dan kau jadi penonton permainan. Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci, untuk Islam kau tidak marah, Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian, Aku melihat darah mengucur. Wanita-wanita tua mengiringi anak-anak menjemput maut mereka. Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan. Dan kau tidak menjadi marah. Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu, perutmu memenuhi kantor. Kau habiskan malam banggakan angka-angka, dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya. Aku melihat kematian di atas kepala-kepala kami. Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku, jangan malu-malu: kamu ada di Ummat yang mana? Jika kau juga derita, apa yang kami derita, tidak menjadikan kamu ingin membalas, maka tidak usah repot.

Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami, bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia. Jadi hiduplah sebagai kelinci, dan matilah sebagai kelinci.

Tips Meluluhlantakkan Hati Perempuan Lewat Percakapan

•Oktober 31, 2009 • & Komentar

+ Kamu pasti seorang pengrajin sendok.
- Emang kenapa?
+ Karena kamu selalu mengaduk-aduk perasaanku.

+ Sakit tidak saat kamu jatuh?
- Jatuh? kapan?
+ Waktu kamu jatuh dari langit ke dalam hatiku.

+ Dik, kemarin aku di diagnosa mengidap sakit jantung.
- Hah! Kok bisa?
+ Iya. Soalnya, jantungku selalu berdegup kencang bila dekat denganmu.

+ Kamu pasti suka dengan seni pahat ya?
- Sok tahu kamu. Emang kenapa gitu?
+ Soalnya kamu pintar sekali memahat namamu di hatiku.

+ Bapak kamu pasti seorang astronot.
- Bukan. Kenapa memang?
+ Soalnya aku melihat begitu banyak bintang di matamu.

+ Kamu nggak capek bolak-balik terus?
- Bolak-balik gimana maksudmu?
+ Bolak-balik dalam pikiranku.

+ Kamu punya kunci apa aja sih?
- Kunci motor, kunci kamar, kunci lemari. Emangnya ada apa?
+ Punya nggak kunci untuk membuka hatimu padaku?

+ Kakekmu pasti penambang ya?
- Sembarangan
+ Soalnya banyak sekali berlian di matamu.

+ Kamu tahu tidak, berapa kali kamu datang dalam pikiranku?
- Nggak.
+ Hanya sekali.
- Hah, cuma sekali
+ Ya, soalnya kamu tidak pernah pergi lagi dari pikiranku.

+ Kalau suatu saat kamu menghancurkan hatiku, kamu tahu apa yang akan kulakukan?
- Bunuh diri kali …
+ Tidak. Aku akan mencintaimu dengan kepingan yang tersisa.

+ Dirumah punya peta nggak?
- Peta apa?
+ Peta hatimu. Karena aku begitu tersesat dan tak bisa keluar dari hatimu.

+ Kata orang bulan itu begitu indah. Tapi aku tidak suka.
- Lho, emang kenapa?
+ Soalnya tidak ada kamu di sana.

+ Kemarin aku ke dokter mata. Kamu tahu apa yang dikatakan dokter?
- Apa? Parah?
+ Kata dokter ada kamu di mataku.

+ Boleh nggak aku melihat punggungmu?
- Hus, apa apaan sih
+ Nggak, aku cuma ingin melihat sayapmu. Karena kamu pasti seorang bidadari.

so guys (cieeh gaya @#?!) selamat mencoba. Yaah, kalo gak diterima paling banter dimuntahin

Liar Liar Liar

•Oktober 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Pabila rumahtangga disemai benih kebohongan, yang tumbuh pastilah omong kosong. Lantas, untuk apa menanam dan memeliharanya, jikalau saat panen nanti yang disemai hanyalah sia belaka semata.

Sia-sialah jadinya segala apa yang telah dibina dan ditata. Semua luluh lantak berserak diserang hama bernama dusta.

Noda, tentu saja telah tercipta di atas mahligai rumah tangga. Laksana cermin retak yang selamanya akan membekas kendati bersikeras untuk mengembalikannya ke wujud semula. Tapi sudahlah, usah diratap, cukup sebagai bukti bahwa di antara kita pernah ada dusta.

©firman.taqur
maleber/20/02/08/17.30pm

Jangan Benci Daku Sebab Daku Tua

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

old faceDISAAT daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.  Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.  Disaat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku, disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu.

Ingatlah saat-saat daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya  Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu, bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku.

Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.  Disaat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,  Janganlah menyalahkanku.  Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,

Janganlah menertawaiku, renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita, berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih, maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir hidup ini.  Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.  Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

Tenzing Norgay : Man From Himalaya

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

tenzing-norgayDUNIA mungkin tidak mengenal siapa Tenzing Norgay.  Dia adalah sebuah nama.  Nama yang mungkin terlupakan karena sosok Edmund Hillary? Siapa Edmund Hillary? Apa yang pernah dilakukannya?

Edmund Hillary yang kemudian mendapat gelar Sir dari Ratu Elizabet II dari Inggris adalah seorang pendaki gunung yang berhasil menaklukkan dan menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest.

Lanjutkan membaca ‘Tenzing Norgay : Man From Himalaya’

Indah Nian Kasih Ibu Itu!

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

loving mommySeorang anak menghampiri ibunya yang tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam keluarga, diserahkannya secarik kertas kepada ibunya.  Sang ibu lantas mengambil dan membaca tulisan yang ada di lembar kertas itu,

BIAYA MEMBANTU IBU :

Biaya cuci piring Rp. 15.000

Biaya buang sampah Rp. 10.000

Biaya menjaga adik Rp 30.000

Biaya menyapu Rp 20.000

Biaya mengepel lantai Rp 25.000

Total Rp. 100.000

Usai membaca, sang ibu hanya melempar senyum kepada anaknya itu. Kemudian, ia mengambil secarik kertas kosong dan pulpen, lantas menulis sesuatu, kemudian diserahkan ke anaknya itu.

BIAYA MEMBESARKANMU :

Biaya mengandungmu : GRATIS

Biaya menyusuimu setiap hari : GRATIS

Biaya bangun tengah malam untuk mengganti popokmu : GRATIS

Biaya membesarkanmu : GRATIS

Biaya kasih sayang : GRATIS

Usai membaca, sang anak tak tersontak, dipandangi wajah ibunya dengan dalam, sang ibu hanya membalasnya dengan senyuman penuh makna. Sang anak lantas merebut kertas yang diberikan pada ibunya itu, lantas ia menuliskan “LUNAS” pada kertas tersebut.

Waktu, Sanggupkah Dibeli?

•Mei 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

pink-neon-clockALKISAH dijaman tiongkok kuno, hiduplah seorang ayah beserta anaknya yang masih kecil berusia 7 tahun. Sementara ibunya, telah meninggal saat anak itu baru berumur 2 tahun. Karenaya, anak tersebut dirawat oleh seorang baby sitter yang disewa ayahnya..

Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses, sehingga waktunya selalu dihabiskan untuk bekerja dan mencari uang. Akibatnya, snag anak selalu merasakan kesepian, hingga pada suatu malam anaknya berkata pada ayahnya yang baru pulang dari kerja,

“Ayah kalau boleh tahu berapa penghasilan ayah untuk satu jam?” tanya anak itu polos.

“Buat apa kamu ingin tahu, lebih baik tidur sana hari sudah malam,” jawab ayahnya tanpa roman.

Mendapat jawaban ayahnya yang ketus, anak itu pun terdiam dan membalikkan badannya menuju tempat tidur.

Namun, keesokkan harinya, anak tersebut kembali menanyakan hal serupa. Kesal karena ditanya terus ayahnya pun terpaksa menjawab, “Satu jam ayah bisa menghasilkan uang 1 keping emas? Kenapa kamu selalu bertanya begitu?” tanya ayahnya penasaran.

Mendengar jawaban dari ayahnya demikian, si anak itu pun lantas berlari ke kamar dan kembali ke tempat ayahnya sambil menenteng celengan, kemudian memecahkannya. Kepingan-kepingan uang yang berhamburan lantas dikumpulkannya, kemudian dihitung satu demi satu.

Melihat polah anaknya yang aneh, sang ayah menjadi penasaran, “Apa yang kamu lakukan dengan uang itu, apakah engkau ingin membeli permen, tahukah kamu ayah mencari uang dengan susah?” tanya ayahnya dengan kesal.

“Ayah, aku telah mengumpulkan uang yang ayah berikan kepadaku sen demi sen, dan aku berhasil mengumpulkan 1/2 keping emas. Aku ingin membeli waktu ayah 1/2 jam saja? aku sangat merindukan ditemani ayah sewaktu tidur, bukan oleh orang lain, aku sangat ingin dipeluk dan merasakan kehangatan belaian orang tua, walaupun hanya 1/2 jam, aku mohon ayah,” sahut anak tersebut sambil menahan isak.

Mendengar kalimat yang meluncur dari anaknya seperti itu, sang ayah tercekat kalimatnya, ia hanya terdiam dalam bisu, tak sanggup berkata apapun.

Khalil Gibran (1883-1931) : The Wisdom Man

•Mei 20, 2009 • 1 Komentar

gibranKahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon.  Beshari sendiri merupakan daerah yang sering dilandai badai gurun, gempa bumi serta petir.  Makanya, tak heran bila sejak kecil, hidup Gibran sudah terbiasa menyaksikan fenomena-fenomena alam tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang nantinya banyak mempengaruhi karya-karya satra tentang alam.

Lanjutkan membaca ‘Khalil Gibran (1883-1931) : The Wisdom Man’