Menjadi Manusia Antar Budaya

dayakINDONESIA merupakan negara kepulauan atau maritim dengan beribu-ribu pulau yang berjajar dari Sabang sampai Merauke, selain itu bangsa indonesia kaya akan aneka ragam kebudayaan yang memiliki karakteristik unik satu sama lain, hal tersebut mengkondisikan bangsa indonesia sebagai sebuah bangsa majemuk dan heterogen yang didalamnya “hidup” berbagai perbedaan serta karakter dari ragam kultur maupun sub-kultur yang berasal dari berbagai suku bangsa, ras, agama, latar belakang daerah, maupun latar belakang pendidikan dan yang lainnya.

Dalam kehidupan keseharian, terlebih kehidupan di daerah perkotaan, pertemuan antar budaya tidak bisa dielakkan, dalam sebuah interaksi yang dilakukan oleh masyarakat kota, pertemuan dengan budaya lain adalah sebuah keharusan serta rutinitas yang tidak bisa dihindari, sehingga interaksi dan komunikasi harus terjadi, baik komunikasi yang dilakukan secara langsung (tatap muka) maupun komunikasi yang menggunakan media sebagai saluran. Dalam proses komunikasinya pun dapat dilakukan secara verbal (kata-kata) maupun menggunakan non-verbal (bahasa tubuh/simbol), bahkan dalam realitas aktivitas komunikasi yang terjadi selalu terjadi bauran antara verbal dengan non-verbal yang dilakukan oleh para pelaku komunikasi guna mengefektifkan proses penyampaian pesan.

Komunikasi inilah yang dinamakan komunikasi antar budaya, yakni Sebuah proses komunikasi yang terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, seperti perbedaan ras, suku, agama, bahasa, tingkat pendidikan, status sosial bahkan perbedaan jenis kelamin. Kondisi tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan interaksi masyarakat kota, komunikasi antara orang bugis dengan orang sunda misalnya, orang sunda dengan orang batak, orang batak dengan orang betawi, serta kelompok etnis satu dengan yang lainnya.

Kemajemukan bangsa indonesia ini selain memperkaya khazanah budaya juga sekaligus bisa menjadi bom waktu yang suatu saat dapat meluluh lantakkan integrasi bangsa secara menyeluruh. Sejarah mencatat bahwa konflik dan peperangan antar bangsa maupun etnik diakibatkan sikap satu sama lain tidak saling memahami dan menghargai budaya lain, kita ambil kasus yang telah menjadi sejarah dunia, Bangsa Aria Jerman di bawah kekuasaan Adolf Hitler misalnya, ia mentasbihkan bangsanya atau rasnya sebagai satu-satunya ras termulia di dunia, Hitler memiliki keyakinan bahwa bangsa-bangsa atau ras-ras lain merupakan ras buangan dan tidak terhormat, sehingga wajib untuk dimusnahkan sebagai upaya mempertahankan kemurnian bangsa Aria, atas dasar sikap stereotip inilah Nazi dibawah komando Hitler membunuh jutaan warga dunia.

Selain itu di belahan benua Afrika konflik rasisme sering terjadi, pembantaian salah satu suku oleh suku lain seperti sebuah aktivitas kehidupan sehari-hari, simak bagaimana konflik etnis berkepanjangan antara suku Huttu dengan suku Tutsi yang saling membantai satu sama lain, hal ini membuktikan bahwa mereka memiliki sikap ethnosentrik dan stereotip yang dominan. Selain itu kita dapat melihat bagaimana upaya keras yang dilakukan bangsa yahudi dalam mengusir bangsa palestina, sebuah tindakan rasis yang terang-terangan dan tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

Sementara itu di Indonesia, semenjak era reformasi digulirkan, berbagai konflik serta pertentangan yang berbau Suku, Agama, Ras (SARA) seolah menjadi sebuah tontonan yang alamiah di media massa, alam demokrasi yang masih berusia balita ini turut diwarnai oleh konflik-konflik berkepanjangan, baik perang antar suku, pertentangan antar agama, maupun tawuran antar kelompok, pertikaian-pertikaian yang berlatar belakang SARA terjadi di berbagai belahan bumi indonesia, seperti di Palangkaraya, Sampit, Kalimantan, Ambon, Maluku, serta berbagai konflik lainnya yang tidak ter-agenda setting oleh media. Bahkan kelompok-kelompok separatis yang berkeinginan untuk membebaskan diri dari integrasi bangsa indonesia mulai menyeruak kepermukaan, seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan), OPM (Organisasi Papua Merdeka), dan kelompok separatis lainnya.

Peristiwa demi peristiwa tersebut bukanlah tanpa sebab musabab yang ada, hal yang paling utama sebagai pemicu terjadinya konflik tersebut adalah adanya sikap ethnosentrik pada budaya sendiri, sikap inilah yang melandasi munculnya sikap permusuhan dan kebencian terhadap budaya lain, karena ketika sikap tersebut terpola pada pikiran, sangat sulit bagi kita untuk bisa memahami kebudayaan lain. Menurut Summer yang dikutip oleh Dedy Mulyana mengatakan bahwa ethnosentrisme adalah Memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu dan hal-hal lainnya di ukur dan di nilai berdasarkan rujukan kelompoknya. Pandangan-pandangan ethnosentrik ini antara lain berbentuk stereotip, yakni Suatu generalisasi atas kelompok orang, objek atau peristiwa yang secara luas di anut suatu budaya. Dan ketika sikap tersebut sudah ada dalam alam pikiran kita maka yang terpola adalah keyakinan yang buta akan nilai budaya sendiri, artinya kita menganggap budaya atau suku kita merupakan yang terbaik dan terhormat sehingga budaya yang lain merupakan budaya yang tidak bernilai.

Dewasa ini kesalahan-kesalahan seperti diatas masih sering terjadi ketika kita bergaul dengan kelompok-kelompok budaya yang berbeda, problem utamanya adalah adanya kecenderungan menganggap budaya sendiri sebagai suatu kemestian (paling mulia), penemuan Brunner tahun 1974 tentang stereotip antar suku bangsa di indonesia agaknya masih tetap relevan sampai saat ini, masih sering terdengar bahwa orang jawa dan sunda beranggapan bahwa mereka lebih halus dan sopan dalam berbicara, dan mereka beranggapan bahwa orang batak itu kasar, nekad, suka berbicara keras, pemberang dan sering berkelahi, tapi orang batak sendiri menganggap bahwa mereka adalah pemberani, terbuka suka berterus terang, pintar, rajin, kuat dan tegar, mereka menganggap orang-orang jawa dan sunda lebih halus dan sopan, tapi sebenarnya hal itu menunjukkan satu sikap yang lemah dan tidak suka berterus terang, yang orang sunda dan jawa anggap kekerasan, bagi orang batak justru suatu kejujuran, apa yang orang sunda anggap kehalusan, justru orang batak menganggapnya suatu kemunafikan dan kelemahan. Hal tersebut tentunya menciptakan suatu sikap dan persepsi yang saling bertolak belakang. Kkontradiktif persepsi ini jika dibiarkan akan menciptakan suatu stereotip yang nantinya akan mengakibatkan benturan-benturan budaya secara langsung.

Dalam sebuah proses komunikasi antarmanusia, stereotip pada umumnya akan menghambat keefektifan dalam melakukan komunikasi, bahkan pada gilirannya akan menghambat integrasi manusia, dengan demikian keberadaan stereotip antar suku di negara kita pun dapat pula menghambat integrasi suku-suku bangsa di Indoensia, serta keutuhan bangsa secara menyeluruh.

Oleh karena itu apa yang harus dilakukan oleh masyarakat yang hidup di dalam lingkungan yang plural atau majemuk, dimana di dalamnya terdapat ragam kebudayaan serta nilai yang masing-masing memiliki karakter yang secara kasat mata seolah saling bertentangan. Kita yang hidup di daerah perkotaan tentunya secara sadar maupun tidak sadar selalu melakukan aktivitas komunikasi antar budaya, baik dalam kondisi formal maupun non-formal, mungkin kita pun pernah mengalami mis-komunikasi serta mis-persepsi ketika sedang melakukan aktivitas interaksi dengan orang lain, baik itu kesalahpahaman dalam hal perbedaan makna verbal yang disampaikan maupun kesalahpahaman dalam memandang suatu nilai tata kehidupan.

Meskipun demikian kesalahpahaman antar budaya diatas sebenarnya dapat diatasi bila kita sedikitnya mengetahui bahasa serta perilaku budaya lain, mengetahui prinsip-prinsip berkomunikasi antar budaya serta mempraktekannya dalam komunikasi antar budaya. Pendek kata kita harus menjadi manusia antar budaya yang mampu melakukan komunikasi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda tanpa harus mengalami kesalahapahaman dalam mempersepsi pesan yang disampaikan.

Dewasa ini kebutuhan untuk mempelajari komunikasi antar budaya semakin penting karena semakin banyak orang-orang yang datang ke kota, sehingga komunikasi antar budaya ini akan lebih sering terjadi di daerah perkotaan. Oleh karena itu menjadi manusia antar budaya merupakan hal yang tepat untuk menciptakan sebuah interaksi yang harmonis, meskipun menjadi manusia antar budaya bukanlah suatu status melainkan suatu proses menjadi, ia bukanlah suatu keadaan melainkan suatu pencarian, namun menjadi manusia antar budaya mampu merubah pandangan kita tentang hakikat perbedaan sebagai sebuah nuansa keindahan.

publish : abah.akuy’o9

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

One Response to “Menjadi Manusia Antar Budaya”

  1. makasih atas ilmu yang sudah diberikan, soale saya sedang buat tugas ne komunikasi antar budaya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: