Malam itu Hujan Deras Mengguyur

malam-itu-hujan-deras-mengguyurLOKALISASI itu tampak semarak oleh peluh berseliweran, lampu-lampu tempel, cahaya bohlam, dan sinaran petromak memancarkan nuansa remang-remang. Senja tadi hujan begitu deras mengguyur, seakan ingin membersihkan tanahnya dari noda-noda nista dan dusta yang selalu menjadi rutinitas yang terlegalitas. Jalanan yang hanya berlapis aspal kelas rendahan digenangi air hujan; becek dan tampak menjijikkan.

Menjijikkan! Hm, mungkin kata itu sebuah pengejekan bagi tempat tersebut, tapi kenapa banyak orang yang doyan dengan sesuatu yang menjijikkan? Bukankah kata itu selalu identik dengan segala hal yang berbau kotor, rendahan, hina dina bahkan sebentuk kenistaan? Entahlah. Namun sepertinya kata menjijikkan tidak tepat dipadankan dengan lokalisasi itu, meskipun keadaannya nyata menjijikkan.

Baiklah, diganti saja dengan kata kenikmatan. Lokalisasi itu sebuah tempat kenikmatan! Ahaa.. mungkin itu kata yang tepat, dan memang banyak sekali para penikmat mendatangi tempat itu, mulai dari perginya sang mentari sampai datangnya kembali, lokalisasi itu selalu hingar bingar, suasananya tak pernah sepi apalagi sunyi.

Pondokan-pondokan sederhana yang berjajar rapi itu selalu tampak ramai setiap malam, Perempuan-perempuan cantik selalu menghiasi teras-terasnya sambil mengobrol entah apa.

Pakaian mereka mengundang selera, minim dan ber make up tebal, bahkan ada yang sangat tebal dan terlalu tebal; seperti pemain lenong saja. Padahal mereka tidak hendak pergi beranjak, hanya duduk dan duduk saja di situ.

Alunan musik mendayu sayu, sinaran cahaya remang-remang, entah disengaja atau memang begitu adanya menambah nuansa tersendiri bagi komplek lokalisasi itu.

Aku pernah dekat dengan salah seorang penghuni pondokan di lokalisasi itu. Namanya Sari, meskipun itu lima tahun yang lalu, tapi wajahnya tak akan pernah lekang dari ingatan, kulitnya kuning langsat, tubuhnya sintal namun membentuk aduhai, dan tentu saja parasnya sungguh sedap dipandang. Aneh juga dia bisa menjadi salah seorang penghuni komplek pembuangan berahi tersebut.

Waktu itu pertemuanku dengannya adalah sebuah pertemuan sporadis, tidak terduga dan sekonyong-konyong. Terjadi lima tahun silam disuatu petang yang membingungkan. Saat itu aku sedang kelimpungan mencari tempat kontrakan untuk kutinggali. Maklum, mahasiswa baru yang hendak belajar berdikari meniti hari. Langkah tak tentu arah itu terus saja aku lajukan, hingga tertahan di depan sebuah warung kopi.

“Mampir dulu mas!” aku tersontak dengan sapa itu, suara lembut namun menggoda. Seorang perempuan muda sedang duduk selonjoran di bale-bale warung kopi.

“Ngopi dulu mas,” katanya lagi sambil melambaikan tangan. Aku pun tergerak menghampirinya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

“Kayak yang bingung, mau cari hiburan tapi malu yah?” sambutnya sedikit menggoda.

“Bukan mbak, aku lagi cari kontrakan,” kataku terus terang.

“Ooh, duduk dulu lah,” pintanya.

“Makasih,” kataku sembari duduk di sampingnya.

“Situ mahasiswa?” tebaknya.

“Baru mau akan,” jawabku sekenanya.

“Kalo di tempat ini nggak ada kontrakan buat mahasiswa,” ujarnya seraya mengambil sebatang rokok putih menthol dari bungkusnya yang sedari tadi tergeletak di sampingnya, “Tapi kalau mahasiswa yang datang kemari sih banyak,” katanya lagi sambil menyalakan rokok tersebut.

“Maksud mbak?” dahiku mengernyit.

“Biasalah, cari-cari hiburan, mungkin kecapean habis kuliah seharian,” ucapannya diiringi kepulan asap yang keluar dari bibir bergincunya.

Aku cuma mengangguk-angguk namun tak tahu apa yang harus ditanggapi, lagipula aku tidak paham maksud dari ucapannya itu.

“Apa nggak mau cari hiburan dulu, mumpung calonya belum rame lho mas,” bujuknya lagi.

“Wah, boro-boro cari hiburan, nyari kontrakan aja susahnya minta ampun mbak,” kataku menggerutui diri.

Bibirnya maju ke depan; kecut, “Ya sudah, di seberang sana banyak tempat kontrakan mahasiswa, kali aja masih ada yang kosong,”

“Wah kebetulan sekali, makasih yah mbak,”

“Bener nih nggak mau nyari hiburan dulu,”

“Lain waktu aja deh mbak, saya mau cek ke sana dulu yah,” ucapku sembari beranjak meninggalkannya.

Dia pun menganggukkan kepalanya, kemudian tenggelam sendiri dengan rokok menthol nya.

* * *

Alhasil aku pun tinggal di tempat yang diberitahu perempuan itu. Setelah seminggu tinggal aku baru tahu rupanya petang itu aku masuk komplek prostitusi. Setiap hari, saat pergi kuliah aku selalu bertemu dengannya dimulut gang. Maklum, tempat kontrakanku dengan lokalisasi itu berseberangan letaknya.

Aku selalu menyapanya walau hanya dengan sesungging senyuman, dia pun dengan ramah membalasnya. Merengek hatiku untuk mengenal lebih detail tentang dirinya. Ternyata umurnya lebih tua lima tahun dari umurku yang baru 20 tahun.

“Kuliah mas?” sapanya disuatu pagi.

“Iya mbak, biasalah kalo mahasiswa baru masih rajin-rajinnya, kagak tau deh kalo udah lamaan dikit, lagian males banget kalo kuliah pagi itu, musti bangun subuh, wuih mana dingin lagi,” kataku setengah curhat.

“Ya iyalah, kalo di tempat situ emang dingin, tapi coba deh nginep sini, angeeet banget,” selorohnya.

“Ah si mbak, pagi-pagi udah ngomong yang anget-anget,”

“Yaah namanya juga pagi, dingiiin, jadi butuh yang anget-anget deh,” guyonnya, “Eh, jangan panggil mbak dong, kesannya gimana gitu, panggil aja Sari, biar lebih akrab,”

“Situ juga jangan panggil aku mas, aku kan ora wong jowo toh. Nama saya Agah,”

“Sari,” ucapnya sambil menghampiri uluran tanganku. Kami pun lantas berjabat tangan.

“Mari mbak.., eh Sari, saya kuliah dulu,” pamitku.

“Hati-hati yah, Sari doain biar cepat wisuda,”

“Ha..ha..ha.., baru aja jadi mahasiswa ngedoainnya udah jauh gitu, tapi aminlah,” kataku sambil meninggalkannya.

Hari berganti, minggu demi minggu berlalu dan bulanpun terus berjalan. Dari sekedar senyuman, tegur sapa, basa basi, sampai akhirnya kami menjadi amat dekat. Malam demi malam selalu kami lewati dengan obrolan dan perbincangan yang seru dan menyegarkan.

Meskipun dia seorang pelacur, tapi setiap yang keluar dari mulutnya selalu yang baik, tak pernah dia menyuruhku untuk berbuat yang tidak-tidak. Kecuali melacur, itu pengecualian baginya.

Hampir setiap malam aku selalu menghabiskan waktu di tempatnya, itu pun kalau dia lagi tidak ada tamu yang ngajak kencan, kadang aku sampai gadang di pondoknya untuk sekedar cerita ngalor ngidul.

Begitupun dengannya, sering berkunjung ke kontrakanku, sekedar menengok, bahkan kerap membawakan nasi rantangan untuk sarapan atau makan siangku.

Meskipun cuma tahun pertama aku tingal di sana, namun perkenalanku dengannya membawa kesan mendalam dan tidak pernah terlupakan. Dimata para pelanggannya dia mungkin hanyalah sepotong tubuh yang menggiurkan, namun bagiku, Sari adalah perempuan yang masih punya aura.

* * *

Tak disadari bayangan lima tahun itu membuatku terpaku di depan lokalisasi ini. Hingga sebuah bentakan klakson mobil dari belakang membuyarkan semuanya. Aku melihat sekeliling, tak ada yang berubah, meskipun sang waktu telah menggelinding selama lima tahun lamanya.

Jalan yang bolong-bolong dan becek kalau turun hujan, sinaran lampu petromak yang memancarkan cahaya remang-remang, bilik-bilik kios dan juga pondokan-pondokan itu; heran, tak ada sedikitpun yang berubah.

Keadaan seperti itu semakin kentara saja seakan aku kembali pada lima tahun yang silam. Seorang mahasiswa yang nyasar masuk komplek lokalisasi berahi, seorang lelaki yang berteman akrab dengan salah seorang penghuni pondokan, dan seorang jejaka yang jatuh cinta pada lonte kelas ekonomi.

Lima tahun itu. Ah, rasanya seperti kemarin kalau melihat kondisi seperti ini, sebuah lokalisasi kumuh yang selalu hingar bingar setiap malam oleh peluh yang bercucuran dan lenguhan-lenguhan tertahan dari balik pondokan.

Celingak celinguk aku mencari sebuah pondokan. Huuufh, aku menarik napas, lantas mendengus. Teringat malam itu, saat aku bertandang ke pondokan Sari, dan tak jadi pulang ke kontrakan karena hujan turun begitu lebatnya. Hingga aku terpaksa dan dipaksa untuk menginap di pondokannya.

Waktu itu malam terasa begitu sangat panjang dan mata ini seakan sukar untuk dipejamkan. Hawa dingin di luar pondokan lama-lama menembus celah dinding papan kamar, membuat badan kami menggigil butuh kehangatan.

Ah! Andai saja saat itu tersedia secangkir kopi panas atau sekedar segelas bandrek susu, mungkin badan kami takkan dihangatkan oleh peluh dan lenguhan Sari yang tertahan. Sekali lagi, andai malam itu tersedia secangkir kopi panas atau sekedar segelas bandrek susu!

Sedikit ragu aku menghampiri sebuah pondokan. Belum juga aku masuki halaman kecilnya, kedatanganku langsung disambut sapa dari seorang anak kecil.

“Celamat malam om!” sambut anak kecil itu dengan logat cadelnya.

Aku bukannya membalas, malah sekejap terkesiap. Pikirku, kenapa ada anak kecil di tempat seperti ini? Belum hilang heranku, tiba-tiba terdengar suara dari arah pondokan.

“Cari siapa mas?” seorang wanita muda menyembul dari balik jendela.

“Mau ketemu Sari,” ucapku setengah teriak.

“Lagi beli rokok ke warung, tunggu aja,” ujarnya lantas menghilang dari balik jendela.

Tak berapa lama perempuan itu muncul dari balik pintu lantas menghampiriku, “Kenalkan, Marni!” ucapnya.

“Agah!” aku menyebut nama.

Kami pun saling berjabat tangan, sementara anak kecil yang menyambutku tadi berlari masuk ke dalam pondokan.

“Anak siapa?”

“Anak Sari,” ujarnya datar.

“Oh, Sari punya anak toh,” suaraku sedikit terjaga.

“Ya iya lah, perempuan punya anak kan biasa,”

“Tapi kan..”

“Heh mas, nggak semua pil anti hamil itu manjur, adakalanya kita suka salah itungan. Lagian kata Sari, dia senang kok punya anak dari laki-laki yang dicintainya,” potong Marni seakan bisa membaca apa yang ada dipikiranku.

“Suaminya maksud mbak,” tebakku.

“Bukan..”

“Pacarnya,”

“Juga bukan..”

“Atau langganannya,”

“Nggak juga..”

“Lantas siapa?” desakku penasaran.

“Ya nggak tau, lha orangnya pun nggak aku kenal,” ucap Marni rada sewot.

“Nah, itu dia,” telunjuk Marni mengarah pada seseorang yang sedang berjalan menghampiri. Aku menoleh ke belakang, seorang perempuan tampak sedang berjalan mendekatiku.

“Sar, ada yang nyari nih,” sambut Marni sambil melirikku.

“Siapa?” ucap Sari sembari mendekat.

Aku hanya memandanginya. Sari kah? Inikah perempuan yang lupa menyuguhkan secangkir kopi panas atau sekedar segelas bandrek susu saat aku mengunjungi pondokannya pada suatu malam lima tahun yang silam itu.

“Hei, udah ketemu malah bengong,” Marni menepuk pundakku.

Aku terperanjat, namun mataku tak lepas dari wajah perempuan yang kini berdiri di depanku.

“Mau ketemu saya,” kalimat Sari kali ini ditujukan padaku.

“Sssari..” aku terbata menyebut namanya.

“Iya, mas siapa yah?” ucapnya datar.

“Kamu berubah,”

“Berubah apanya?”

“Agak kurusan dan tambah cantik,” pujiku.

Sari tersipu, pipinya tampak merona merah disorot lampu bohlam.

“Maaf, mas siapa yah?”

“Kamu udah lupa rupanya,”

“Hmm, siapa yah?” matanya menerawang sejenak.

“Agah..” ucapku menyebut nama.

“Agah..! Ya Tuhan, bener kamu Agah,” mulutnya tak disadari menganga.

“Iya, aku Agah, ingat nggak?” tegasku.

“Ya ampun, Agah, mana mungkin lupa. Maaf, pangling, habis sekarang udah jenggotan?”

Aku cuma tertawa kecil melihat keheranannya, “Apa kabar Sari?” aku menyalami tangannya erat.

“Baik, eh, mm, sebentar yah..” ujar Sari lantas berteriak memanggil sebuah nama, yang dipanggil tampak keluar dari dalam pondokan; anak kecil itu.

“Riki, salam sama ayah,”

“Ayah..?” kalimat yang meluncur dari mulut Sari membuatku melongo bego.

Anak kecil itu seakan tak mempedulikan tampang begoku, acuh saja dia menarik tanganku lantas menciumnya. Marni lebih bego dariku dengan tampangnya yang begitu tablo.

Mulutku serasa membeku, coba aku pejamkan mata sebentar, namun tetap saja yang aku lihat sama; Sari, Marni dan anak kecil itu. Sari begitu dalam menatapku, lama sekali dia memandangi wajahku, selama waktu yang telah bergulir selama lima tahun.

Malam sudah menghitam, komplek lokalisasi perlahan semarak oleh orang-orang. Alunan musik mendayu-dayu dari dalam warung-warung yang berjajar rapi itu sayup mulai terdengar. Sinaran petromak dan lampu-lampu bohlam mulai dinyalakan, dalam sekejap semaraklah komplek lokalisasi itu menyambut malam.

Kami berempat masih terpaku di halaman pondokan itu. Aku melirik arlojiku, jarum jam sedang menuding angka delapan, tak kurang pun tak lebih, aku harus segera pulang, anak istriku pasti sedang resah menantiku di rumah 

Taman Sari, Bandung 28 Des’04

~ oleh secangkirkopipagi pada Januari 19, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.