Ketika Guru Menyuruh Muridnya Membeli Rokok?

SEBAGAI seorang guru terkadang kita dibuat jengah oleh ulah kenakalan anak didik kita, mulai dari kenakalan khas anak kecil; mencontek, kenakalan yang toleran; membolos, sampai kepada kenakalan yang masuk tindakan kriminal; tawuran, bahkan tindak kenakalan asusila; cabul. Selain itu, anak didik kita pun terkadang bersikap layaknya orang dewasa, semisal merokok dan pacaran.

Kita pun bereaksi dalam mensikapi kenakalan anak didik kita itu, mulai dari memarahi, membentak, menghukum secara administrasi sampai dengan memberikan hukuman fisik.

Padahal, kalau ditelisik dan ditilik, kenakalan anak didik tidak terlepas dari peran kita dalam mendidik mereka. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada mereka atas kenakalannnya itu. Pasalnya, terkadang kita tidak sadar telah memberikan contoh buruk terhadap perkembangan anak didik kita. Ambil contoh, sebagai seorang guru, dengan tegas kita melarang anak didik untuk tidak coba-coba merokok. Namun tanpa disadari, saat jeda istirahat, kita malah menyuruh salah satu di antara mereka untuk membeli rokok ke warung atau kantin sekolah.

Inilah bibit awal buruk perkembangan mereka. Karena dalam kerangka berfikir (frame of reference) dan kerangka pengalaman (frame of experience) nya terbentuk sikap bahwa merokok, sekarang atau nanti sama saja. Maka jadilah kita jumpai anak-anak berseragam sekolah begitu cuek nya merokok di pinggir-pingir jalan sebelum dan setelah bubaran sekolah.

Sejatinya, mendidik anak tak ubahnya seperti merangkai pohon bonsai. Pohon beringin yang tinggi, kokoh dan berbatang besar mampu menjadi pohon mungil yang penuh nilai-nilai estetika, karena sedari awal tumbuh kita reka menjadi bonsai.

Begitupun halnya dengan mendidik anak, membentuk kepribadian anak dengan segala sesuatu yang positif sedari dini akan menjadikan ia sebagai individu yang positif pula kelak. Pun sebaliknya, jika nilai negatif yang ditanam, maka jangan salahkan dia kalau kelak ia akan menjadi berandalan bahkan sampah masyarakat.

Karenanya, guru sebagai insan pendidik, selain dituntut memberikan pemenuhan kognitif dan konatif anak didik, juga harus mampu memberikan afektif kepada anak. Pengetahuan tidaklah cukup untuk membentuk dia menjadi insan yang berguna. Moralitas adalah yang utama. Tanpa moral yang baik, pengetahuan sebanyak apapun akan disalahgunakannya.

Karenanya, pendidikan agama yang diajarkan di sekolah harus mampu menyentuh titik sentral dari moral anak didik. Pendidikan agama yang diajarkan kepada anak didik jangan sebatas pada nilai atau angka, hafalan ayat, sejarah dan sebagainya. Namun selayaknya harus berorientasi pada ajaran-ajaran yang bersifat akhlak dan budi pekerti.

Namun, memberikan pendidikan moral dan agama kepada anak didik tidak hanya sebatas dilakukan oleh guru agama. Guru lain pun punya kewajiban sama kendati dalam proporsi yang berbeda. Bahkan, seorang guru olahraga harus pula menyampaikan pendidikan moral, seperti menanamkan semangat sportivitas pada diri anak didik.

Sebagai seorang guru kita patut tahu bahwasannya anak didik kita sekarang menghadapi dunia berbeda. Karenanya, kita tidak bisa tenang-tenang saja dalam mensikapi dan memahami perubahan yang terjadi. Persaingan masa dulu tidak seketat sekarang, ancaman dari luar tidak sedahsyat sekarang. Sikap guru mesti berubah.

Pendidikan dewasa ini, disadari atau tidak mengalami distorsi yang sangat mengkhawatirkan. Di satu sisi kita telah membuat kurikulum yang menurut pemikiran kita sangat diharapkan memiliki kehandalan dalam peningkatan intelektualitas. Namun di sisi lain, perilaku anak didik kita pada umumnya mengalami hal yang tidak menggembirakan dimana secara moralitas kita mengalami kegagalan di dalam mendidik anak didik kita.

Karenanya, selain bertindak sebagai transformer ilmu pengetahuan, seorang guru juga memiliki tugas di bidang kemanusiaan dimana ia harus mampu memposisikan dirinya sebagai orangtua kedua bagi peserta didiknya. Dengan demikian, Ia harus mampu menarik simpati dan menjadi idola para anak didiknya.

Segala apa yang diberikan atau disampaikannya hendaklah dapat memotivasi kehidupan anak didik terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik dan tidak simpatik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri anak didiknya.

Pada hakekatnya, seorang guru adalah posisi yang sangat strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh pihak manapun. Bahkan, potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang, dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat saat ini, semoga.

Penulis : Firman Taqur

Sumber : Dokumen Pribadi

Tahun : 2007

~ by secangkirkopipagi on August 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: