Mampukah Guru Menjadi Suri Teladan?

DI ANTARA tugas yang membebani guru, satu di antara tugas yang paling urgens dan fundamentalistik adalah sebagai pemberi teladan. Ia harus mampu menjadi contoh bagi anak didiknya serta bagi siapa saja yang menganggap ia seorang guru. Adanya tugas ini, yakni sebagai suri teladan, banyak guru yang menjadi gundah karenanya. Mereka mengira, sebagai insan teladan ia harus menjelma menjadi contoh dan panutan orang lain. Karenanya mereka tidak merasa tidak layak untuk diteladani. Akibatnya, mereka pun berupaya agar dapat terbebaskan dari beban beratnya sebagai teladan bagi orang lain tersebut.

Reaksi ini dapat dimaklumi, tetapi ini berarti suatu penyangkalan atas segi yang penting dari “mengajar dan belajar”. Pemikiran utama dari bagian ini adalah, menjadi seorang suri teladan merupakan bagian dari pengajaran dan bahwa tak ada seorang guru pun yang dapat menghindarinya.

Lagipula peran guru sebagai teladan sangat mendukung proses bimbingan bagi peserta didiknya, dan bimbingan itu sendiri merupakan suatu upaya untuk membantu para siswa dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah.

Di samping itu, bimbingan tersebut juga dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yakni hidup selaras dalam pengayaan ilmu pengetahuan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan lebih jauh lagi, akan terjadi perubahan hidup anak didik, yang direpresentasikan dalam sikap dan mental dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya membantu anak didik dalam mencapai tujuan luhur tersebut tidak dapat diremehkan oleh guru sebagai pengajar, mengingat anak didik pun memiliki serta mengalami masalah, baik di rumah maupun di sekolah.

Masalah itu dapat berupa tekanan dari orang tua yang menuntut anaknya untuk bersikap baik dan sopan, sementara pihak orang tua tidak mengajarkan atau memberi contoh bagaimana seharusnya bersikap baik dan sopan. Bahkan ada orang tua yang membiarkan begitu saja sehingga tidak ada perhatian dari pihak orang tua. Orang tua terlalu sibuk sehingga tidak tersisa waktu untuk membantu anaknya menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Jika anak berada dalam kondisi fsikis demikian, maka disinilah guru harus mengambil peran sebagai “orang tua” ia harus mampu memberikan contoh apa yang tidak dicontohkan orangtuanya. Karena, jika guru tidak mampu memposisikan demikian, maka anak akan kehilangan pegangan, ia akan mencari figur, dan lingkungan tempatnya bermainlah yang akan ia pilih sebagai setter.

Oleh karena itu, seorang guru harus peka dan bersikap terbuka untuk menolong dan membimbing penyelesaian masalah anak didiknya. Pulias dan Young dalam bukunya “Guru Makhluk Serba Bisa” menegaskan, seorang guru hendaklah mengenal murid- muridnya sedalam-dalamnya.

Pengenalan yang dalam ini meliputi pengenalan akan kemampuan mereka, sampai sejauh mana tingkat kemampuan anak didik yang satu dengan anak didik lainnya. Hal lain yang perlu dikenal oleh guru sebagai pembimbing adalah tingkat perkembangan yang sesuai dengan tingkat usia murid, juga kelemahan-kelemahan serta minat khusus murid. Semakin dalam guru mengenal muridnya, semakin mampu pula ia membimbing mereka. Dengan demikian, ia akan mampu mengaitkan pengetahuan mata pelajaran yang diajarkannya dengan keperluan dan minat khusus murid-muridnya.

Karena itu, sebagai pembimbing sekaligus teladan bagi anak didiknya, guru harus mampu memberikan penilaian (evaluasi) terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakannya. Hal ini perlu dan sangat berarti, baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri. Karena hanya dengan evaluasi, seorang siswa dapat mengetahui sejauh mana ia berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Jika hasilnya memuaskan dan menyenangkan, tentu ia ingin memperolehnya lagi pada kesempatan lain. Akibatnya, motivasi siswa untuk belajar akan semakin besar.

Namun, keadaan sebaliknya juga dapat terjadi. Seorang siswa yang sudah merasa puas dengan hasil yang diterima bisa saja mengendurkan kegigihannya. Kemungkinan lainnya ialah jika hasil yang diperoleh belum memuaskan, siswa akan terdorong untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan, meskipun penilaian ini bisa saja menimbulkan keputusasaan.

Dengan evaluasi, guru dapat mengetahui siswa-siswa yang sudah berhasil maupun yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan mengetahui hal itu, ia dapat memusatkan perhatian untuk menolong siswa yang belum berhasil.

Dengan evaluasi, guru juga dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan dan metode yang digunakannya sudah tepat atau belum. Selain itu, evaluasi juga berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana suatu program belajar mengajar berhasil diterapkan serta sampai sejauh mana tujuan sudah tercapai sehingga guru dapat merencanakan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu.

Peran guru sebagai pembimbing ini tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Karena, salah satu ciri anak didik pada usia remaja adalah keadaan mereka yang labil dan mudah terombang-ambing. Mereka berada dalam masa pencarian identitas diri. Untuk mendapatkannya, mereka mencari orang yang dipandang layak untuk dijadikan “pahlawan/idola”. Jika seseorang atau sekelompok orang yang dijadikan pahlawan itu berada pada sisi yang salah/tidak benar, remaja atau kelompok remaja itu pun akan terbawa-bawa dalam hal yang buruk.

Menghadapi situasi seperti ini, guru dituntut untuk hidup selaras/sepadan dengan apa yang diajarkan dan dinasihatkannya, ia harus berupaya memberikan pengajaran yang benar dan jujur. Ia harus menyediakan dirinya untuk menjadi contoh, teladan, serta panutan bagi anak didiknya.

Sejatinya, guru adalah penuntun dan penunjuk arah kepada tujuan yang belum diketahui anak didik. Agar tuntunan dan petunjuknya dapat dipercaya, anak didik harus lebih dahulu melihat kehidupan dan teladan guru tersebut, apakah guru dapat dijadikan contoh atau teladan. Setelah mereka melihat dan percaya, barulah guru dapat menjadi penunjuk jalan dan bukan hanya sebagai rambu lalu lintas. Rambu lalu lintas hanya menunjukkan jalan, tetapi tidak dapat pergi sendiri, sedangkan seorang penunjuk jalan berjalan di depan mereka yang hendak diantarnya.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on August 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: