Menumbuhkan Budaya Menulis Guru

SEORANG pakar ilmu komunikasi dari Amerika –namanya lupa– pernah memberikan tips singkat mengenai kiat menjadi seorang yang terkenal dan dikenal. Ia berujar, menulislah, atau berbuatlah sesuatu yang mendorong orang untuk menuliskannya ….”. Demikian pula yang dikatakan seorang pakar serupa lainnya, Dylan Thomas, “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan,”

Demikian kiat singkat dari kedua pakar tadi. Boleh percaya atau tidak, namun tanpa kita sadari kita mengenal seorang tokoh terkadang dari tulisannnya pertama kali. Mungkin kita akrab dengan Koentjaraningrat, ahli sosiologi yang bukunya kerap menjadi referensi pembelajaran. Juga ada Anand Krishna, Arswendo Atmowiloto, Asma Nadia atau Farid Gaban, dimana kita mengenal mereka bukan karena sosok pribadinya namun karena tulisan-tulisan mereka yang kerap kita temui disejumlah media atau terbitan buku. Itulah mengapa, dengan menulis, kita akan dikenal banyak orang.

Menulis, memang suatu aktivitas yang tak asing bahkan kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas hidup keseharian hampir setiap orang. Namun terkadang, kendati telah menjadi aktivitas keseharian yang familier, namun nyata-nyatanya menulis ternyata gampang sekaligus susah. Terlebih jika kita menulis tentang apa yang kita pikirkan, menulis ide, menulis gagasan, menulis opini, atau menulis isi hati.

Menulis adalah kata hati, menulis adalah ekspresi diri yang sejujur-jujurnya, begitulah kata sang pujangga. Dengan menulis, jiwa-jwa yang terpenjara dilema seakan terbebaskan. Menulis pun tak ubahnya orgasme pikiran dan ejakulasi ide dan gagasan, dimana saat hasrat tersalurkan, dan setelah itu lega jadinya. Terkadang, suatu problematika akan terselesaikan dengan sendirinya, pabila masalah tersebut dibuncahkan ke dalam kata-kata.

Lantas, adakah korelasi sinergis antara menulis dengan eksistensi kita sebagai seorang pendidik (guru) yang nota bene lebih banyak menggunakan aktivitas verbal ketimbang tulisan? Jika mengajar adalah tugas mulia, menulis tentu jauh lebih mulia, karena menulis adalah menyebarkan ilmu. Tulisan, apapun itu bentuknya, baik artikel ringkas maupun buku adalah warisan guru yang paling berharga.

Lewat tulisanlah guru dapat mengajar orang yang membaca tulisannya, bukan hanya mengajar murid-murid yang ada dikelasnya, tetapi semua orang, setiap orang yang membaca karya tulisnya, dan ajarannya akan tetap “abadi” sepanjang masa selama tulisan itu masih ada.

Namun, kendati kelihatanya mudah, namun seorang guru terkadang kerap tak ada waktu untuk meluangkan dirinya menulis saking sibuk dengan aktivitas verbalnya dalam memberikan ajaran kepada anak didik. Kendati begitu, semoga saja kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk tidak mulai belajar menulis. Pasalnya, di era jaman yang semakin kompetitif ini, seorang guru dituntut untuk multi talent, yakni memiliki sejumlah kemampuan yang nantinya akan ditransformasikan kepada anak didiknya.

Banyak cara yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas diri agar menajdi seorang guru yang multi talenta, salah satunya dengan menulis, karena aktivitas ini merupakan sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan dirinya. Di samping itu, menulis, apapun itu bentuknya, apalagi yang berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran merupakan bagian pokok dari tugas seorang guru untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun, terkadang kita sudah menyerah sebelum start, dimana kita bingung untuk menulis apa yang harus ditulis. Jika sudah begitu, kita pun akan meletakkan pulpen kembali dan melipat kertas lagi –kita pun urung menulis–.

Inilah kondisi krusial yang kerap kita hadapi saat hendak memulai untuk menulis. Di samping itu, minimnya perbendaharaan kata menjadikan kita menjadi tidak percaya diri untuk menuangkan gagasan kita ke dalam bentuk tulisan, apalagi dibaca oleh orang lain. Kalau sudah diliputi perasaan demikian, maka semakin jauhlah kita dari keinginan untuk menulis. Padahal, di pihak lain, kita kerap dijadikan obyek tulisan. Selama ini banyak orang yang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan atau bahan tulisan. Bahkan, tak sedikit kita menjadi sasaran untuk dikritik habis-habisan lewat tulisan mengenai profesi ke-guru-an kita yang semakin termarginalkan.

Tapi, ada juga orang yang mau mengangkat nasib guru berikut problematika di dalamnya lewat tulisan. Namun sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru tersebut kebanyakan tidak ditulis oleh insan guru itu sendiri. Padahal, kalau semua sisi hidup dan kehidupan guru ditulis oleh guru itu sendiri, maka penulisannya akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.

Saatnya kini, guru tak lagi harus terhambat dalam mengekpresikan dirinya. Melalui tulisan, saatnya kita mengekspresikan diri sebebasnya tanpa batas, karena hanya lewat tulisanlah kita bebas mengekspresikan apa yang ada di alam pikiran ini, bebas mengemukakan pendapat, dan bebas menyuarakan kata hati tanpa harus dibatasi kurikulum dan silabus-silabus pengajaran. Yang pada akhirnya, hanya lewat tulisanlah kita akan menjelma menjadi sosok guru yang benar-benar guru, bukan guru bagi siswa-siswa kita di kelas semata, namun guru bagi semua orang.

Karenanya, tak ada kata terlambat bagi kita sebagai guru untuk mulai mengembangkan kreativitas dalam menulis. Banyak jalan bagi kita untuk bisa menulis, karena kita sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Kita memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif. Lagipula merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi jikalau kita banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah tulisan, apapun itu bentuknya.

Nah, jikalau kita setuju bahwa dengan menulis dapat meningkatkan kualitas diri, maka saatnya bagi kita sekarang untuk kembali mengambil bullpen dan membuka lipatan kertas itu, kita rangkai kata demi kata di atasnya, kita menulis tentang apa yang ingin ditulis, sehingga dunia akan tahu akan kita dan apa yang kita pikirkan. Selamat menulis, selamat menyelam di lautan kata dan samudera bahasa …..

Penulis : Firman Taqur

Sumber : Dokumen Pribadi

Tahun : 2007

~ by secangkirkopipagi on August 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: