Pendidikan Anak, Islam Solusinya

ANAK adalah anugerah sekaligus titipan dari Allah SWT kepada hambanya. Kehadirannya dalam kehidupan sepasang suami istri (pasutri) laksana embun penyejuk yang menyeka setiap dahaga yang selama ini menganga.

Bagi sebagian orang, kehadiran sang anak merupakan wujud kesempurnaan seorang ibu atau bapak. Betapa tidak, kehadirannya akan memberikan kebanggaan tersendiri, apalagi ketika anak yang kita lahirkan berwujud fisik sempurna dengan paras yang cantik atau rupawan. Setiap orang yang melihat tentulah akan memuji karenanya.

Namun, pujian itu bukan untuk anak itu, melainkan untuk kedua orang tuanya, untuk kita. Jikalau sudah demikian, kita pun akan terpana bangga dibuatnya. Ekspresi kebanggaan asalkan tidak berubah menjadi takabur, adalah wajar sebagai reaksi emosional.

Kita pun akan menjelma lanksana anjing penjaga untuk anak kita, bahkan seekor nyamuk sekalipun akan kita kejar sampai dapat saat si binatang haus darah itu hinggap di kulit mulus anak kita saat ia terlelap dalam tidurnya. Sekali lagi, kehadiran sang anak telah menjadikan hidup kita menjadi manusia yang sempurna, bahkan sesempurna-sempurnanya.

Karenanya, tak heran, ketika ada sebagian orang (pasutri) yang susah mendapatkan anak, mereka akan berupaya sedemikian hingga agar bisa menjadi manusia sempurna. Segala cara ditempuhnya, mulai dari bayi tabung, terapis ginekologi, sampai dengan mengadopsi anak orang lain. Itu semua merupakan bukti bahwa kehadiran anak lebih berharga daripada emas permata.

Bahkan, sebagai wujud cinta kasih kita pada anak, kita akan memberikan apa saja yang di ingininya. Semasa balita, kita rela mengesampingkan belanja kebutuhan kita demi membeli popok atau sekaleng susu untuk sang anak. Saat ia menginjak belia, kita rela tabungan yang sudah kita kumpulkan bertahun-tahun dalam sekejap ludes demi menyekolahkan sang anak ke TK dan sekolah dasar (SD).

Saat menginjak remaja, kendati terpaksa, namun kita “gadaikan” juga SK kerja kita ke bank untuk meminjam sejumlah uang agar buah hati kita bisa terus mengenyam bangku sekolah. Dan, di saat anak kita tumbuh dewasa, dengan mudahnya kita jual mobil kesayangan kita demi sekedar melihat anak kita bersanding dipelaminan dengan pasangan pilihannya.

Seperti itulah kita mengiringi hidup dan kehidupan anak kita, penuh pengorbanan, dituntut kesabaran, dan diminta keikhlasan. Namun pabila anak kita membalasnya dengan budi pekerti dan senantisa menjaga kehormatan serta harga diri orang tuanya, maka kita pun rela untuk mengorbankan segalanya demi dia.

Setiap yang berjasa akan mendapat balasannya, pun halnya dengan kita, disaat kita berhasil membentuk anak-anak kita menjadi insan mulia yang senantiasa menjaga diri dan kehormatan keluarganya, maka di saat nyawa meregang dari raga, dan kita ditinggal sendirian dalam tanah gelap gulita, maka doa anak kitalah yang akan menjelma menjadi pelita.

Karenanya, untuk mencetak anak kita agar senantiasa ingat sama sang pemilik sesungguhnya, kita dituntut untuk memberikan asupan gizi imani dalam perjalanan hidup anak kita. Pendidikan yang kita berikan merupakan bahan bakar bagi anak kita untuk terus melecut menyambangi perjalanan hidupnya.

Mendidik anak merupakan hal yang sangat urgens dalam kehidupan kita sebagai orang tua. Bahkan, Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, kita banyak temui bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan nabi dalam mendidik anak secara langsung.

Dalam sebuah ayat-Nya, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Diikuti sebuah dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

Merujuk dalil-dalil di atas, jelaslah sudah bahwa pendidikan anak merupakan perkara yang penting yang harus dilakukan orang tua melalui ajaran-ajaran keislamanan yang menyeluruh.

Namun terkadang kita “salah” langkah dalam memberikan pendidikan kepada anak, dan celakanya lagi kesalahan kita itu dimulai saat anak masih berusia belia dan terus berlangsung tanpa kita sadari atas kekeliruan metode pendidikan itu tersebut.

Kesalahan dalam mendidik anak akan pada akhirnya akan berakibat fatal pada perkembangan jiwanya. Pasalnya, perlakuan orangtua memiliki pengaruh terhadap tumbuhnya kepercayaan diri anak. Bukannya anak makin percaya diri, namun ia malahan tumbuh menjadi anak yang minder dan penakut.

Beberapa kesalahan dalam mendidik anak mungkin bsia dijadikan bahan renungan bagi kita, seperti, 1) terlalu seringnya kita memanjakan anak; 2) mendidik melalui kekerasan dan ancaman seperti bentakan dan pukulan; 3) tidak mewujudkan suasana psikologis yang membuatnya nyaman saat dekat kita; serta 4) tidak memberikan keleluasaan kepada anak untuk berfikir dan bertindak.

Jikalau dari keempat perlakukan tersebut ada yang selama ini kita terapkan, maka bukanlah hal yang terlambat untuk memperbaikinya dan menggantinya dengan metode pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam. Karena, betapa tidak, ajaran Islam merupan salah satu dan satu-satunya ajaran agama yang paling lengkap dan sempurna. Melalui Rasulullah SAW, Allah SWT mengajarkan seluruh ilmu yang berkaitan dengan kehidupan di alam maya pada ini, termasuk ilmu mendidik anak. Hanya saja, kita mungkin kita kurang wawasan keislamannya sehingga membuat kita tidak mengetahui akan hal itu.

Muhammad Rasyid Dimas dalam bukunya yang berjudul, 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak menjelaskan, Rasulullah SAW menggunakan banyak cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak, antara lain :

Pertama, memperkuat kemauan anak. Dalam memperkuat kemauan anak beliau melakukannya dengan membiasakan menjaga rahasia dan puasa. Ketika anak belajar menjaga rahasia dan berupaya untuk tidak membocorkannya, maka kemauannya akan tumbuh, seiring rasa percaya dirinya yang tinggi.

Kedua, menumbuhkan kepercayaan sosial. Seorang anak yang sering diajak berinteraksi dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa maka akan tumbuh rasa kepercayaan dirinya. Ia tidak akan minder dalam bergaul dengan anak yang lebih muda, sebaya, atau dengan orangtua sekalipun kelak.

Ketiga, menumbuhkan kepercayaan ilmiah. Ajarkan anak kita tentang betapa hebatnya isi kandungan Al-Qur’an, sunnah, dan sirah (sejarah) Rasulullah SAW yang agung. Kelak saat ia tumbuh dewasa, ia akan menjelma menjadi kamus dan literarur serta eksiklopedia berjalan.

Keempat, menumbuhkan kepercayaan ekonomi dan bisnis. Untuk menumbuhkan kepercayaan bermuamalah dalam urusan ekonomi dan bisnis, biasakanlah anak berjual-beli. Ajarkan anak ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka. Kalau perlu, berikan kebebasan kepada mereka untuk memilih dan melakukan transaksi, insya Allah ia tidak akan asing lagi melakukan transaksi jual beli setelah dewasa nanti.

Namun yang terpenting dan terutama dalam memberikan pendidikan anak adalah menanamkan aqidah serta dasar-dasar ketauhidan sedari diri pada mereka, sehingga selama hidupnya ia akan selalu tahu siapa pemilik dia sesungguhnya, semoga.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on August 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: