Televisi Pendidikan, Sebuah Utopis

SEJATINYA, sebagai salah satu media massa dominan, televisi seyogyanya menjadi garda terdepan dalam upaya mencerdaskan bangsa. Betapa tidak, media elektronik ini memiliki efektivitas yang tinggi sebagai medium yang sangat ampuh (a powerful medium) menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas secara serempak, serta terbukti efektif dalam memberikan influence (pengaruh) terhadap khalayak banyak.

Dengan sifat jangkauannya yang luas yang mampu meniadakan batasan wilayah geografis, sistem politik, sosial, dan budaya masyarakat, keberadaannya telah memungkinkan kita dapat dengan cepat dan mudah mengetahui berbagai perkembangan mutakhir yang terjadi di berbagai penjuru dunia.

Namun, komunikasi tanpa batas yang disuguhkan televisi di samping memberikan manfaat informasi, edukasi dan hiburan itu ternyata telah banyak mengakibatkan pergeseran moral. Banyak tayangan televisi saat ini yang sudah kehilangan fungsinya, yang seharusnya memberikan hiburan untuk membangun ahklak serta sebagai pendukung moral malah sebaliknya, membodohi bahkan menyesatkan pola pikir.

Sebagai sebuah industri yang berorientasi profit, stasiun televisi kini menjelma menjadi sentra komersial nomor wahid. Acara-acara yang ditayangan merupakan acara “pilihan” dengan barometer rating dan share. Tak peduli acara tersebut mendidik atau merusak, yang penting bagi mereka –para stakeholder– adalah rating acara tetap tinggi sehingga akan berduyun-duyunlah para pemasang iklan untuk mempromosikan produk dagangannya lewat layar kaca si “kotak ajaib” itu.

Akibatnya, lagi-lagi dengan dalih rating, banyak sajian acara yang bagus dan mendidik namun urung ditayangkan karena tidak memiliki nilai jual tinggi. Kenyataan ini tentulah menyesakkan dada, namun begitulah cara kerja industri media kapitalis yang kini dijalankan oleh hamper seluruh stasiun televisi yang tayang di negeri ini.

Jadilah sekarang ini, masyarakat banyak disuguhi acara-acara yang mengesampingkan sisi moralitas, sanyak acara televisi yang sama sekali tidak menghargai kehidupan bermasyarakat dan beragama. Akibatnya, banyak di antara kita yang tidak lagi mengejar impian dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, namun sebaliknya, mengadopsi nilai-nilai yang menyimpang dari normatif, mengajarkan orang bagaimana berbuat licik, culas, serta berbohong.

Sejumlah tayangan bernuansa kekerasan, erotisme pun telah mempengaruhi jalan pikiran pemirsa, sehingga perilaku tersebut adalah bisa dan sesuatu yang normal untuk dilakukan. Hal yang lain yang sangat menyedihkan adalah maraknya tayangan film atau sinetron yang menggunakan kata-kata makian, hujatan, kebencian, serta kata-kata yang mengarah pada pelecehan seksual dan penghinaan gender.

Karenanya, tak lagi disangsikan, sejumlah acara di televisi sekarang ini banyak memberikan pengaruh negatif bagi pemirsanya, terlebih bagi perkembangan kepribadian generasi muda. Salah satu dampak maraknya siaran televisi yang tidak mendidik tersebut mengakibatkan banyak remaja menjadi dewasa belum waktunya. Tengok saja bagaimana seorang anak SD sudah mengenal pacaran, anak SMP sudah merasakan ciuman, dan siswa SMA sudah merasakan “gituan”.

Karena itulah, fungsi televisi sebagai medium edukasi (pendidikan) hanyalah sebuah utopis semata, sulit terwujud dan semakin jauh dari kenyataan yang ada, karena yang ada sekarang adalah, televisi –tanpa mengesampingkan fungsi informasinya– hadir sebagai alat penghibur semata.

Celakanya lagi, banyak siaran terutama sinetron (karena sekarang hampir 90% siaran televisi didominasi acara sinetron-red) yang bergenre remaja dengan setting bangku sekolahan, namun contain atau materi dari sinetron itu sendiri bukanlah bertutur tentang bagaimana upaya seorang siswa untuk menggapai prestasi belajarnya, atau kisah gigih seorang siswa miskin yang berjuang banting tulang mencari uang agar tidak sampai putus sekolah.

Namun itu semua tak ditemukan di sinteron tersebut, yang ada justru kisah tentang perjalanan seorang siswa yang berhasil memacari teman sekelasnya, atau kisah bagaimana seru dan panasnya atmosfir persaingan kedua siswi cantik dalam memperebutkan siswa ganteng yang jago basket di sekolahnya.

Kalau sudah demikian adanya, hikmah apa yang bisa diambil dari substansi sinetron itu? Nothing, alias tidak ada sama sekali, yang ada malah membodohi bahkan menyuruh siswa sekolah untuk lebih mementingkan pacaran ketimbang belajar

Ironisnya, kendati sudah jelas-jelas acaranya tersebut tidak mendidik, namun para insan pertelevisian, dalam hal ini para pemilik dan penanam modal seolah tutup mata dan tutup kuping dengan realitas tersebut. Sementara pemerintah, melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sampai saat ini belum begitu optimal menjalankan tugas dan fungsinya sebagai guiden tentang bagaimana cara memanfaatkan media dengan baik.

Pabila, televisi sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat –bahkan cenderung merusak pendidikan yang sudah diajarkan–, maka keberadaan para pendidiklah yang pad akhirnya menjadi tumpuan terakhir dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Pendidik, dalam hal ini guru ibarat kata pepatah ‘tak makan nangka, namun getahnya kena, dalam persoalan ini. Betapa tidak, banyak anak didiknya yang “dirusak” mentalitas serta dicuci otaknya oleh gaya hidup hedonis yang ditayangkan lewat siaran di televisi. Ada siswanya yang sudah berani melorotin celana rok siswi sekelasnya, karena hal itu biasa dan canda belaka sebagaimana ia lihat di tayangan sinetron di televisi. Bahkan, guru harus rela dan sabar menjadi muara atas sumpah serapah dan caci maki publik, saat salah seorang anak didiknya ketahuan berbuat cabul oleh khalayak.

Namun, bukanlah guru kalau tidak bisa menghadapi keadaan tersebut secara arif dan bijaksana, malah gencarnya bad influence terhadap anak didiknya menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan arahan dan didikan terhadap anak didiknya. Bahkan, guna mensikapi kondisi tersebut, seorang gurung harus tampil sebagai rival atas sejumlah siaran televisi yang tidak mendidik itu.

Pada kondisi inilah, eksistensi guru sebagai insan pendidik benar-benar diuji kredibilitasnya. Guru harus mampu menjadi “lembaga sensor” siaran televisi bagi anak didiknya. Ia harus mampu memberikan pemahaman yang proporsial mengenai siaran televisi. Karenanya, kemampuan menganalisis secara empati harus menjadi pijakan saat dia menjalankan fungsinya sebagai “filter” televisi itu. Dengan begitu, sajian acara yang ditonton anak didiknya tidak akan diterima begitu saja oleh karena, karena mereka mendapatkan pandangan dan kalau perlu “pelurusan” atas apa yang ditontonnya itu.

Dengan demikian, guru tak perlu menyuruh siswanya untuk tidak menonton televisi, karena walau bagaimanapun, kehadiran televisi juga telah mampu memberikan banyak ilmu dan pengetahuan pada masyarakat, tinggal bagaimana kita mensikapi dan memilahnya.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on August 8, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: