Guru Sebagai Motivator Akhlak

akhlakSEJATINYA, seorang guru harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of learning (agen pembelajaran), yakni sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Dalam mengemban tugasnya, setiap guru harus terpanggil untuk memainkan sejumlah peranan penting dalam menunaikan tugasnya. Setiap peran harus merupakan jawaban atas pemenuhan kebutuhan peserta didik. Kebutuhan yang dimaksud tentu saja bukan kebutuhan materi, tetapi kebutuhan dalam hal pendidikan dan hidup rohani mereka.

Dalam UU guru dan dosen No.14 Th. 2005 pun disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Bahkan dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Melalui topik “Guru sebagai motivator akhlak”, seorang guru, dalam hal ini guru agama tidak hanya dituntut harus mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Karenanya, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku (akhlak) siswa.

Guru sebagai motivator akhlak adalah yang bertugas memberikan dorongan atau stimulasi kepada siswanya untuk bersikap dan bertutur laku dengan baik mengenai perilaku dan kecerdasan pikiran, dalam hal ini budi pekerti atau akhlak.

Dengan demikian, seorang pendidik harus terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku siswa dalam upaya mendewasakan siswa melalui upaya pengajaran. Jadi, upaya mendewasakan siswa yang mencakup akhlak (moral) dan kecerdasan pikiran tidak sebatas dilakukan di dalam ruang kelas. Ini berarti bahwa seorang guru tetap bertanggung jawab menjalankan perannya walaupun di luar jam mengajarnya. Dia berperan dalam pengembangan budi pekerti atau perilaku anak didiknya; bukan hanya sekadar bertumpu pada pengalihan informasi.

Untuk menjalankan peranannya sebagai motivator akhlak dalam proses belajar- mengajar, seorang guru harus memberikan contoh-contoh penerapan praktis dan konkret kepada anak didiknya. Karenanya, sudah otomatis ia harus mampu menunjukkan akhlaknya yang positif agar dapat dituruti peserta didiknya. Bukan hanya sekedar sebagai transformer materi akhlak semata. Hal ini, dirasa lebih efektif dan akan menimbulkan efek kepada siswa ketimbang ia hanya “mahir” dalam memberikan segudang materi pembelajara akhlak.

Akhlak seorang guru dituntut menjadi suri teladan bagi peserta didiknya. Jangan sampai, guru yang menuntut siswanya untuk berakhlak mulia, namun akhlak pribadinya dalam keseharian masih harus dipertanyakan.

Salah satu penyebab kenapa pengajaran agama di sekolah tidak bisa memberikan efek behaviour (perilaku) bagi siswa semata-mata dikarenakan kita sebagai guru merasa sudah puas kalau sudah mengajarkan materi pelajaran agama sesuai kurikulum, dan peserta didik merasa sudah beragama dengan menghafal materi pelajaran agama. Semua pihak merasa puas dengan obyektifikasi agama dalam bentuk kurikulum dan nilai rapor. Padahal, mengikuti pelajaran agama tidak otomatis menghasilkan insan beragama. Insan beragama adalah pribadi yang mampu menghayati agama, menjadikannya takwa dan berakhlak mulia.

Karenanya, dalam perannya sebagai motivator akhlak, seorang guru harus mempunyai akhlak mulia. Akhlak mulia merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim dalam kehidupannya. Akhlak mulia seseorang akan tampak pada pola pikirnya (aqliyah) dan pola sikap atau tingkah lakunya (nafsiyah) yang distandarkan pada aqidah Islam.

Seorang guru dapat menerapkan prinsip-prinsip pembentukan dan pengembangan akhlak kepada siswanya sebagaimana yang pernah diterapkan Rasulullah Saw. Pertama, melakukan pengajaran aqidah dengan teknik yang sesuai dengan karakter aqidah Islam yang merupakan aqidah aqliyyah (aqidah yang muncul melalui proses perenungan pemikiran yang mendalam).

Kedua, mengajak siswa untuk selalu bertekad menstandarkan aqliyyah dan nafsiyyahnya pada aqidah Islam yang dimilikinya. Ketiga, mengembangkan aqliyyah Islamnya dengan tsaqofah Islam dan mengembangkan nafsiyyah Islamnya dengan dorongan untuk menjadi lebih bertaqwa, lebih dekat hubungannya dengan Pencipta-Nya, dari waktu ke waktu.

Namun, sebelum hal tersebut ditransformasikan kepada peserta didik, guru harus sanggup mengimplementasikannya terlebih dahulu, karena mengajar dengan perilaku lebih bernilai efektif ketimbang hanya sekedar retorika.

@firmantaqur’07

~ by secangkirkopipagi on August 14, 2008.

2 Responses to “Guru Sebagai Motivator Akhlak”

  1. Yang perlu dilakukan adalah Guru terlebih dahulu diberikan pembekalan akhlak, kemudian murid-muridnya. bagaimana mungkin memberikan contoh yang baik sementara guru sendiri tidak mencerminkan akhlak yang baik. Sepotong kayu yang berngkok tidak akan pernah memberikan cermin sebagai kayu yang lurus.

    • Sejutu pisan kang …. kan ada peribahasa guru kencing berdiri … murid kencing berlari, malah sekarang mungkin murid ngencingi guru …. ini menunjukkan jng mengahrapkan murid kita bener kalau guru tidak mau punya keinginan untuk “bener” terlebih dahulu … benre secara personal dan “bener” secara profesional …. bravo guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: