Guru Tak Sekedar Penyampai Ilmu

Jika anak hidup dalam celaan, ia akan belajar menyalahkan.

Jika anak terbiasa dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasib.

Namun,

Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar.

Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa menghargai.

Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.

SALAH satu penggalan dari ungkapan Dorothy Low Nolte dalam bukunya Children Learn What They Live With tersebut seolah hendak memberikan gambaran bahwa perkembangan kepribadian anak akan tumbuh sebagaimana lingkungan mengajarinya. Dalam artian, pabila anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat baik, maka ia pun akan terbiasa untuk selalu berbuat kebajikan. Namun, sebaliknya, jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan, dan penuh kebohongan, maka ia akan tumbuh dan menjelma menjadi pelaku kekerasan dan kejahatan yang baru.

Bagi seorang guru, tentu saja kondisi tersebut menjadi beban tersendiri. Betapa tidak, selain dituntut untuk cakap dan kredibel sebagai penyampai ilmu pengetahuan (pelajaran), ia pun dituntut untuk mampu berperan layaknya ibu bagi anak didiknya.

Karenanya, sebagai insan pendidik, guru memiliki tanggung jawab untuk meng-create atau menciptakan lingkungan yang kondusif dan positif bagi perkembangan kepribadian para anak didiknya.

Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah dengan memberikan keteladanan yang baik bagi anak didiknya. Karena, memori anak didik akan mampu menyimpan puluhan tahun lamanya ketika gurunya mampu memberikan suri teladan dan menjadi panutannya dalam bersikap dan berlaku ucap. Keteladanan dalam lingkungan pendidikan merupakan sarana yang paling efektif dan berpengaruh guna membentuk kepribadian positif anak didik.

Keteladan yang ditampakkan seorang guru akan memberikan dampak besar bagi pembentukan kepribadian anak didik selanjutnya, karena anak didik merupakan insan yang paling senang meniru dimana pendidik merupakan figur atau idolanya.

Jadi, jelaslah di sini, bahwa pendidik tak sekedar dituntut mahir menyampaikan pelajaran pada anak didiknya, tak hanya pula diharuskan memiliki kompetensi ataupun sertifikasi. Namun, pendidik juga harus mampu menjadi “psikiater” bagi anak didiknya dalam upaya membentuk kepribadian yang seimbang melalui pendidikan psikis. Yang dimaksud dengan pendidikan psikis, pendidik harus mendidik anak didiknya untuk berani mengeluarkan pendapat, gagasan, bahkan kritik.

Anak didik juga harus didik untuk mampu mengatakan yang hak secara lugas, gentlemen,percaya diri, serta menghargai hak orang lain dan mampu mencintai orang lain serta belajar mengendalikan amarah, dan bercermin diri dengan segala keutamaan jiwa dan moral.

Tujuan pendidikan itu tiada lain membentuk dan menyempurnakan karakter pribadi yang kuat dai anak didik, sehingga, bila ia sudah beranjak dewasa, anak didik kita akan mampu mengemban segala kewajiban yang diamanatkan kepadanya dengan cara yang baik dan sempurna dengan menjunjung tinggi nilai-nilia integritas.

Sebagai seorang “psikiater” bagi anak didiknya, guru harus dapat membebaskan anak didiknya dari gejala-gejala negatif yang kerap melanda mereka di usia dini. Sebagaimana sering dikemukakan praktisi pendidikan anak, saat anak didik berusia belia ia akan mudah terjangkiti gejala-gejala seperti, gejala malu, gejala takut, gejala rendah diri, gejala hasud, dan gejala marah.

Gejala malu. Gejala malu di sini, bukan malu karena melakukan perbuatan buruk. Namun sebaliknya, anak didik yang masih belia akan didera rasa malu saat ia harus berinteraksi dan bersosialisasi dengan rekan sejawatnya di lingkungan sekolah. Jika guru tidak berupaya untuk menghilangkan rasa malunya itu, maka ia akan tumbuh menajdi anak yang introvert dan anti social. Karenanya, pendidik harus sesering mungkin menciptakan kondisi belajar yang membutuhkan interaksis atus ama lain, semisal belajar kelompok.

Gejala takut. Sementara gejala takut merupakan kondisi kejiwaan yang menjangkiti anak didik yang masih belia. Kerapkali gejala ini dianggap gejala alamiah anak karena hal itu bisa menjadi sarana dalam upaya menjaga dirinya dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan serta guna menghindari dia dari berbagai kesalahan.

Akan tetapi, jika takut meningkat ke luar dari batas-batas kewajaran dan melanggar batas-batas alamiah, maka hal itu akan menyebab kan jiwa anak didik guncang. Maka hal itu dipandang sebagai kesulitan psikologis yang harus diatasi. Di sinilah pendidik tampil sebagai pemberi semangat keberanian bagi anak didiknya itu.

Gejala rendah diri. Rasa rendah diri merupakan kondisi psikis yang menghantui sebagian anak didik, semisal cacat fisik, didera penyakit, faktor-faktor pendidikan, atau karena faktor ekonomi. Gejala-gejala ini merupakan gejala psikis yang paling membahayakan perkembangan kepribadian anak didik.

Biasanya, munculnya perasaan rendah diri pada sebagian anak didik semata-mata dikarenakan ia mendapatkan perilaku seperti dihina, dimanja berlebihan, ter diskriminasi oleh orang tuanya dalam memberikan kasih sayang terhadap anak-anaknya, kondisi cacat fisik, keyatiman, serta kemiskinan. Anak didik yang berada dalam kondisi tersebut sangat rentan untuk menjadi rendah diri, yang akibatnya ia akan mengisolir dirinya sendiri di tengah keramaian.

Maka di sinilah, dibutuhkan kepekaan pendidik untuk bsia mendeteksi gejala tersebut, agar anak didiknya yang punya kecenderungan rendah diri tidak perpuruk. Salah satu upaya yang bsia dilakukan adalah memberikan peran pada anak didik tersebut, seperti menjadikannya ketua kelas, atau memintanya untuk menulis di papan tulis.

Gejala hasud. Hasud ialah mengharapkan hilangnya nikmat yang ada pada diri orang lain. Hal ini merupakan gejala sosial yang berbahaya, jika para pendidik tidak mengatasi penyakit ini pada diri anak didiknya, maka akan berdampak yang buruk serta berbahaya bagi perkembangan kepribadian mereka.

Gejala marah. Marah merupakan keadaan psikis dan gejala interaksional yang dirasa- kan oleh anak didik pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Bahkan gejala ini kadang menjadi bagian dari karaktek pribadinya selama ia hidup. Karenanya, melalui sikap lembut dan sabar pendidik, anak didik yang marah dapat diredam dan berganti dengan keceriaan dan semangat kekerabatan.

firmantaqur’07

~ by secangkirkopipagi on August 14, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: