Impilikasi E-education pada Institusi Pendidikan, di Antara Harapan dan Kenyataan

SD River Oaks yang terdapat di Kawasan Oaksville, Ontario, Kanada merupakan sebuah sekolah yang bisa dibilang High Technologi (Hi-Tech). Betapa tidak, SD yang dibangun puluhan tahun ini memiliki visi khusus, yakni mencetak murid yang Hi-Tech dalam upaya memasuki era informasi instan. Karenanya, setiap murid di setiap kelas di sekolah ini diberikan akses seluas-luasnya untuk bersentuhan dengan seluruh jaringan komputer sekolah.

Fasilitas serta pelayanan yang serba digital merupakan pemandangan keseharian di sekolah dengan ratusan murid pilihan ini. Karenanya, CD-ROM merupakan fakta aktivitas kehidupan di sana. Bahkan, SD ini tidak memiiki ensiklopedia dalam bentuk cetakan. Di seluruh perpustakaan, referensi disimpan di dalam disket video interaktif atau CD-ROM, sehingga bisa langsung diakses dengan mudah dan bebas oleh siapa saja. Fasilitasnya pun disediakan dalam berbagai bentuk, karenanya gambar/foto dan informasi/fakta bisa dikombinasikan sebelum dicetak, sehingga informasi yang didapat akan sangat lengkap menyeluruh dan valid.

Selain SD River Oaks, negara jiran Amerika Serikat ini memang memiliki sejumlah sekolah yang pengelolaannya sudah menggunakan piranti Teknologi Informasi (IT). Di SMU Lester B. Pearson Kanada misalnya, sekolah lanjutan ini merupakan model lain dari era komputerisasi dalam dunia pendidikan saat ini.

Faktanya, di sekolah ini terdapat 300 komputer untuk 1200 murid. Dan sekolah ini memiliki angka putus sekolah paling rendah di seluruh wilayah Kanada, yakni sebesar 4 %, jauh dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30 %

Fakta bahwa teknologi informasi sangat urgens keberadaannya bagi dunia pendidikan dapat tergambar dari kenyataan yang pernah terjadi di sebuah sekolah SMP di wilayah Union City, New Jersey, AS. Di akhir 1980-an, SMP Christopher Columbus memiliki nilai ujian sekolah yang sangat rendah. Malah, kerap banyak murid absen dan putus sekolah sehingga negara bagian dimana sekolah ini berada terpaksa mengambil alih.

Langkah pertama yang dilakukan oleh birokrat di sana adalah menggandeng sebuah perusahaan telepon setempat, Bell Atlantic untuk membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah murid dengan ruang kelas, guru, serta administrator sekolah. Semuanya dihubungkan melalui jaringan Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi. Sebagai gantinya, para guru mengadakan kursus pelatihan akhir minggu bagi orangtua.

Alhasil, dalam tempo dua tahun, angka putus sekolah maupun murid absen menurun ke titik nol. Bahkan, nilai ujian standar murid meningkat hampir 3 kali lebih tinggi dari rata-rata sekolah di seantero New Jersey.

Paparan tersebut merupakan salah satu contoh kecil dari peran teknologi, dalam hal ini teknologi informasi dalam dunia pendidikan atau yang lazim di sebut e-Education (Electronic Education) di negara lain.

Lantas sejauhmana penerapan teknologi informasi pada dunia pendidikan di Indonesia sendiri?

Penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan atau dikenal dengan istilah E-education mungkin merupakan hal yang masih asing bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pasalnya, Pemanfaatan IT ini (e-Education) di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapannya untuk bidang pendidikan.

Kendati upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah. Namun, usaha yang dilakukan pemerintah biasanya hanya bersifat konstitusional demi mendapatkan lulusan dari sekolah yang kompetitif dan siap bersaing secara global. Misalnya, dengan menetapkan angka batas minimal kelulusan Ujian Negara (UN) dengan nilai sebesar 4,00 dengan tidak digabung dengan poin pada ujian praktek ditambah lagi tanpa ujian praktek.

Akibatnya, alih-alih berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan, kebijakan tersebut justru membuat semua pihak yang terlibat di dunia pendidikan, terutama guru dan murid menjadi seperti ”dikejar target”. Karenanya, berbagai cara pun ditempuh guna mencapai nilai tersebut. Namun sayangnya, sejumlah upaya yang ditempuh sebagian sangat jauh dari nilai-nilai peningkatan mutu itu sendiri.

Selain itu, kebijakan tersebut bisa dibilang ”membunuh” potensi sejumlah siswa yang memiliki bakat dan keterampilan pada bidang yang tidak di UN-kan. Sehingga ia akan menjadi rendah diri karena tidak lulus UN, padahal ia memiliki keahlian pada bidang lain, seperti sastra atau IT misalnya.

Dengan demikian, sudah saatnya pemerintah termasuk para pelaku pedidikan memutar otak guna mencari formula yang tepat guna mengatrol mutu kualitas pendidik di Indonesia ini. Jika tidak, maka bangsa ini akan semakin tertinggal dari bangsa lain dari segala bidang kehidupan.

Selain itu, setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan penerapan teknologi informasi pada sektor pendidikan menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik yang dapat mencetak out put yang hi-tech dan berkualitas.

Urgensi e-Education pada Institusi Pendidikan di Indonesia

Electronic Education atau disingkat (e-Education) merupakan sebuah terobosan baru di bidang pendidikan yang terbukti mampu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan itu sendiri. Kehadirannya banyak memberikan kontribusi positif bagi aktivitas dan proses pendidikan.

Salah satu implikasi dalam implementasi E-education adalah fasilitas jaringan International Network (Internet). Keberadaan Internet tak bisa dipungkiri mampu membuka hampir semua sumber berbagai informasi yang tadinya susah diakses. Karenanya, akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Adanya Internet memungkinkan seseorang dapat mengakses berbagai informasi dari seluruh penjuru dunia.

Khusus dalam dunia pendidikan, keberadaan internet sangat urgens dalam mengakses berbagai informasi yang berkaitan dengan materi/informasi yang dibutuhkan para pelau pendidikan (murid dan guru). Selain itu, fasilitas revolusi teknologi informasi milenium III itu memungkinkan seluruh perangkat pendidikan untuk saling berinteraksi. Para pelaku pendidikan dapat saling tukar menukar informasi. Tanpa adanya Internet, mungkin banyak tugas sekolah atau thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.

Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang sedemikian besar bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru –dari informasi ke transformasi–.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya seluruh institusi pendidikan yang dimotori oleh pemerintah mulai menerapkan teknologi informasi ke dalam sektor pendidikan melalui E-education-nya. Selain itu, banyak aspek dapat diajukan untuk menjadi sejumlah alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia yang berkarakteristik terpencar-pencar dari satu pulai ke pulau lainnya.

Karenanya, E-education dapat menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi nusantara. Sebab karakteristik dari model ini mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauh, sehingga tidak terpisah oleh jarak, ruang, waktu. Dengan demikian, daerah-daerah yang awalnya sulit disentuh dengan model pendidikan konvensional, tentunya akan teratasi dengan penerapan IT dalam bidang pendidikan ini (E-education).

Manfaat lain dari implikasi IT dalam dunia pendidikan adalah memungkinkan kerjasama antara pendidik yang yang dididik untuk berinteraksi kendati letaknya berjauhan secara fisik. Dahulu, seorang murid harus berjalan jauh terlebih dahulu untuk menemui gurunya guna mendiskusikan suatu masalah. Namun, kini, hal tersebut dapat dilakukan di rumah dengan mengunakan fasilitas jaringan internet (mailing, chating). Tugas sekolah, makalah dan bahan untuk penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring dan mailing list. Dengan demkian batasan jarak bukan menjadi masalah lagi.

Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Di lingkungan perguruan tinggi misalnya, pemanfaatan IT bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu pengadaan materi kuliah secara online sehingga materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

Lingkungan akademis pendidikan di Indonesia yang mengenal alias sudah akrab dengan implikasi IT di bidang Pendidikan di antaranya UI dan ITB. UI misalnya, hampir di setiap fakultas yang terdapat di UI memiliki jaringan yang dapat di akses oleh masyarakat luas. Memberikan informasi bahkan bagi yang sulit mendapatkannya karena problema ruang dan waktu. Hal ini tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya.

Pada tingkat pendidikan SMU, implikasi IT juga sudah mulai dilakukan kendati masih bersifat ”ekstrakurikuler” dan belum menjadi kurikulum utama yang diajarkan untuk siswa. IT belum menjadi media database utama bagi nilai-nilai, kurikulum, siswa, guru atau yang lainnya. Namun, kendati begitu, prospek untuk masa depan penggunaan IT di SMU cukup terbuka.

Disamping lingkungan pendidikan, implikasi IT pada kegiatan penelitian sangat urgen keberadaannya. Keberadaan internet dapat dimanfaatkan guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan.

Selain itu, sharing information dapat dilakukan dnegan memanfaatkan jaringan internet yang sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.

Implikasi IT pada institusi pendidikan (e-Education) seperti di paparkan di atas merupakan sebuah aplikasi baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kendati saat ini aplikasinya masih belum optimal bahkan masih berupa angan, karena teknologi yang masih terbatas serta ketersediaan perangkat software, hardware dan brainware (Sumber Daya Manusia) yang minim.

Namun, seiring perkembangan IT yang semakin pesat, maka di masa depan, e-Education akan menjadi pilihan yang tak bisa ditawar lagi implikasinya, sehingga diharapkan dapat tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT serta para pelaku dunia pendidikan di Indonesia.

Hambatan Implementasi e-Education pada Institusi Pendidikan di Indonesia

Jika memang IT dan Internet memiliki banyak manfaat, tentunya hal tersebut harus segera diimplikasinya. Namun ternyata, implikasi IT terutama menerapkan e-Education pada institusi pendidikan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin pada institusi pendidikan. Apalagi, kesiapan pemerintah sendiri masih patut dipertanyakan dalam hal ini?

Salah satu penyebab utama adalah kurangnya ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) atau brainware, serta sejumlah kendala krusial lainnya, seperti proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. Soalnya, infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia belum cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini. Apalagi, seperti diketahui bahwa Cyber Law (undang-undang tentang dunia maya (internet-red)) belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia. dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan. Hal itu didukung oleh penetrasi komputer (PC) di Indonesia yang masih rendah.

Biaya juga merupakan kendala utama, karena biaya penggunaan jasa telekomunikasi relatif masih mahal, sehingga jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di seluruh wilayah Indonesia..

Karenanya, perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Salah satunya dengan memperluas jaringan akses ke internet yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya melalui fasilitas internet di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung internet.

Hal tersebut tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; toh pada akhirnya semuanya terpulang kembali kepada pihak pemerintah. Sebab, pemerintah-lah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan.

Namun, yang jadi persoalan, apakah pemerintah punya waktu untuk memikirkan persoalan ini? Di saat pemerintah masih bingung dalam mencari formulasi sistem pendidikan yang terus berganti-ganti.

Sementara pemerintah masih berkutat dengan kebijakannya serta pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Negara-negara yang nota nebe dahulu berada di bawah Indonesia dari segi teknologi, sebut saja Malaysia dan Thailand, saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan revolusi pendidikan melalui penerapan IT pada sejumlah institusi pendidikan.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on September 19, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: