Membangun Metodologi Pendidikan Berbasis Akhlak

BATIN kita terkadang dibuat miris oleh realitas yang seringkali tersaji di hadapan mata, banyak tindakan kriminalitas seperti penyalahgunaan obat-obat terlarang, kejahatan seksual, pencurian, pembunuhan dan lainnya layaknya sebuah rutinitas keseharian, yang justru dilakukan oleh mereka yang masih berstatus sebagai pelajar.

Kalau sudah demikian, lantas apa kabarnya sejumlah silabus dan materi pengajaran yang diajarkan kepada pelajar kita itu, ketika semua yang terjadi adalah kontra produktif dengan apa yang diajarkan kepada mereka.

Seorang pelajar, dari mulai tingkat dasar sampai lanjutan atas tentu mendapatkan sejumlah ajaran saat mengikuti aktivitas pendidikannya di kelas/sekolah. Sejatinya ia adalah seorang yang terpelajar atau setidaknya sedang didik untuk menjadi insan terpelajar. Mereka mendapatkan sejumlah pengajaran, mulai dari ilmu pengetahuan, kepribadian, sampai ajaran tentang norma susila dan moralitas.

Namun dikemanakan semua ajaran itu saat realitas menunjukkan sebaliknya. Ia didik untuk saling tenggang rasa dan sayang menyanyangi antar sesama, namun yang dipraktekkan adalah saling menyakiti dan menciderai satu sama lain lewat tawuran atau tindak kekerasan lainnya. Ia diajar untuk menjadi insan yang sehat dan berfikir jernih, namun ada dan banyak dari mereka yang gemar mengkonsumsi narkoba dan minum minuman keras yang sudah jelas-jelas merusak fisik dan mental dirinya.

Pelajar mendapatkan ilmu tentang norma, moralitas dan etika-etika agama. Namun yang terjadi, ada pelajar yang tega memperkosa teman sekelasnya. Bahkan saat ini marak perilaku amoral yang dilakukan oleh para penerus bangsa itu melalui perbuatan asusila dalam binkai pergaulan/seks bebas.

Realitas tersebut tentu membuat kita sebagai seorang pendidik jadi bertanya, sejauhmana keberhasilan kita dalam mendidik mereka untuk menjadi individu yang berkualitas dan bernilai guna?

Pendidikan dewasa ini, disadari atau tidak, diakui atau disangkal habis-habisan telah mengalami distorsi yang sudah berada pada titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Di satu sisi kita telah membuat kurikulum yang menurut pemikiran kita sangat diharapkan memiliki kehandalan dalam peningkatan intelektualitas. Namun di sisi lain, perilaku anak didik kita pada umumnya mengalami hal yang tidak menggembirakan bahkan kontra-produktif.

Kita melihat pendidikan atau pelajaran agama yang diajarkan di sekolah misalnya, (–maaf, tidak bermaksud menghakimi salah satu pihak khususnya mereka yang secara langsung berkiprah dalam dunia pendidikan–) nampaknya belum dapat menyentuh titik sentral dari moral terlebih akhlak siswa. Pasalnya, pendidikan agama yang diajarkan kepada mereka hanya sebatas pada nilai dan angka-angka, baik berupa hafalan ayat, sejarah dan lain sebagainya.

Akibatnya, pelajaran agama yang wajib dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan tinggi itu sepertinya tidak berdampak pada perilaku tawuran pelajar, pemakaian narkoba, dan gejala seks bebas di kalangan pelajar. Bahkan dihadapkan dengan masalah nasional yang lebih luas, seperti pertikaian antar etnis, perseturuan antar umat beragama, kekerasan antar sesama, serta budaya korupsi yang kronis.

Semua imoralitas tersebut kian progress seiring dengan kemandulan pendidikan agama di sekolah. Fenomena pendidikan agama itu tidak lain cerminan problem hidup keberagamaan di tanah air yang telah terjebak ke dalam formalisme agama, dimana pemerintah sudah merasa puas jika sudah mensyaratkan agama sebagai pelajaran wajib dalam kurikulum.

Guru agama pun sudah merasa tuntas mengajarkan materi pelajaran sesuai kurikulum. Sementara peserta didik atau pelajar merasa sudah beragama dengan menghafal materi pelajaran agama. Dengan demikian, semua pihak tersebut merasa sudah puas dengan obyektifikasi agama dalam bentuk kurikulum dan nilai rapor yang berisi angka-angka dan nilai.

Padahal, mengikuti pelajaran agama tidak otomatis mencetak pribadi beragama. Pribadi beragama adalah individu yang mampu menghayati agama, menjadikannya semakin bertakwa dan semakin manusiawi.

Karenanya, materi pelajaran agama yang diajarkan ke siswa sebaiknya mengandung nilai-nilai kontekstual yang sesuai dengan problematika sosial dan kearifan lokal. Sebagai contoh, materi pelajaran agama di daerah konflik bernuansa agama sebaiknya mengedepankan aspek universalisme atau humanisme dari agama, bukan aspek doktrinal yang eksklusif.

Selain materi pelajaran yang kontekstual, sebagai seorang guru agama, kita juga dituntut lebih kreatif. Pelajaran agama tidak bisa berhenti pada tahap informatif. Kodrat agama adalah untuk dihayati, bukan diketahui. Maka, guru agama yang menekankan hafalan dengan sendirinya akan menciptakan KBM yang menjemukan bagi murid, sehingga murid akan menyetarakan pelajaran agama dengan pelajaran lainnya, semisal sejarah atau geografi. Bahkan, murid kemudian menjadi lebih segan berhadapan dengan pelajaran matematika atau fisika daripada pelajaran agama.

Sesungguhnya, kita belum terlambat untuk sesegera mungkin merubah arah kebijakan atau metodologi kita atau setidaknya merevarasi segala macam kekurangan yang ada di dalam sistem pendidikan kita. Berikut ini ada tiga hal pokok yang sedianya harus segera diperbaiki, di antaranya :

Meninjau kembali metodologi pengajaran, dari guru yang hanya berceramah menjadi guru yang mengedepankan dialogis (khususnya dalam memecahkan problematika moralitas anak didik )

Meninjau kembali hakekat keberadaan kita sebagai agent of chance (agen perubahan) termasuk di dalamnya perihal moralitas, sehingga anak didik kita memiliki “kebanggaan” terhadap gurunya.

Mengaktifkan anak didik kita dalam kegiatan keagamaan di sekolah dengan memberikan waktu khusus kepada mereka di dalam mengembangkan nilai-nilai moral agama yang dianutnya.

Akhir kata menutup tulisan ini, khusus untuk kita sendiri sebagai pendidik ilmu agama, sudah selayaknyalah kita berorientasi pada ajaran-ajaran yang bersifat akhlak dan budi pekerti sebagai integrasi dari nilai-nilai agama itu sendiri. Karena selama ini, kita melihat sebuah fakta, bahwa secara moralitas kita mengalami kegagalan di dalam mendidik anak-anak kita.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on September 19, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: