Utopia Kualitas pendidikan

SEKOLAH layaknya kawah candradimuka ilmu pengetahuan yang sudah barang tentu memiliki sisi edukasi yang komprehensif. Karenanya, output yang dihasilkan dari medium pembelajaran tersebut adalah insan yang sarat dengan bekal keilmuan dan segudang pengetahuan serta teknologi.

Siswa, sebagai obyek penggojlokan ilmu sudah barang tentu akan memperoleh seabreg ilmu pengetahuan dan teknologi dari medium tersebut, apalagi di jaman yang serba instan seperti sekarang ini, dimana arus informasi tidak lagi mengenal tapal batas ruang dan waktu. Karenanya, ekspansi ilmu pengetahuan bisa masuk tanpa filtrasi ke dalam ruang-ruang otak siswa.

Atas kondisi tersebut, guru sebagai transformator ilmu pengetahuan tentu terbantukan dengan aksesibilitas arus informasi tersebut. Selain kaya ragam ilmu yang dapat diberikan kepada anak didik, juga dengan sendirinya akan mendapatkan banyak kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mutu pendidikannya.

Untuk mengajarkan ilmu pengetahuan sains misalnya, seorang guru tak lagi harus berkutat dengan silabus yang mungkin membatasi ruang gerak eksplorasi edukasinya. Namun ia dapat mengakses segala seluk beluk tentang kajian ilmu tersebut dari berbagai sumber dan refesensi, seperti dari media.

Di samping itu, metodologi pengajaran yang lebih menitikberatkan pada aplikasi keilmuan atau praktek yang bersinergis dengan konsep atau materi pembelajaran, menjadikan siswa mudah dalam memahami suatu kajian keilmuan.

Karenanya, tak heran jika selama ini sering mendengar dan melihat di media, ada banyak putra putri bangsa ini yang mampu bersaing di kancah internasional dalam sebuah ajang yang cukup bergengsi, seperti olimpiade dunia matematika, IPA, maupun fisika. Nyata ini tentu saja merupakan buah karya seorang pendidik yang telah mampu mentransformasikan ilmunya kepada siswa.

Namun, tidak bisa dipungkiri memang, berbicara kajian keilmuan ada dikotomis di sana, sebut saja ilmu eksakta, ilmu sosial dan ilmu agama. Namun, pada tingkat kesadaran masyarakat, mereka lebih banyak yang memandang ilmu-ilmu eksakta lebih tinggi nilainya dibanding dengan ilmu-ilmu sosial, apalagi ilmu-ilmu agama. Bahkan, sebagian saintisme memandang ilmu agama hanyalah ilmu kelas tiga yang hanya dipelajari orang-orang bodoh kampung.

Dewasa ini, saintisme atau pendewaan pada ilmu sains sudah menjadi sesuatu yang lumrah adanya. Bahkan parahnya lagi, dalam persepsi masyarakat, ilmu-ilmu eksakta atau ilmu-ilmu sosial saja yang dianggap sebagai ilmu yang benar. Sementara ilmu-ilmu agama hanya sebatas kepercayaan, bukan ilmu seperti halnya ilmu-ilmu lain.

Kaum eksaktis kerap mempertentangkan ilmu agama dengan ilmu-ilmu eksakta. Seandainya masyarakat ini bukan masyarakat Muslim, hampir bisa dipastikan bahwa tidak akan pernah ada lagi ilmu-ilmu agama dipelajari oleh siswa-siswa seperti yang terjadi di Barat. Beruntung, sekalipun dipandang rendah, masih mendapat perhatian.

Jika kondisi tersebut sudah menjangkiti pola pikir, baik guru, siswa dan atau masyarakat kebanyakan, maka inilah efek paling parah dari ilmu pengetahuan yang destruktif. Dikatakan parah, karena pengetahuan adalah dasar yang paling menentukan semua perbuatan manusia. Seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak akan sangat bergantung pada pengetahuannya. Pengetahuanlah yang membimbing seseorang berbuat sesuatu. Apapun yang dilakukan oleh seseorang adalah cermin dari pengetahuannya. Perbuatan-perbuatan yang mengarah pada liberalisme tentu berakar pada pengetahuan yang sudah tercemari racun liberalisme.

Pengetahuan yang cenderung sekular-liberal semacam itu disosialisasikan secara efektif melalui lembaga-lembaga pendidikan yang model dan kurikulumnya diadopsi dari pendidikan peninggalan Belanda yang sekular-liberal. Sejak awal, itulah yang diadopsi oleh pendidikan di Indonesia.

Oleh sebab itu, tidak heran bila budaya-budaya sekular mudah berkembang di dalam masyarakat kita. Satu-satunya benteng yang bisa melindungi anak didik kita adalah mensinergikan ilmu eksakta tersebut dengan ilmu agama.

Kendati ada sebagian pihak yang berargumen ilmu eksakta dengan ilmu agama layaknya air dengan minyak, namun pandangan tersebut adalah keliru besar, karena agama merupakan ilmu dari segala ilmu, tinggal bagaimana merepresentasikan ajaran-ajaran agama yang terkandung di dalamnya.

Sebagai seorang transformator ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswa, pendidik secara tidak langsung maupun langsung memiliki tanggungjawab penuh untuk memberikan pemahaman ilmu eksakta dan sosial dalam paradigma ilmu agama, agar anak didik seimbang dalam mengonsumsi ilmu dan peradaban di dunia ini.

Seorang pendidik harus berani menegaskan kepada anak didiknya bahwa dibalik logikakologi saintisme ada sesuatu yang gaib yang harus dipercayai. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh hitung-hitungan matematika, rumus-rumus kimia yang jelimet apalagi oleh sekedar pendekatan E=MC2.

Pasalnya, pemahaman saintis tanpa dibarengi ilmu agama hanya akan menimbulkan rasa kecewa dan kebuntuan. Tengok, kejadian seorang siswa SD di Jepang yang terpaksa gantung diri karena tidak mampu memecahkan rumus-rumus matematika yang dipelajarinya. Lihat pula, bagaimana seorang siswa SLTP di Jawa Tengah yang rela gantung diri lantaran nilai eksaktanya kalah bersaing dengan saudara sekandungnya.

Ini realita dan bukti jika ilmu logika menjadi dewa atas pola pikir. Karenanya, sebagai transformator ilmu, guru harus bisa tampil layaknya “agen ganda” di dunia intelejen. Ia harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, namun senantiasa mengkorelasikannya dengan ilmu agama agar anak didik paham dan mengerti bahwa ilmu pengetahuan terlebih ilmu eksakta bukanlah sebuah kebenaran yang tok’, namun hanya sebatas medium untuk mencari sebuah solusi dari satu persoalan. Semoga.

@taqur’07

~ by secangkirkopipagi on September 19, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: