Cukuplah Kematian Sebagai Peringatan

Saat itu saya hanya diam membisu ketika sanak saudara, kerabat, teman dekat, istri, dan anak-anak saya menimbuni tubuh ini dengan tanah lalu diinjak-injaknya tubuh saya dengan keras hingga gelap menyelimuti.  Setelah selesai, lantas ditinggalkan saya sendirian di antara batu nisan dan timbunan tanah.  Saya pun kembali pada hakekat sesungguhnya; sendiri dan sunyi.  Seiring berlalunya waktu, saya pun dilupakan.

Oleh : Firman Taqur

Beberapa pekan lalu, banyak orang yang saya kenal satu persatu meninggal dunia. Jika dihitung, sedikitnya ada delapan orang yang punya hubungan kerabat dengan saya yang meninggal hanya dalam kurun waktu dua minggu saja. Bapaknya sahabat saya misalnya, ia meningggal akibat serangan stroke. Dua paman, dan seorang bibi saya meninggal akibat stroke pula. Tetangga saya meninggal oleh serangan jantung. Tetangga sebelah rumah penyakit liver. Bahkan guru mengaji saya menyerah oleh penyakit komplikasi, yang terakhir uwak saya harus pergi kehadirat-Nya secara tiba-tiba.

Belum lagi yang saya dengar dari pengeras suara masjid yang selalu mengawali pengumumannya dengan kalimat innalilahi wa inna’ ilaihi rojium. Kalau sudah mendengar kalimat itu, maka sudah pasti itu sebuah pertanda bahwa hari itu seorang anak manusia telah pergi menghadap Sang Pencipta.

Awalnya saya menganggap itu hanya sebuah rotasi hidup, ada yang dating, pun tak sedikit yang pergi. Ada yang lahir dan yang mati. Biasa, tanpa ada sesuatu yang patut di pikirkan apalagi diambil makna yang ada. Namun saya coba merenung sejenak ada apa ini gerangan. Dalam kurun hitungan hari banyak sekali yang meninggal, akankah ini pertanda bumi sudah bosan dengan tingkah penghuninya.

Saya sempat terpikir, jangan-jangan kiamat segera tiba. Pasalnya, mereka yang meningggal itu adalah manusia-manusia yang masih memuja Tuhan dengan tindakan. Yakin sudah di diri ini, kalau kematian begitu dekat dengan hidup ini. Sedekat tenggorokan dari kepala bahkan lebih dekat.

Kematian! Mungkin itulah yang harus segera saya renungi dan ingat selalu. Meskipun saat bicara kata kematian selalu dihubungkan dengan kata perpisahan dan hal-hal yang menyedihkan. Namun kematian akan selalu menjadi bagian dari semua makhluk bernyawa di alam fana ini. Hanya kapan dan dimana tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Karena memang kematian adalah misteri yang akan ditemukan jawabnya saat kematian itu datang menjemput diri.

Saya jadi membayangkan, suatu saat nanti ketika tubuh ini terbujur kaku di atas balai-balai bambu. Ditangisi sanak saudara, kerabat dan orang-orang terdekat yang mencintai saya. Setelah selesai di sholati, dipikulnya tubuh ini guna di antarkan ke istana peristirahatan. Istana yang bukan terbuat dari porselin dan onix ataupun keramik. Bukan pula istana di atas tanah subur yang makmur, atau yang terapung di atas danau yang airnya sebening kaca. Namun sebuah istana perapuhan di bawah tanah, istana yang sempit lagi gelap gulita.

Saat itu saya hanya diam membisu ketika sanak saudara, kerabat, teman dekat, istri, dan anak-anak saya menimbuni tubuh ini dengan tanah lalu diinjak-injaknya tubuh saya dengan keras hingga gelap menyelimuti. Setelah selesai, lantas ditinggalkan saya sendirian di antara batu nisan dan timbunan tanah. Saya pun kembali pada hakekat sesungguhnya; sendiri dan sunyi. Seiring berlalunya waktu, saya pun dilupakan.

Itulah kematian. Akhir sebuah perjalanan hidup. Setiap insan yang bernafas pasti akan melewati gerbang kematian, melalui sang malakul maut yang setiap saat akan menjemput.

Kedatangan maut, saat jiwa terlepas dari raga, saat suara jantung tak lagi berdetak, saat darah tak lagi mengalir di antara urat nadi, saat itulah akan terkuak tabir yang selama ini menutupi dan telah menjadi tipuan selama menjalani romantika kehidupan di alam maya pada ini.

Kematian adalah jawaban dari pertanyaan, betapa fana dan semunya segala kenikmatan di dunia ini. Maut akhirnya memisahkan diri dari harta benda, tahta serta keluarga tercinta.

Sebuah kisah menuturkan, saat kematian itu tiba, empat malaikat mengetuk pintu rumah. Tak ada seorang atau sesuatu pun yang mampu menahannya. Kita hanya bisa pasrah saat malaikat pertama menarik nyawa dari kaki kanan, malaikat kedua menarik nyawa dari kaki kiri, malaikat ketiga menarik nyawa dari tangan kanan, dan malaikat keempat menarik nyawa dari tangan kiri.

Setelah itu jiwa kita pun terbang meninggalkan kehidupan di dunia ini, meninggalkan apa yang kita punya, meninggalkan rencana-rencana yang masih berupa agenda, meninggalkan kisah dan kenangan indah bersama keluarga dan sanak saudara.

Maka terbayang saat keadaan itu tiba pada giliran saya. Entah esok, entak lusa, entah nanti, entah satu menit lagi. Tak peduli saya sedang apa, sedang berjalan, sedang duduk, sedang bersujud, sedang tafakur maupun sedang mendengkur.

Jika maut telah datang menjemput, bila saat itu tiba, maka tiadalah berguna segala yang saya punya, harta benda, sanak saudara, dan keluarga tercinta, itu semua hanya akan menjadi nisan kenangan.

Saya kembali merenungi diri dan bertanya pada nurani, siapkah saya menghadapi kematian itu? Siapkah saya menyambut sang malakul maut yang suatu hari nanti akan mencabut segala kenikmatan yang fana ini?

Hidup hanyalah perjalanan menuju keabadian, dan kematian adalah pintu gerbangnya. Saat segalanya sudah di ujung tenggorokan, siapkah saya mempertangungjawabkan segala apa yang telah diperbuat dan lakukan. Segala amanah dan titipan dari sang Maha; usia, anak, harta, dan segala yang kita miliki di dunia akan diminta pertanggungjawaban oleh-Nya.

Ketika saya sudah berkalang tanah, hanya kegelapan yang akan menemani saya sampai tiba saat sangkakala bersuara. Saat itu hanya amalan yang bisa menjadi pelita dalam gulitanya tanah. Hanya budi baik yang akan melapangkan sempitnya alam penantian itu.

Saya kembali merenungi diri, teringat akan segala yang telah terjadi pada perjalanan hidup ini. Kematian, kapankah itu mengetuk pintu rumah saya?

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: