Media Dan Seksploitasi Perempuan

wanita-vs-karir

WANITA adalah keindahan. Wanita sumber segala sumber inspirasi, karena di dalam diri wanita terpancar sebuah kekuatan. Wanita yang untuk selanjutnya saya ganti dengan sebutan perempuan –karena konon katanya kaum wanita lebih terhormat bila dipanggil dengan sebutan perempuan- adalah keindahan, sumber inspirasi dalam mencipta sebuah master piece. Perempuan penuh dengan aura, pesona, keindahan, bahkan kehasratan yang mengelora. Namun, perempuan juga adalah sumber pertentangan, peperangan, permusuhan, kebrutalan, vandalis, bahkan keputusasaan. Itulah perempuan dari dua sisi yang berbeda, seperti sebuah pameo, “Perempuan adalah perhiasan sekaligus racun dunia”, sebuah dikotomi atau sebuah keterkaitan !.

Namun sejujurnya patutlah diabsahkan bahwa pada diri perempuan tersimpan sebuah daya yang maha dahsyat bahkan mungkin melebihi kedahsyatan bom atom Amerika atau rudal Al-Samud Irak, –maaf saja kalau kalimat saya ini terlalu di dramatisir-, namun itulah yang ada dalam diri perempuan, dan perempuan pun menyadari akan hal itu, bahkan potensi-potensi yang dimilikinya sangat ingin untuk diperlihatkan guna membuktikan bahwa mereka-lah yang menjadikan dunia penuh estetika. Maka untuk mewujudkan hasrat nalurinya itu, media hadir sebagai saluran untuk mengekspresikan “potensi” perempuan tersebut.

Media massa, (baik cetak, elektronik maupun cyber) selain mampu memfasilitasi ekspresi perempuan, juga telah menjadi kebutuhan utama, karena merupakan sarana informasi yang paling efisien dalam kehidupan masyarakat modernis, sebagai alat sosialisasi, bahkan mampu menempatkan sebagai penyampai sebuah tatanan nilai serta perilaku. Di indonesia sendiri untuk 5 tahun terakhir ini bisnis media merupakan lahan baru yang menggiurkan, mulai surat kabar, tabloid, majalah, website, bahkan bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta yang tentunya berlomba untuk menyajikan suguhan yang lain dari yang lain.

Dan perempuan adalah komoditas utama dari produksi media tersebut, tanpa kehadiran perempuan rasanya media ibarat sayur tanpa garam, hambar dan tentunya membosankan. Oleh karena itu di tengah persaingan yang semakin sangat kompetitif, setiap media berupaya keras menyajikan kemasan acara yang lebih menarik bagi khalayak/pemirsa, dan perempuan adalah bagian dari hal yang “menarik” tersebut.

Perempuan !, disadari atau tidak oleh dirinya, entah rela atau terpaksa, telah dieksploitasi bahkan diseksploitasi oleh media, perempuan telah mengalami kekerasan simbolik (Symbolic Violence) yang dilakukan media. Hal tersebut bisa ditemukan dari corak kekerasan simbolik yang muncul dalam bentuk pengunaan bahasa, foto, gambar serta adegan yang muncul dalam media yang memposisikan perempuan dalam stereotif body and beauty not brain. Tak jarang ditemukan dalam media bahasa atau gambar visual yang secara idiologis mengandung makna pelecehan serta penghinaan terhadap harkat serta kodrat perempuan.

Wajah Perempuan Dalam Media Elektronik (Televisi)

Sejak kejatuhan orde baru, kontrol terhadap media elektronik oleh penguasa seakan hilang, dengan dalih kebebasan pers, media-media elektronik dalam hal ini televisi berlomba menyajikan berbagai ragam acara. Mulai dari informasi, hiburan, musik, film, dan kemasan acara lainnya yang kebanyakan hanyalah adopsi total dari acara luar negeri.

Menjamurnya bisnis televisi ini sebenarnya merupakan ekses dari kemajuan di bidang sains dan teknologi yang dicapai barat, teknologi informasi yang semakin canggih menjadikan akselerasi arus informasi serta kebudayaan semakin mudah dengan menembus tapal batas ruang dan waktu. Media menjadikan fun, food and fashion yang datang dari barat sebagai komoditas jualannya. Gaya hidup hedonis, materialis, cara pandang yang parsial, eksploitasi serta seksploitasi manusia terhadap dorongan syahwat dijadikan media untuk meraup keuntungan, tidak peduli hal itu bertentangan dengan norma, susila, apalagi ajaran agama, karena toh pada hakekatnya “uang adalah Tuhan bagi televisi”, kalau sudah begitu semaraklah aneka acara yang menjanjikan hiburan serta kepuasan.

Maka dalam mendukung berjalannya mesin kapitalis hiburan global tersebut, perempuan dijadikan komoditas utama dalam setiap acara yang disuguhkan, mulai acara informasi, infotainment, diskusi politik, sosial, seni apalagi hiburan. Perempuan tampil menjadi ikon, tentunya dengan berbagai pra-syarat yang seabreg, seperti harus punya tubuh seksi, wajah cantik, kulit putih bersih, serta aneka kriteria lainnya yang dibuat-buat oleh para pelaku media.

Teganya lagi sekarang ini televisi telah menjadikan perempuan sebagai objek sensualitas dan seksualitas yang di dalamnya mengandung pornografi serta pornoaksi, dan busuknya lagi tak sedikit perempuan yang dengan kerelaan dari dalam hati sanubari yang paling dalam mau dijadikan komoditas seks oleh media tersebut; sebuah simbiosa yang mutualis, karena dalam kacamata bisnis, kondisi tersebut saling menguntungkan bagi keduanya, media dapat mereguk untung besar, dan perempuan tersebut jadi terkenal.

Sebenarnya kondisi ini jauh-jauh hari sudah diungkapkan oleh Laura Mulvey dalam artikelnya yang cukup terkenal “Visual Pleasure and Narrative Cinema” (1974), dia mengungkapkan bahwa perempuan merupakan objek tontonan untuk memenuhi hasrat laki-laki sebagai objek imajinasi serta fantasi seksual laki-laki atau sebagai objek “Sensual Pleasure” laki-laki. Hal tersebut diperkuat oleh Liesbet Van Zoonen dalam bukunya “Feminist Media Studies” (1994), Liesbet mengatakan bahwa elemen utama budaya patriarkhal barat adalah display perempuan sebagai tontonan untuk dilihat, ditujukan untuk tatapan khalayak (pria).

Maka janganlah heran jika sekarang ini kita, khususnya laki-laki –maaf tak ada maksud untuk gender– bisa leluasa menikmati kemolekan serta lekuk-lekuk tubuh perempuan dalam acara televisi, apalah itu dalam iklan, sinetron, film, musik, maupun acara-acara yang sebenarnya tak ada hubungan sama sekali dengan tubuh perempuan, mirisnya lagi kita tidak bisa melarang anak-anak kita untuk tidak melihatnya.

Simak iklan rokok, iklan mobil, iklan pompa air, iklan makanan ringan, iklan obat nyamuk, iklan minuman suplemen, dan lain sebagainya, iklan-iklan tersebut sengaja menghadirkan perempuan, karena perempuan memiliki seluruh karakter yang bisa di perjualbelikan, seperti kecantikan, kemolekan tubuh, suara yang mendesah, gerak tubuh yang erotis, kerlingan mata yang menggoda, dan pesona lainnya yang memiliki daya jual tinggi.

Perempuan tidak hadir sebagai pribadinya, tapi hanya simbol-simbol untuk menyenangkan penonton (baca : laki-laki), maka tak heran jika banyak iklan yang hanya memasang bibir yang sensual dengan polesan lipstik merah basah merekah, paha yang putih bersih, atau perut mulus yang rata seperti jalan tol, bahkan cukup desahan suaranya saja yang divisualisasikan kepada pemirsa.

Begitupun halnya dalam acara film atau sinetron, perempuan selalu dieksploitasi potensi sensualnya, banyak sekali artis-artis yang cukup cantik dan seksi rela membalut tubuhnya dengan pakaiaan yang super jahily sehingga bagian “sekwilda”-nya (sekitar wilayah dada) dan kawasan “bupati”-nya (buka paha tinggi-tinggi) rela dinikmati oleh semua orang; gratisan.

Wajah Perempuan Dalam Media Cetak (Koran/Majalah)

Media cetak dalam mengeksploitasi dan mengseksploitasi perempuan tak kalah edannya, pergilah kejalan, lihatlah di pengecer-pengecer koran, tabloid ataupun majalah, bagaimana gambar/photo perempuan yang hanya memakai pakaian dalam terpampang di cover depan/head line (full color) dengan pose yang seronok, dengan BH yang tak muat di payudaranya, sambil mengumbar senyuman binal, dengan tatapan mata jalang (maaf kalau kata-kata saya terdengar vulgar … tapi vulgar mana dengan gambar-gambar itu), bahkan informasi yang diberitakan tak terlepas dari permasalahan tubuh perempuan, mulai dari kiat merawat tubuh agar tetap seksi dan mulus, tips agar bibir tampil seksi, kiat memperbesar payudara, cara memperhalus kulit, dan aneka tips lainnya yang tak terlepas dari seluk beluk tubuh perempuan.

Selain gambar/photo yang amoral tersebut, beritanya pun tak kalah abnormal, berita seputar seks, dan kisah esek-esek dengan gaya penuturan ala stensilan yang mesum menjadikan tabloid atau majalah tersebut laku keras. Sekali lagi, disadari atau tidak oleh perempuan-perempuan yang menjadi model tabloid atau majalah tersebut, mereka telah dijadikan komoditas bisnis seks oleh media dengan mengeksploitasi dan mengseksploitasi bagian-bagian privasi dari tubuhnya.

Dengan dalih kebebasan berekspresi dan seni, kondisi seperti itu seolah menjadi sebuah realitas wajar, kontrol sosial serta kontrol moral dari masyarakat tak sanggup membendung kebebasan jahiliyah yang difasilitasi media, karena pelaku-pelaku yang terlibat di dalamnya berlindung dibalik undang-undang penguasa yang sah.

Wajah Perempuan dalam Cyber Media (Internet)

Dewasa ini telah terjadi revolusi informasi melalui jaringan internet dengan budaya digitalnya terhadap kehidupan, internet atau cyber media telah mengubah bagaimana manusia memandang ruang dan waktu serta interaksi dengan sesama. Melalui internet, hampir semua yang tidak mungkin menjadi mungkin, teralis-teralis yang menjadi pembatas komunikasi tatap muka kini telah diganti oleh hubungan di dunia maya, interaksi tak lagi harus dilakukan secara fisik, cukup dengan e-mail atau chatting kita bisa berinteraksi serta berkomunikasi dengan seluruh makhluk manusia di seantero dunia.

Internet merupakan sebuah revolusi informasi yang sangat fenomental di abad ini, maka beramai-ramai orang membuka bisnis Warnet (Warung internet), sehingga eksistensi Wartel (Warung telekomunikasi), Warteg (Warung tegal), dan Warkop (Warung kopi) tersisihkan.

Jadilah internet sebagai media informasi yang mutakhir serta sarana komunikasi digital yang maha futurist, kehadiran cyber media ini telah menghilangkan sekat-sekat yang memungkinkan manusia saling berhubungan secara bebas dalam suasana egaliter dan tanpa hierarkhi. Internet telah menciptakan sebuah realitas baru dalam kehidupan yang dinamakan Virtual Reality.

Banyak informasi yang bisa diakses bebas di internet, mulai dari wacana politik sampai hiburan, masalah kebudayaan atau sekedar informasi tips. Namun, ketika setiap wacana tersebut mencapai titik ekstrem yang klimaks, berbagai wacana pun mengalami pergeseran yang substansial. Wacana seksualitas misalnya, tengah mengalami kearah abnormalsexuality dengan menempatkan perempuan sebagai pelaku utama. Sehingga sekarang ini bentuk-bentuk kegiatan seksual berkembang sangat jauh melampaui sifat alamiahnya, dimensi seksualitas kehilangan kesakralannya, kecantikan kehilangan auranya, dan tubuh menjadi sebatas benda komoditas yang bebas dinikmati siapa saja.

Maka muncullah bak jamur dimusim hujan berbagai fasilitas yang mengeksploitasi seksualitas yang ada dalam diri perempuan, seperti melalui cybersex maupun cyberporn (situs-situs porno). Sehingga kini cyber media semakin transparan, informasi yang sebelumnya secara sosial, moral, norma, dan agama dianggap terlarang, tabu, bahkan haram, kini dapat diakses begitu mudah oleh siapa saja, sehingga hal ini merubah fungsi internet menjadi sebuah “warung libido elektronik” di dunia maya yang memicu hasrat dan fantasi seksual dengan berbagai gambar/photo perempuan bugil dan informasi seks yang tanpa nilai dan tanpa identitas.

Model-model perempuan lokal maupun asing bebas berekspresi di ruang maya, atas nama kebebasan berekspresi dan seni mereka berani mengeksploitasi tubuhnya tanpa batas, serta berani melakukan aktivitas seksual yang tadinya sakral dan suci menjadi sebuah aktivitas yang jijik dan menghinakan. Perempuan-perempuan ruang maya itu menampilkan nafsu “hayawanniyyah” sebagai garansi bagi kepuasan berahi laki-laki. Sungguh sebuah “estetisasi kecabulan” dan “spiritualisasi kepornoan” yang tercabul dari yang paling cabul, yang ngeres dari yang paling ngeres, yang jalang dari yang teramat jalang.

Perempuan sebagai makhluk yang secara integral memiliki ruh, perasaan, intelektual serta potensi yang besar untuk memelihara dan menjaga kelangsungan hidup manusia, telah dieksploitasi dan diseksploitasi oleh media sebagai sosok yang hanya segumpal daging dan tulang dengan seluk beluk perangsang berahi. Hal ini merupakan pendzaliman media terhadap harkat serta martabat perempuan. perempuan telah dijadikan komoditas seksual oleh media dalam meraup keuntungan,

Akan tetapi kita tak bisa menghukum media sebagai penyebab de-moralisasi dan de-humanisasi secara fallacy of dramatic instance, karena seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa dalam permasalahan perempuan dan media ini terjalin sebuah kondisi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, di sisi lain media berupaya untuk mencari profit yang besar demi menjaga eksistensinya, sedangkan di lain pihak tak sedikit perempuan-perempuan yang rela antri untuk casting agar bisa tampil di televisi maupun berpose di majalah, tentunya dengan mengorbankan segala sifat kodratinya.

Perempuan-perempuan dalam media yang bertampang komersil itu, sadar atau tidak, justru telah menghambakan dirinya menjadi bagian dari korban kekerasan simbolik, mereka berpose dan bertingkah di media guna memenuhi sensual pleasure khalayak laki-laki. Dan jangan sekali-kali menanyakan mengenai norma apalagi susila kepada para “perempuan media” tersebut, karena mereka akan bersempunyi dibalik kedok seni yang dijadikan legalitas aktivitasnya itu.

Maka sekarang saatnya bagi kita untuk menilai, mana perempuan yang diibaratkan sebagai perhiasan dunia, serta perempuan yang menjadi racun dunia itu. Sangat gampang bagi kita untuk membedakannya, tonton televisi, baca tabloid, dan telaah majalah, disitulah kita akan menemukan perempuan-perempuan racun dunia.

writen : firman taqur

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: