Mensikapi Muatan Opini Dalam Informasi

newspaperDEWASA ini merupakan era kejayaan informasi, dimana dunia sedang menjelang abad informasi. Masyarakat manusia kini sedang dalam proses menjadi masyarakat informasi. Derasnya arus informasi yang merembes ke dalam setiap aspek aktivitas kehidupan manusia mampu merubah paradigma manusia itu sendiri. Arus informasi seakan air bah yang mengalir deras ke segala penjuru arah, bergerak cepat menyesak setiap sudut kehidupan, seakan merasuk sendi-sendi aktivitas yang begitu beraneka macam ragam. Berbicara informasi tentunya tidak terlepas kaitannya dengan komunikasi. Dan berbicara tentang komunikasi kembali kepada hakikat hidup manusia, yakni sebagai Homo Communicus (Makhluk komunikasi).

Kita sebagai makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, yang memiliki saling ketergantungan, saling berhubungan melalui interaksi, saling membutuhkan serta melengkapi satu sama lain. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi, ketergantungan ini akan selalu ada dan tidak akan pernah berakhir selama nafas masih bersemayam dalam jiwa kita.

Dengan pundamen inilah kita sangat haus akan komunikasi guna mendapatkan ragam informasi, tentunya informasi yang faktual dan aktual. Melalui komunikasi juga, kita bisa saling mengenal satu sama lain, mengetahui dunia orang lain, kebudayaan lain, mengetahui norma, adat istiadat, aturan serta nilai-nilai yang berkarakteristik unik satu sama lain.

Kebutuhan akan informasi merupakan salah satu kebutuhan rohani dalam kehidupan kita sebagai manusia. Dalam lingkungannya sebagai makluk sosial, kita ingin mengetahui dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita hidup dan bersosialisasi. Dengan kondisi inilah mendorong kita untuk mencari pemenuhan akan informasi, baik secara langsung atau tatap muka maupun melalui perantara atau mengunakan media.

Semakin cepatnya akselerasi perkembangan kebudayaan. Terutama perkembangan kecanggihan teknologi di bidang komunikasi, memudahkan kita dalam mengakses ragam informasi melalui berbagai sarana serta media yang menjembatani proses aliran informasi tersebut. Media tersebut salah satunya adalah media massa. Dr. Phill Astrid S. Susanto, (1974), seorang pakar komunikasi massa, mengemukakan pendapatnya tentang media massa. Ia mengatakan media massa atau mass media merupakan suatu aktivitas komunikasi yang menggunakan sarana atau peralatan yang dapat menjangkau massa atau khalayak sebanyak-banyaknya dan area seluas-luasnya. Sarana atau peralatan tersebut bisa dalam bentuk cetak seperti surat kabar, tabloid dan majalah, maupun dalam bentuk elektronik, seperti radio, televisi, film juga internet.

D. Hans, seorang pakar media massa dari negeri Belanda menyatakan media merupakan penghubung rohani sekaligus sebagai santapan batin manusia. Sebagai penghubung batin disini artinya melalui media kita dapat mengadakan hubungan dengan siapa saja. Sedangkan yang dimaksud dengan santapan batin mengandung pengertian apa yang disajikan oleh media merupakan bahan-bahan pengetahuan yang sangat diperlukan oleh kita sebagai makhluk sosial yang bersosialisasi.

Dalam masyarakat yang sistem komunikasinya sudah mulai kompleks (rumit) salah satu variabel atau faktor yang menonjol adalah peranan media massa canggih (modern mass media of communication). Berbagai penelitian membuktikan media massa modern mampu menimbulkan berbagai efek serta pengaruh di kalangan bangsa-bansga atau masyarakat-masyarakat yang tersingkap kepada media modern tersebut.

Pengaruh media massa di suatu masyarakat sering menciptakan kesenjangan antara perilaku sosial yang berubah dengan kaidah-kaidah kultural normatif (culture lag). Namun, seiring berjalannya waktu, pranata-pranata masyarakat yang sudah lama merupakan aturan dan norma yang mengendalikan perilaku sosial akan berubah juga karena tidak lagi di dukung oleh perilaku warganya. Dalam ilmu Sosiologi kejadian tersebut di katakan sebagai suatu proses perubahan sosial (social change). Misalnya, kalau dulu perempuan itu memiliki fungsi sebagai pengasuh anak dan mengurus rumah tangga semata, namun sekarang cara hidup tersebut sudah ditinggalkan. Banyak kaum hawa kini menjadi polisi, tentara, karyawan perusahaan, pemimpin lembaga, bahkan menjadi pemimpin negara. Perubahan cara pandang tersebut pada umumnya sebagai pengaruh komunikasi media massa.

Semakin berkembangnya teknologi komunikasi, baik yang berdimensi vertikal maupun yang berdimensi horizontal, memungkinkan kita untuk mengetahui informasi yang terjadi di suatu lokasi yang sangat jauh sekalipun dari tempat kita berada. Kini tidak ada lagi pelosok dunia yang tidak terjangkau oleh komunikasi canggih (global syndrome). Tragedi kemanusiaan di Palestina misalnya, melalui kecanggihan pancaran satelit, kita bisa menyaksikan secara langsung apa yang sedang dilakukan agresor Israel terhadap bocah-bocah Palestina yang sedang melempari tank-tank vandalis Israel dengan kerikil dan batu. Begitupun ketika gedung WTC luluh lantak oleh pesawat komersial yang dibajak teroris. Melalui “kotak ajaib” televisi detik-detik hantaman pesawat tersebut dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Bahkan sekarang ini stasiun-stasiun televisi mencoba untuk memanjakan pemirsanya dengan sajian acara langsung (baca : Live). Artinya peristiwa yang sedang terjadi dapat disaksikan pada saat kejadian itu masih berlangsung, dimanapun lokasinya, dan apapun kejadiannya. Di belahan bumi utara atau nun jauh di seberang benua. Kita dimanjakan oleh ragam sajian menarik secara langsung. Mulai dari acara olahraga, infotainment, peristiwa sosial atau kebudayaan. Mulai dari siaran langsung Liga Champion, Liga Italia, sampai gelaran akbar Miss Universe.

Bahkan peristiwa perang sekalipun dapat disaksikan pada saat perang itu sedang berkecamuk. Simak bagaimana stasiun-stasiun televisi saling berkompetisi dalam menyampaikan informasi tentang invasi Amerika ke Irak dengan se-aktual mungkin. Bahkan stasiun-stasiun televisi lokal kita rela merogoh kocek yang besar agar dapat me-relay situasi perang secara langsung melalui jaringan TV al-Jazeera atau Jaringan CNN.

Kejadian yang masih hangat dan sedang berlangsung sekarang. Yakni perang antara TNI dengan Separatis GAM. Guna mengedepankan nilai aktualitas informasi, Stasiun Televisi Indosiar berani menampilkan sajian berita dengan menggunakan fasilitas Video Phone, meskipun harus mengesampingkan aspek kualitas visualilisasi dari berita tersebut, namun setidaknya keingintahuan kita tentang kondisi di Aceh yang paling aktual dapat diakses secara cepat. Itulah salah satu manfaat media dalam kapasitasnya sebagai saluran informasi.

Akan tetapi ada satu hal yang tidak kalah pentingnya yang dimiliki oleh media dalam kapasitas fungsinya. Yakni sebagai alat untuk mengarahkan serta membentuk opini publik. Bahkan fungsi ini sekarang telah menggeser fungsi dasar media itu sendiri, yaitu sebagai wadah informasi. Media massa, apapun jenisnya, adalah hal yang muskil kalau dalam penyampaian informasinya tidak mengandung muatan suatu opini. Meskipun memang dalam kaidah jurnalistik hal tersebut sangatlah bertentangan, namun kenyataan yang menentukan, banyak sekali informasi yang disampaikan sarat muatan opini yang subjektif baik secara silent (tersembunyi) maupun secara transparan.

Berbicara mengenai pembentukan opini ini. Adalah hal yang sungguh ironi bagi kita. Sebagai umat Islam yang mayoritas keberadaannya. Kita selalu dijadikan target sasaran opini, bukan pembuat opini. Banyak terjadi pertentangan di antara kita sendiri akibat opini-opini yang berkembang di masyarakat yang memang sengaja dihembuskan oleh media massa yang nota bene merupakan media massa dari Barat. Media massa Barat melalui perwakilan-perwakilannya di berbagai negara termasuk di Indonesia selalu memonopoli sumber-sumber informasi. Umat Islam selalu dibohongi oleh informasi yang bernada miring (bias). Kita mau tidak mau menjadi serba ketergantungan kepada informasi yang datang dari sistem media massa Barat yang sekuler tersebut. Padahal informasi-informasi yang disampaikan oleh mereka bertujuan untuk menyerang (menghina).

Kondisi tersebut semata-mata karena ketidakmampuan kita dalam menghadapi arus informasi Barat tersebut. Artinya umat Islam belum memiliki sebuah media yang memiliki kemampuan counter attact terhadap serangan-serangan opini Barat yang dinahkodai oleh Yahudi Amerika. Bahkan sekarang ini Barat dengan kerajaan persnya (press empire) menggunakan media massa yang ada di Indonesia yang nota bene sebagai “anak buahnya” untuk menyajikan ragam acara yang seolah-olah “melayani” kepentingan informasi bagi umat Islam. Tetapi sesungguhnya bukan karena ingin “melindungi” nilai-nilai agama (Islam), namun semata-mata untuk mencari profit saja dari masyarakat mayoritas. Bahkan mungkin saja untuk menohok dari belakang kelak ketika umat Muhammad ini lengah.

Umat Islam dewasa ini sedang menghadapi revolusi informasi. Arus-arus informasi dan bahan-bahan hiburan, khususnya film yang bersifat timpang (satu arah) memaksa kita dan generasi Islam menerima nila-nilai Barat yang sekuler, atau nilai-nilai yang sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah agama. Informasi yang di sampaikan oleh media Barat memiliki kepentingan yang bersifat ideologis serta politis, sehingga nilai objektifitas sering diabaikan.

Hal ini tentunya akan menciptakan ketimpangan dari informasi tersebut. Akan tetapi karena lemahnya umat Islam dalam penguasaan media membuat kita tidak sanggup mengubah ketimpangan arus informasi yang datang dari Barat itu. Barat tahu betul bagaimana memanfaatkan media dalam membentuk serta mengarahkan opini publik dunia, termasuk opini mengenai umat Islam. Dalam berbagai aspek kehidupan kita selalu dihadapkan dan dibenturkan dengan opini-opini yang sangat merugikan dan timpang.

Kita ambil contoh faktual. Dalam invasinya terhadap Irak bulan lalu, Amerika secara terang-terangan memanfaatkan media sebagai salah satu senjata dari sekian jenis senjata yang digunakan untuk memenangkan perang. Selain menggunakan rudal-rudal penghancur, Amerika pun menggunakan senjata-senjata opini yang sangat subjektif yang ditembakkan kepada masyarakat dunia, sehingga Bush menjadikan media sebagai alat propaganda perang absolut.

Hal tersebut membuktikan begitu dahsyatnya perang opini sehingga mampu mengalahkan kehebatan misil-misil yang digunakan dalam perang yang sesungguhnya. Amerika sangat paham bagaimana hebatnya senjata opini ini guna menggiring opini publik dunia dalam upayanya mendapatkan dukungan serta legalitas dari aksi invasinya.

Selain perang opini yang berskala intenasional tersebut. Umat Islam pun sekarang ini sedang di bombardir oleh saudara-saudara kita sendiri. Simak begitu bandelnya stasiun-stasiun televisi lokal kita, dengan sikap arogan dan terkesan menantang masih tetap bahkan semakin gencar menayangkan sajian-sajian acara laknatullah. Kita ambil contoh sederhana saja, masalah goyangan Inul misalnya, semakin ditentang dan dikecam, semakin dipuja dia oleh media. Dengan “ayat” kebebasan berekspresi dan seni stasiun-stasiun televisi tersebut tetap saja menyajikan acara-acara sekuler yang amoral.

Kondisi tersebut sungguh memprihatikan. Umat Islam bukan saja diserang oleh media Barat akan tetapi juga di serang oleh media-media saudara kita sendiri. Ini sebuah ironisme sekaligus tantangan bagi kita sebagai umat Islam. Disamping menghadapi musuh nyata, kita pun dihadapkan oleh musuh-musuh dalam selimut. Tuhan memang benar bahwa seorang Tartuffe (baca : munafik) itu sangat berbahaya dibanding dengan musuh yang nyata-nyata menyerang kita.

Ketidakberdayaan kita menghadapi serangan-serangan opini yang datang dari depan dan belakang tersebut karena semata-mata lemahnya kita sebgai umat Islam dalam menguasai media informasi. Padahal industri informasi sekarang ini mempunyai potensi yang besar dalam mempengaruhi pola pikir dan opini orang atau publik yang mengkonsumsi informasi tersebut.

Saatnya bagi umat Islam untuk membuka mata, telinga dan hati. Perang yang selama ini identik dengan pertempuran antara misil dengan rudal kini sudah berpindah ke dalam kerangka media. Melalui senjata televisi, internet, satelit, dan aneka piranti canggih teknologi informasi lainnya, sadar atau tidak sadar kita tersu-tersusan diserang. Sehingga tidak ada salahnya kita menerapkan ajaran “Fas est et ab hoste doceri, (belajarlah meskipun dari musuh)”. Umat Islam bisa belajar dari Barat yang menjadikan media sebagai senjata pemusnah massal dalam menghancurkan musuh-musuhnya. Amerika sebagai pioner sekulerisme dunia begitu gencar mengadakan inovasi serta revolusi media informasi. Aneka kecanggihan media informasi terus dikembangkan tanpa henti. Konon kabarnya, Amerika dewasa ini memiliki satelit angkasa yang mampu mendeteksi setiap gerak gerik makhluk hidup di berbagai negara di seluruh pelosok dunia.

Kesadaran akan dahsyatnya senjata bernama media informasi ini, sebanrnya jauh-jauh hari telah disadari Barat. Sejarah mencatat bagaimana seorang panglima perang dari Prancis yang termasyur, Napoleon Bonaparte (1769-1821) pernah mengutarakan kekhawatirannya pada media, “Aku lebih takut kepada empat surat kabar yang terbit di Prancis ketimbang menghadapi seratus prajurit musuh dengan pedang terhunus”. Bahkan kemampuan media dalam membentuk opini serta mengubah pola pikir publik membuat Presiden Amerika, John F. Kennedy mengungkapkan kekhawatirannya. “Aku lebih takut kepada seorang wartawan daripada seribu tentara”.

Ungkapan-ungkapan tersebut mungkin terkesan bernada eufimistik, namun bila kita menelaah secara mendalam dari makna tersebut, ternyata begitu menghujamnya muatan opini yang disampaikan kepada publik, sehingga pameo “pena lebih tajam dari pedang” itu adalah benar.

Sebagai penutup dari tulisan ini, alangkah bijaknya jika kita umat Islam mempercayai ramalan dari seorang pakar bernama Alvin Toffler, dimana ia pernah memprediksi “Barang siapa yang menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia”. Dan memang ramalannya itu telah dibuktikan oleh Barat dalam visinya menguasai dunia di alam maya ini.

Lantas, bagaimana dengan kita, apakah selamanya umat Islam akan menjadi target sasaran opini !. Meskipun untuk menjadi pembuat opini melalui media sendiri adalah muskil terwujud dalam waktu dekat, namun setidaknya mulai saat ini kita tidak lagi terjebak oleh opini-opini yang subjektif dan stereotip yang disampaikan Barat beserta kaki tangannya melalui media informasi. Saatnya bagi kita untuk mampu memaknai sekaligus mewaspadai setiap opini yang terkandung dalam sebuah informasi. Sehingga kita mampu memandang secara objektif terhadap segala persoalan yang sengaja dibiaskan Barat melalui opini-opini sekulernya.

publish : abah.akuy’o8

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: