Menyambut Bulan Suci Ala Selebriti

michelle_leslie1HIDUP menjadi seorang selebritis yang terkenal, bertumpuk harta, tinggal di apartemen mewah, atau menempati salah satu komplek perumahan elit di jantung Ibukota, tentunya sebuah kebanggaan dan prestise. Apalagi wajahnya selalu menghiasi layar televisi dan sampul majalah atau surat kabar. Kita pun alangkah naifnya jika tidak menginginkan kehidupan seperti itu.

Dunia selebritis adalah dunia penuh glamour dan sarat ketenaran. Diburu media dan diberitakan setiap saluran televisi adalah sarapan dan agenda keseharian mereka. Menjadi bagian dari komunitasnya merupakan dambaan setiap orang. Dijadikan sebagai angan yang coba bersikeras untuk diwujudkan sebagai tujuan dan dambaan hidup. Ada yang berangkat dari bakat dan talenta. Ada yang berangkat dari perjuangan, melalui sebuah proses panjang yang terjal nan berliku, jatuh bangun dan sarat pengorbanan. Ada juga yang berangkat dari hoki, nasib, atau sekedar koneksi.

Pun tak sedikit yang berangkat dari modal nekat, melalui jalan pintas, mudah, dan tentunya tidak memerlukan waktu yang teramat panjang. Dalam satu bulan saja tampang sensualnya sudah menghiasi layar kaca diseantero saluran televisi yang ada dinegeri ini. Apalah dia sebagai penyanyi, pemain sinetron, bintang iklan, atau ketiga-tiganya, ya pemain sinetron, ya penyanyi, ya bintang iklan. Soal tidak berkarakter dan talenta pas-pasan itu urusan lain, yang penting TER.. KE.. NAL !. “Kalau tidak sekarang kapan lagi, kesempatan kan tidak datang dua kali,” begitu kilah salah seorang selebritis.

Bahkan cuma bermodalkan goyang maaf-pantat saja sekarang ini sudah bisa menjadi selebritis terkenal, bahkan bisa mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Wow edun (baca:edan), sungguh hebat (baca:laknat) bangsa ini. Bangsa yang konon katanya bersendikan azas Ketuhanan, yang menjunjung tinggi etika dan moralitas agama. Dan jangan sekali-kali mengajukan perihal norma apalagi dosa kepada mereka, sia-sia saja, soalnya yang akan keluar dari mulut manis mereka adalah, ini kan tuntutan profesi…, ini kan seni …, atau bla .. bla.. bla …apologi lainnya.

Karenanya, selebritis merupakan satu kelas sosial yang istimewa dalam masyarakat kontemporer. Ada banyak kemudahan yang diterima mereka berkaitan dengan statusnya sebagai individu. Maka tak heran jika selebritis mau melakukan banyak hal untuk mempertahankan kelas sosialnya yang tinggi tersebut.

Salah satunya adalah bersikap tartufe. Dan rupa-rupanya sikap tartufe atau munafik atau oportunis atau apalah namanya itu sekarang ini merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh selebritis jika ingin tetap eksis dalam pemberitaan media.

Ekstrim memang, namun setidaknya sikap tersebut bisa disaksikan pada bulan Ramadhan yang sedang dijalani sekarang ini. Pada bulan suci ini sikap dan perilaku mereka (selebritis) bisa berubah 180 derajat. Dari yang tadinya suka berjingkrak-jingkrak, menjadi sedikit jaga sikap, yang biasa cekakak dan cekikik, pada bulan ini hanya tersenyum simpul saja, yang tadinya doyan pamer aurat, sekarang terlihat lebih sopan berpakaian. Bahkan tidak sedikit yang mengenakan busana yang sangat serba tertutup, padahal di bulan lain, ia berpakaian begitu sangat terbuka dengan pamer paha dan dada; bangga.

Namun saat bulan suci Ramadhan tiba, dimana pada bulan ini Allah SWT membukakan hati manusia dan menyirami kembali jiwa-jiwa yang mati. Dendam dan angkara murka terhapus oleh berkahnya bulan seribu bulan ini. Para pendulang dosa menjadi malu oleh hikmah dan rahmahnya Ramadhan. Panasnya kemaksiatan tersiram oleh sejuknya Ramadhan.

Maka jangan heran jika di bulan Ramadhan ini para selebritis banyak yang bertekad untuk mengubah kehidupan mereka, dari kehidupan yang penuh dengan hingar bingar dan kemewahan menjadi kehidupan yang penuh dengan kebersahajaan dan kesederhanaan, kemuliaan akhlak, dan semangat beribadah. Mereka berlomba-lomba mendulang sebanyak mungkin pahala di bulan penuh hikmah ini. Perilaku tidak baik (maksiat) ditinggalkan, lantas menggantinya dengan aktivitas ibadah sebanyak-banyaknya (bukan sebaik-baiknya), menyantuni pakir miskin, pergi umroh, menjadi anggota jamaah majlis taklim dan aktivitas religi lainnya.

Alangkah indah dan syahdu benar perubahan seperti itu, mereka ternyata begitu mudah mendapat hidayah dari Allah SWT. Padahal tidak sedikit orang yang harus mati-matian berjuang hanya untuk mendapatkan hidayah yang teramat mahal itu. Bahkan para mualaf harus mempertaruhkan jiwa dan ikatan keluarganya hanya untuk mendapatkan hidayah dari Allah itu. Para wanita yang berniat memakai jilbab harus bertarung argumen terlebih dahulu dengan lingkungannya. Namun para selebiritis ini, subhanallah, begitu mudahnya hidayah yang diberikan Allah SWT kepada mereka itu. Namun benarkah perubahan tersebut semata karena hidayah?.

Selebritis yang mengubah penampilan saat Ramadhan memang sebuah fenomena yang sudah berlangsung lama. Mengubah penampilan, seperti mengubah selera berpakaian yang disesuaikan dengan selera pasar dan keadaan yang sedang trend ternyata merupakan strategi jitu untuk mempertahankan eksistensi dan kepopularannya dalam pemberitaan media.

Si artis A misalnya, dia berjilbab bukan untuk menutupi auratnya apalagi karena mendapat hidayah dari Allah SWT. Tapi itu dilakukan semata-mata untuk memenuhi skenario cerita sinetron yang dibintanginya saja, atau acara yang dipandunya. Oleh karena itu jangan heran jika mengenakan jilbab hanya sebatas siasat simbolik untuk menarik mayoritas segmen penggemar umat Islam, khususnya pada bulan Ramadhan ini.

Karenanya tak heran jika ada selebritis yang pada suatu acara pakai jilbab, pada acara lain tampil seronok, hari ini berjilbab, besok setengah telanjang, lusa dihebohkan selingkuh, sebelumnya diberitakan pergi umroh. Maka tak usah bingung pada bulan lain menjadi pembawa acara esek-esek, di bulan Ramadhan ini tampil sebagai moderator dialog agama, tak usah heran pula kalau nilai-nilai religius pun diobok-obok oleh mereka. Jadinya, mengenakan jilbab hanya pada saat shooting atau bulan suci ini saja. Setelah Ramadhan berlalu, ia pun kembali ke wujud jahilynya; tanpa merasa berdosa.

Sinetron dan acara-acara televisi pun berubah format secara drastis, sinetron-sinetron yang menjual mimpi dan pamer aurat disimpan dahulu. Acara-acara cabul dan libidinal di tunda sementara. Yang dimunculkan adalah sinetron-sinetron bertemakan keagamaan, tentang pertobatan, dan tema religius lainnya. Efisodenya pun disesuaikan dengan jumlah hari dari bulan Ramadhan ini. Pasalnya, dalam pandangan kapitalis mereka (Production House–PH)/stasiun TV), jika sinetron atau acara khusus Ramadhan tersebut melewati bulan ini dijamin tidak akan laku lagi dipasaran. Karena pada dasarnya sinetron itu dibuat hanya mengikuti tuntutan pasar. Pasar Bulan Ramadhan adalah pasar umat Islam, oleh karena itu mereka membuat sinetron bernapaskan Islam hanya pada bulan suci ini saja, setelah Ramadhan lewat maka sinetron-sinetron hedonis dan ragam acara esek-esek pun kembali menghiasi semua saluran televisi.

Stasiun televisi yang ada di negeri ini berlomba-lomba menyajikan program-program acara religius pada bulan suci ini. Namun mereka berbuat itu hanya untuk mendulang keuntungan semata, karena yang ada dalam pikiran mereka adalah how to get a much much profit, bukan untuk berdakwah apalagi untuk beramar ma’ruf nahyi munkar lewat acaranya tersebut. Oleh karena itu kemunafikan selebritis dan oportunisnya stasiun televisi adalah sebuah simbiosis mutualisme diantara keduanya.

Tidak adil memang memukul rata mereka dengan asumsi seperti itu, karena toh tidak semua selebritis yang bermunafik ria seperti itu. Ada sebagian bahkan banyak yang menjadi sadar dan merubah penampilannya pada bulan Ramadhan ini karena mendapatkan hidayah dari Allah SWT semata. Tak sedikit pula yang berniat mengenakan jilbab sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan sebagai seorang muslimah yang kaffah. Bahkan ada yang menjadi mualaf dari hikmah bulan Ramadhan ini. Oleh karenanya patutlah di acungi dua jempol pada mereka yang mengikrarkan diri untuk merubah hidupnya seperti itu. Karena dalam dunia selebritis yang penuh glamour dan gaya hidup hedonis tersebut, adalah hal yang muskil untuk melakukan hijrah.

Namun bagi mereka yang shaleh hanya pada saat Ramadhan saja karena takut tidak mendapat job syuting, maka ingatlah peringatan Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa tempatnya orang munafik di akherat kelak adalah neraka yang paling bawah, naudzubillah.

publish : abah.akuy’07

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: