Propaganda di Balik Derita

uss_abraham_lincoln

HAMPIR sebulan lamanya Aceh luluh lantak, sejak gelombang maha dahsyat Tsunami memporakporanda peradaban kota Serambi Mekah 26 Desember 2004, mata dunia pun langsung tertuju ke tanah rencong itu. Dunia berduka, hati manusia berada pada puncak empatinya, berton bantuan dan ribuan relawan, baik domestik maupun luar negeri berdatangan ke Aceh untuk memberikan semangat moril dan materiil bagi rakyat Aceh yang sedang ditimpa maha derita tersebut. Aceh pun berubah drastis, dari daerah yang enggan dikunjungi karena konflik berkepanjangan antara GAM dengan TNI, menjadi daerah paling banyak didatangi orang.

Lensa dan pena media pun diarahkan ke Aceh. Media lokal, nasional maupun internasional menjadikan Aceh sebagai Agenda Setting dan headline pemberitaannya –sehingga kejadian-kejadian lain hanya sebatas pelengkap saja–. Mereka (media) pun berlomba-lomba ingin menjadi yang pertama, terfaktual dan teraktual dari para pesaingnya. Sehingga semaraklah berita Aceh disajikan dengan berbagai kemasan, mulai dari sekedar berita, spot news, feature, dept reporting, investigasi, dan bentuk sajian lainnya yang lebih humanis.

Kita melihat di media, baik itu cetak maupun elektronik bagaimana masyarakat dunia begitu peduli pada penderitaan rakyat Aceh. Bantuan-bantuan terus berdatangan, baik dalam bentuk barang, uang, tenaga, atau sekedar janji manis semata. Bahkan beberapa negara kreditor Indonesia bersedia untuk memberikan Moratorium alias menangguhkan dan atau membekukan pembayaran utang Indonesia ke negara-negara tersebut.

Melihat itu semua, melihat Amerika, Singapura, Australia, Inggris, Jepang dan negara eropa lainnya peduli, hati kita pun terenyuh, lantas berujar ternyata barat tak sejahat yang kita kira, mereka ternyata begitu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; barat ternyata peduli pada umat Islam. Oleh karena itu segala perbuatan dan ulah barat yang merugikan dan melecehkan bangsa ini khususnya, dan umat Islam umumnya seakan terobati sudah oleh sikap empati yang mereka tunjukkan.

Tidak bisa dipungkiri memang, kehadiran asing di Aceh dirasakan banyak memberikan kontribusi dalam memulihkan kondisi fisik propinsi paling ujung Indonesia itu pasca Tsunami. Namun tidak sedikit pula menuai masalah baru, pemerintah kita sendiri pun mengaku cukup kewalahan dengan jumlah relawan asing di tanah Cut Nyak Dien tersebut, apalagi dengan makin bertambahnya kehadiran militer asing disana. Lagi pula untuk apa Amerika melabuhkan kapal induknya yang lengkap dengan pesawat-pesawat perang dan pasukan siap tempurnya itu jika hanya untuk sebatas misi kemanusiaan ?.

Disini dibutuhkan ketegasan pemerintah Indonesia dalam mensikapi persoalan tersebut, karena bagaimanapun kehadiran asing di Aceh harus tetap berada pada posisi second helper, atau dibawah koordinasi penguasa setempat. Karena jika dibiarkan begitu saja bisa mendatangkan masalah baru. Semakin banyak asing yang masuk ke Aceh, maka aktivitas mereka akan sulit terkontrol, dan tidak menutup kemungkinan aktivitas mereka itu bukan sekedar untuk misi kemanusiaan semata namun ada kepentingan lain dibalik itu.

Kita memang harus menyambut baik setiap bantuan yang ditawarkan oleh asing, termasuk Amerika, namun kita juga harus selalu waspada akan segala motif yang ada dibaliknya. Itu adalah hal yang wajar sebagai sikap antisifasi, apalagi jika melihat karakter Amerika yang terkenal dengan kebijakan standar gandanya, buktinya saja Menteri luar negeri Amerika, Collin Powell saat datang ke Indonesia beberapa waktu lalu secara tegas kepada media mengatakan bantuan kemanusiaan negaranya tersebut sarat bermuatan politis, yakni untuk meredakan sentimen anti-Amerika dan mencari simpati dunia, terutama dunia Islam dan rakyat Indonesia yang nota bene mayoritas Islam.

Melihat fenomena tersebut, adalah hal yang ironi sekaligus miris melihat rakyat muslim Aceh ‘dibantu’ oleh barat yang nota bene bersebrangan dalam hal keyakinan aqidah. Lantas kemana peran negara-negara berbendera Islam, semacam negara-negara di timur tengah atau lainnya. Benarkah mereka tidak sepeduli barat terhadap derita rakyat Aceh?.

Sebagian dari kita mungkin berasumsi negara-negara Islam kurang perhatian terhadap derita saudara seimannya itu, jika melihat tayangan-tayangan di televisi yang minim bahkan hampir tidak ada berita yang menyangkut hal itu.

Sampai saat ini kita tidak tahu berapa nominal bantuan yang diberikan Arab Saudi misalnya, atau berapa ribu sukarelawan dari timur tengah yang berada di Aceh untuk mengevakuasi mayat dan merehabilitasi infrastruktur di sana. Nyaris tidak ada pemberitaan tentang itu.

Jadilah kita bertanya-tanya, apakah memang negara-negara Islam tidak begitu peduli pada Aceh, atau karena kontribusi mereka itu luput dari lensa dan pena media. Karena yang tampak dimata hampir semua media yang ada menayangkan begitu tanpa pamrihnya barat dalam memberikan bantuan ke Aceh, dan begitu besar rasa empati para sukarelawannya terhadap derita rakyat Aceh. Bahkan melalui layar kaca dan gambar di koran juga kita bisa menyaksikan betapa rakyat Aceh menaruh harap kepada para sukarelawan asing dibandingkan dengan saudaranya sendiri yang datang jauh dari pulau Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan daerah lainnya.

Benarkah itu semua sebagai sebuah kenyataan di lapangan, atau hanya sekedar pembentukan opini saja yang dijalankan oleh roda kapitalis media dalam menjalankan fungsi propagandanya.

Oleh karena itu mulai saatnya bagi kita untuk bisa mensikapi setiap pemberitaan secara arif dan berimbang. Dalam teori komunikasi ada konsep yang menegaskan bahwa sebagai komunikan (penerima informasi-red), kita tidak boleh mengambil arti dari informasi yang kita diterima, namun cukup memberi arti saja. Karena jika kita menerima secara mentah setiap pemberitaan yang disampaikan oleh media, terlebih lagi media kapitalis, kepanjangan tangan Yahudi apalagi antek Zionis, maka paradigma berfikir kita akan berubah (baca:pro) terhadap barat, padahal barat melalui press imperium nya sedang mempropaganda opini kita. Maka benarlah apa yang pernah ditegaskan Alvin Toffler : “Barangsiapa yang menguasai informasi (media), niscaya akan menguasai dunia.

posted : abah.akuy’08

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: