Sudah Benarkah Shalat Kita ?

“Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia telah menghancurkan agama,”

Oleh : Firman Taqur, S.Sos

Kutipan hadist di atas mengandung makna yang fundamen, betapa pentingnya eksistensi shalat dalam kehidupan. Shalat diibaratkan sebagai sebuah pondasi bangunan yang menentukan tegak berdirinya bangunan tersebut. Dapat dibayangkan bagaimana struktur sebuah bangunan jika tanpa/rapuh pondasinya, niscaya seiring berlalunya waktu bangunan tersebut akan roboh dan luluh lantak.

Jadi urgensinya, seorang muslim adalah ia yang shalat. Namun shalat yang bagaimana yang harus dikerjakan agar kelak diterima di sisi Allah SWT ?, karena nyatanya tidak sedikit orang yang shalat namun shalatnya kelak hanyalah sebuah kesia-siaan belaka; Allah SWT tidak menerima shalatnya itu. Seperti yang ditegaskan dalam Firman-Nya.

“Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya, yang ingin dipandang dan yang tidak mau memberikan pertolongan,”

Ayat tersebut bisa menjadi perenungan bagi kita, ternyata harus benarnya shalat itu dikerjakan. Kita semua tahu bahwasannya shalat merupakan amal yang paling dahulu yang akan dipertanggungjawabkan di pengadilan akhirat nanti, bila baik shalatnya, maka niscaya akan baik pula seluruh amalannya, namun bila rusak shalatnya rusak jualah semua amalannya. Lantas timbul pertanyaan dalam benak kita, apakah shalat yang selama ini kita kerjakan sudah benar dan akan diterima disisi Allah SWT ?.

Untuk mengukur apakah shalat kita itu sudah benar atau hanya akan menjadi kesia-siaan berlaka setidaknya ada lima ciri atau sifat dari orang yang shalatnya akan diterima oleh Allah SWT, diantaramya :

Pertama – Orang yang benar shalatnya adalah mereka yang merendahkan diri dengan shalatnya. Allah hanya akan menerima shalat seseorang yang dilakukan dengan penuh tawadhu kerena kebesaran dan keagungan-Nya. Orang yang tawadhu dalam melakukan shalat adalah yang penuh kekhusyukan. Saat takbir dilafalkan maka terpancanglah hatinya kepada Allah ta’alla, ia merasa tak berdaya dihadapan sang pencipta yang menghidupkan serta mematikannya.

Kekhusyukan dalam shalat tersebut haruslah dimulai dengan keyakinan dan ketetapan hati, oleh karena itu sebelum shalat luruskanlah pancaran hati kita. Kekhusyukan tidak akan pernah tercapai bila kecintaan terhadap kehidupan duniawi masih membelenggu kalbu dan pikiran, oleh karenanya putuskanlah semua cabang hati yang berkaitan dengan urusan dunia itu dan resapilah bahwa saat shalat kita tidak lagi berada didunia ini, kita seolah mi’raj menemui zat yang maha agung, rasakan bahwa Allah sedang berada dihadapan kita, menatap kita, mengawasi segala gerak gerik kita, mendengarkan permohonan kita, menyaksikan rukuk dan sujud kita dan merasakan desah nafas serta detak jantung kita, yakinkan pada hati bahwa kita sedang berkomunikasi langsung dengan-Nya.

Kedua – Orang yang baik atau khusyuk shalatnya mustahil ia akan mempunyai sifat sombong, kenapa tidak shalatnya telah membentuk pribadi yang tawadhu dan rendah hati terhadap kebesaran sang Khalik. Ia menyadari hanyalah seorang hamba yang mempunyai ketidakberdayaan dan keterbatasan.

Pun halnya dengan kita, apa yang hendak kita sombongkan dari diri ini. Harta !, itu hanyalah titipan semata yang suatu saat nanti akan diambilnya kembali, maka berhati-hatilah dengan harta yang kita miliki, karena harta tersebut dapat menjadi bara di akhirat kelak jika kita tidak mampu menjaganya dengan baik.

Tahta !, itu juga hanyalah sebuah fatamorgana fana, karena semua manusia hakekatnya sama dihadapan sang pencipta, semuanya sujud dan rukuk dihadapan Robbul izzati, apalah arti laksamana jenderal, itu hanyalah pangkat kekuasaan yang maya. Apalah makna doktor profesor, dengan ilmu yang kita miliki, tak ada artinya bila ditandingkan dengan luasnya lautan kalam Illahi.

Simak perumpamaan seekor burung camar yang mengambil air dengan paruhnya, air yang diambil oleh burung camar tersebut adalah ilmu yang dimiliki seluruh manusia dijagat ini, sementara air laut yang menghampar tak berujung adalah ilmu Illahi. Maka masih pantaskah kita menyombongkan diri yang tak seberapa ini. ketahuilah bahwa kesombongan akan mencelakakan kita baik didunia sekarang maupun diakhirat kelak. Renungkanlah sabda Rasulullah SAW berikut ini.

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong, walaupun hanya sebesar debu saja,”

Tidak cukupkah bukti yang diperlihatkan Allah kepada kita, bagaimana kesombngan dan kecongkakan dapat menghancurkan dan mencelakakan. Pelajarilah kisah Qorun, seorang manusia yang sangat kaya dengan bergudang-gudang kekayaan, tumpukan hartanya merupakan simbol dari kesuksesannya, sehingga dengan begitu angkuh dia mengatakan bahwa segala apa yang telah didapatkannya adalah karena usaha dia semata-mata, dia menyangsikan Allah yang maha kaya, karena kesombongannya itulah Allah membenamkan dia bersama seluruh hartanya ke dasar bumi untuk selama-lamanya.

Pun halnya dengan Raja Fir’aun atau Pharao Rhamses II, yang dengan sungguh sangat sombong menobatkan diri sebagai raja diraja tuhan manusia, seorang pendewa tahta dan kekuasaan yang lupa pada hakekat diri yang sesungguhnya, karena keangkuhannya-lah dia tenggelam kedasar samudera yang kelam, seorang “Tuhan” tenggelam, sungguh menghinakan bukan !.

Itulah peringatan bagi orang yang diberikan amanat untuk memangku jabatan dan kedudukan. Itulah bukti nyata dan janji Allah kepada kita, andai kita benar dan khusyuk dalam shalat tentunya tidak akan tertanam sifat sombong pada diri ini, dengan kata lain ketawadhuan kita dalam melaksanakan shalat adalah penawar kesombngan hati yang dapat membinasakan kita didunia terlebih diakhirat kelak.

Ketiga – Orang yang shalatnya akan diterima adalah dia yang tidak mengulangi kemaksiatan atau dosa kepada Allah. Seorang muslim tidak akan terperosok dua kali kedalam lubang yang sama, itulah perumpamaan bahwasannnya kita harus berhati-hati dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Adakalanya kita lalai dan lupa, sekali waktu kita mungkin pernah melakukan perbuatan dosa dan kesalahan baik itu dalam tindak maupun ucap, baik yang disengaja maupun tidak, baik yang kadarnya kecil maupun besar, terkadang pula kita tersilap gemerlap harta dan terpana rayuan tahta, padahal itu semua hanyalah sebuah panggug sandiwara, penuh kenisbian dan sarat rekayasa. Apalah arti kehidupan yang fana ini kalau kita hanya menjadi seorang pendosa yang durja.

Shalat yang akan diterima adalah shalat yang mampu menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Oleh karena itu makna shalat haruslah kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini termaktub dalam ayat Alqur’an yang menegaskan bahwa “Shalat menghindarkan dari perbuatan keji dan munkar ….”

Keempat – Jika benar shalatnya maka ia akan senantiasa mengisi sebagian harinya dengan berzikir kepada Allah SWT, selalu mengingat akan kehadiran-Nya sehingga dalam menjalankan aktivitas kehidupannya ia senantiasa terpelihara dari segala perbuatan maksiat dan dosa. Dalam sebuah ayat ditegaskan bahwa ”Dengan mengingat Allah hati menjadi tentram,”

Kita senantiasa harus ingat kepada Allah SWT, dimanapun dan dalam keadaan apapun, yakinkan pada hati bahwa Allah senantiasa melihat kita, menyaksikan setiap gerak hidup kita. Shalat yang benar adalah shalat yang mampu membentuk pribadi yang takut kepada Allah SWT, tidak berani melakukan kecurangan, kemaksiatan dan kemunkaran. Berdizir kepada Allah bukan semata lafalan dzikir semata, namun lebih dari itu, berdikir kepada Allah adalah menyakini bahwa Allah senantiasa melihat, menyaksikan dan tidak pernah luput pandangan-Nya terhadfap apa yang kita perbuat. dalam hidup. Orang yang selalu ingat kepada Allah SWT niscaya akan terpelihara dari segala perbuatan keji dan munkar.

Kelima – Jika kita adalah orang yang senantiasa menyayangi fakir miskin, menyantuni anak yatim, selalu membantu orang yang sedang tertimpa musibah atau kesusahan, baik pada tetangga dan menjaga perasaan orang lain dengan lisan kita, yakinlah bahwa kita termasuk orang yang shalatnya akan diterima oleh Allah SWT. Namun sebaliknya, jika kita membiarkan tetangga kita mati kelaparan sedangkan kita kekenyangan, tidak memilki rasa iba sedikit pun terhadap orang yang sedang ditimpa musibah, acuh tak acuh terhadap kesusahan tetangga kita, maka shalat yang selama ini kita kerjakan itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.

Shalat yang benar adalah shalat yang mampu membentuk pribadi pelakunya menjadi seorang insan yang mulia, berbudi pekerti dan bertutur kata teladan, memiliki rasa empati yang tinggi dan memiliki jiwa sosial yang besar dan tidak akan tinggal diam melihat penderitaan orang lain dan gerah menyaksikan ketidakadilan.

Akhir kata alangkah bijak jika kita bertanya pada diri sendiri apakah kita termasuk kedalam ciri-ciri atau sifat dari orang yang akan diterima shalatnya oleh Allah SWT itu, atau sebaliknya, setiap waktu sebanyak lima kali kita tak pernah luput mengerjakan shalat namun dalam kehidupan nyata kita masih memiliki rasa sombong dan angkuh tehadap sesama, memamerkan kekayaan, menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan dengan membohongi masyarakat, memanipulasi data, mencuri uang kantor, dzalim kepada sesama, menghasut sesama rekan, kerap melakukan maksiat dan munkar, berjudi, berzina dan minum-minuman alkohol, maka ingatlah bahwa kelak saat pengadilan akhirat didepan mata kita, Allah SWT akan melipat shalat kita layaknya pakaian lantas dilemparkannya kewajah kita, ! Allah SWT tidak menerima shalat kita. Naudzubillah.

~ by secangkirkopipagi on September 25, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: