Ada Diskon di Sasak Gantung

BAGI warga Kota Cianjur, berbicara Sasak Gantung sama saja dengan membicarakan dunia esek-esek. Betapa tidak, kawasan yang terletak di selatan jantung Kota Cianjur itu sudah lama dijadikan tempat mangkal para perempuan malam alias kupu-kupu malam alias Penjaja Seks Komersial (PSK) alias pelacur.

Banyak sebenarnya sebutan bagi mereka, seperti dongdot, ublag, pukimai, bayur, jobong, bispak, joli, bohay, bondon, perek, julmek, pelacur, bongkeh, pecun, dan aneka sebutan lainya.  Namun tetap saja aktivitas kerjaannya sama, yakni jual berahi demi materi.

Sebagai seorang penganut empirisme, saya tidak lantas percaya pada cerita tersebut.  Meskipun memang setiap malam sering saya saksikan di daerah itu banyak sekali perempuan yang lalu lalang atau yang nongkrong.  Seperti di depan Kantor PU (Dinas Binamarga) –yang kebetulan lokasinya tepat berada dikawasan tersebut–, di atas jembatan, dan di kios-kios rokok atau di warung-warung angkringan.  Namun bukan berarti dan belum tentu mereka itu PSK `kan, itu suudzon alias fitnah namanya.

Maka dari itu untuk membuktikan omongan urang Cianjur tersebut, sejak Maghrib tadi saya dan kawan saya sudah membuat rencana bahwa malam ini akan melakukan “investigasi” tepatnya mah kukurilingan ke tempat-tempat yang disinyalir sebagai kawasan mangkal para PSK Gerbang Marhamah itu.

Malam itu malam Minggu, jarum jam menuding angka 11, berarti malam sudah sangat hitam.  Sejak pukul 9 tadi, kami sudah parkirkan mobil di pinggir jalan di seputar kawasan itu.  Suasana tak ada yang istimewa, berjalan seperti malam-malam biasanya.  Meskipun kawasan itu sejak tadi ramai dengan orang-orang yang berseliweran, namun secara perlahan mulai menghilang satu demi satu.  Dan dari tadi tak terlihat adanya semacam transaksi berahi di sekitar kawasan itu.

Meskipun malam sudah jatuh pada kelam, namun masih terlihat beberapa orang perempuan yang wajahnya samar-samar masih duduk-duduk di depan warung angkringan dekat pos penjagaan polisi lalu lintas yang sudah tidak terpakai.

Kesabaran kami rupanya membuahkan hasil. Tak berapa lama sebuah motor berhenti di atas jembatan itu.  Tiga orang perempuan yang duduk-duduk tadi lantas menghampiri dan perbincangan hangat pun tergelar.  Namun entah apa yang dibicarakan oleh mereka berempat itu, solanya saya berada di seberang jalan di balik kaca mobil.  Selang beberapa saat motor tersebut menderukan mesinnya lagi meninggalkan tiga orang perempuan itu.

Karena tidak ingin acara investigasi ini berhasil nihil, saya pun lantas memberanikan diri keluar dari mobil, lantas berjalan menuju depan gerbang Kantor PU yang terletak disamping jembatan Sasak Gantung itu.  Saya coba pancing perhatian dengan berdiri di sana seperti orang yang menunggu angkot.  Tak lama terlihat dari seberang seorang perempuan seperti hendak menyeberang, dan benar saja dia menyeberang dan langsung menghampiri saya.

Sosoknya sudah tidak lagi muda, usianya sudah setengah baya, mungkin saja ia sudah mempunyai beberapa cucu.  Saya pun langsung berhipotesis, bahwa dia bukan PSK tapi germo dari PSK-PSK yang ada di kawasan itu.  Tegur sapapun dimulai dan percakapan singkat pun lantas tergelar.

“Bade kamana, Kang?”

“Bade mulih, Bu,”

“Ah tong manggil Ibu atuh, Teteh wae lah.  Dupi mulihna kamana, Kang?”

“Ka handap.”

“Oh, eh Kang bilih bade hiburan ka istri (wanita-red) heula, teteh gaduh anu fresh keneh,” sambil memanggil perempuan-perempuan yang sedari tadi nongkrong di depan warung angkringan itu.

“Ah heunteu teh, Tos wengi bade uih,”

“Ih mani kitu Si Akang mah! Murah ieu mah! Sok lah didiskon. Ti tadi karunya teu acan aya anu ngaboking.”

“Hatur nuhun Teh. Sanes waktos we nya.”

Saya pun lantas berlalu meninggalkannya dengan langkah setengah berlari menuju daerah Pataruman Gudang.  Tidak berapa lama teman saya menyusul dengan mobilnya, saya pun lantas masuk.  Kini saya yakin 1000 % seyakinnya bahwa kawasan Sasak Gantung itu ternyata memang tempat transaksi jual diri.

Kami pun lalu melanjutkan acara kukurilingan ke kawasan Muka, tepatnya daerah bekas terminal lama.  Karena konon kabarnya di situ juga sering dijadikan tempat mangkal para PSK, dan katanya dijamin masih muda. Beda dengan PSK yang di Sasak yang kebanyakan sudah dewasa (sekitar 25 tahun keatas).  Harganya pun lumayan, dari mulai 50 ribu sampai 100 ribu, beda dengan di Sasak Gantung yang bisa jatuh sampai 25 ribu saja sekali kencan.

Berjarak lebih kurang 1 km dari Kawasan Sasak Gantung, kamipun berhenti di sekitar terminal lama itu, tepatnya 10 meter dari arena gelanggang renang.  Dua perempuan yang masih terlihat muda, terlihat sedang “mengobrol” dengan seorang laki-laki dari balik jendela mobil sedannya.

Entah apa yang diperbincangkan, namun selang beberapa menit, laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya.  Dan heup…, dua orang perempuan itu serempak masuk kedalam.  Maka pergilah mereka bertiga yang langsung kami kuntit dari belakang.  Namun di perempatan jalan dekat Kantor DLLAJR –sekarang Dishubpar– mereka belok ke arah Jalan Raya Bandung, mungkin menuju ke penginapan yang lagi-lagi kata urang Cianjur sering dijadikan tempat para hidung belang dan wanita jalang mengumbar berahinya.

Namun untuk hal itu saya masih belum percaya kalau penginapan itu dipakai buat tempat esek-esek.  Mungkin malam minggu depan saya akan datangi tempat itu untuk membuktikannya.

@sasak’04

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: