Ada Jatohan di Pasar Beas

DUNIA ojek memang selalu menyimpan banyak cerita, dari yang unik, menggelitik sampai kisah yang menggenaskan.  Jasa angkutan publik jenis ini kini seperti jamur dimusim penghujan, semakin hari semakin bertambah saja para pengojek –atau biasa dipanggil tukang ojek– itu.

Di Cianjur misalnya, hampir disetiap sudut tempat marak dan semarak bermunculan pangkalan ojek.  Mulai dari perkampungan sampai ke komplek perumahan yang tergolong elit, tukang ojek banyak ditemui disana.  Bahkan disetiap pertigaan atau perempatan jalan selalu saja ada tempat bagi pangkalan ojek.

Namun pertambahan ini bukan semata menjadi pengojek merupakan profesi yang didambakan atau diminati banyak orang, justru sebaliknya, mereka yang terjun menjadi tukang ojek semata-mata karena terpaksa dan dipaksa oleh keadaan.  Banyak dari mereka yang awalnya bekerja dipabrik, diperusahaan, atau bahkan yang berstatus guru maupun pegawai pemerintah (PNS-red) banting setir menjadi pengojek, sebagai profesi utama atau sekedar pengisi waktu dan penambah setoran ke dapur.

Menjadi tukang ojek tidaklah semudah yang dikira, selain harus memiliki kemampuan dalam hal mengendarai sepeda motor, para pengojek ini pun harus selalu siap sedia  pasang mata pada situasi disekitarnya.  Pasalnya resiko mereka terlalu besar dibandingkan dengan uang yang mereka dapatkan.  Resiko terbesar dari tukang ojek adalah riskannya tindak kejahatan yang menimpa mereka.  Para tukang ojek ini harus menghadapi ancaman tindak kejahatan yang tanpa mengenal waktu dan tempat.

Sudah sering diberitakan media massa banyak sekali tukang ojek yang menjadi korban kejahatan curanmor, bahkan tidak sedikit yang harus mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan motor ladang usahanya itu yang kebanyakan diperoleh dengan cara menyewa atau mengkredit ke showroom motor.

Namun resiko akan selalu menjadi resiko, toh kehidupan harus tetap berjalan dan penghidupan harus terus dicari.  Motor ojek pun tetap melaju dijalan mulai dari yang di hotmix sampai ke jalan bebatuan dan setapak.

Terserang penyakit dalam juga merupakan bagian dari resiko sebagai tukang ojek, mulai dari batuk ringan, sesak dada, ispa (inspeksi saluran pernafasan atas), sampai paru-paru kronis atau TBC adalah ancaman serius lainnya bagi mereka, wajar saja pasalnya setiap hari tubuh mereka harus tegar menahan dan menerima terpaan angin dan polusi udara dijalan.

Peralatan pengaman diri pun tak kalah seru dari pasukan pengaman Brimob Polisi saat menghadapi para demonstran, mulai dari masker mulut, pelindung leher sampai rompi dada dan punggung yang semakin hari semakin keren saja kelihatannya.

Bahkan bagi para pengojek spesialis malam, menggunakan berlapis-lapis jaket sampai tujuh lapis adalah keharusan, selain itu sebilah golok atau sekedar sebatang besi pipih selalu siap sedia melindungi dirinya dari ancaman kejahatan yang memang lebih kerap terjadi pada malam hari dibanding siang.

Keadaan diatas adalah keadaan yang umum dari dunia ojek, dimanapun pangkalannya, dipasar, diperumahan ataupun diperkampungan selalu seperti itu.  Namun ada fenomena yang unik sekaligus nyinyir dari pangkalan ojek Pasar Beas Cianjur.

Pangkalan yang terletak tepat dipertigaan Jalan Prof Moch Yamin dengan Jl. KH Saleh Cianjur itu menyimpan satu cerita unik dari para pengojeknya yang semakin hari semakin bertambah saja jumlah anggotanya.  Tukang ojek dipangkalan itu biasanya menarik penumpang yang berasal dari perkampungan, seperti dari Kampung Leles, Kandangsapi, Cimuti, Munjul, Panyusuhan, Cibantala, Ciheulang, Cimenteng, sampai ke daerah Nangela.

Kondisi tempat-tempat tersebut meskipun sudah masuk aliran listrik namun pada malam hari gelap dan senyapnya bukan kepalang, tukang ojek akan berfikir seratus kali membawa penumpang kedaerah-daerah itu pada malam hari.  maklum saja daerah-daerah tersebut masih banyak menyisakan pohon-pohon besar dan area persawahan yang luas.

Dengan letak perkampungan yang masih terpencil-pencil dan tentunya selalu dijadikan kesempatan oleh para penjahat untuk melakukan aksinya kriminalnya.  Para pengojek di daerah Pasar Beas yang kerap mengojek pada malam hari selalu membekali dirinya dengan aneka senjata tajam.

* * *

Malam itu, Badri (40), –bukan nama sebenarnya–, sudah sedari maghrib memejengkan motor legenda II nya dibibir trotoar Pasar Beas.  Sebagai seorang pengojek spesialis malam, dirinya kerap menggunakan berlapis-lapis jaket, kontan saja tubuhnya tampak gemuk padahal berat badannya cuma 55 kg saja.  Namun rupanya bapak dari 2 anak yang ditinggalkan istrinya bekerja sebagai TKW ini sedang apes, pasalnya meskipun waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, namun belum juga ada penumpang yang tertarik dengan motor kreditan yang penuh dengan poletan ular naganya itu.  Badri pun hampir putus asa, namun rengekan anaknya untuk membawa sebungkus martabak telor spesial, membuatnya tetap setia menunggu datangnya rejeki.

Jarum telah menunjuk angka 12 malam, udara semakin dingin menggigil, para pengojek lain tampak sedang menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi di warung angkringan.  Namun Badri tetap tidak tergoda dengan kondisi itu, pasalnya sampai dini hari ini belum juga ada penumpang yang mau menggunakan jasanya.

Tiba-tiba pandangannya jatuh pada sosok yang terlihat turun dari sebuah mobil sedan yang tidak terlalu bagus didaerah Cikidang.  Disidik sosok itu ternyata seorang perempuan.  Tubuhnya dibalut selembar singlet dan celana jeans ketat hingga tampak mencetak pinggul demplonnya.

Perempuan itu perlahan berjalan menuju kearahnya, insting keojekannya timbul, Badripun langsung menyalakan mesin Legenda II nya itu, lantas dengan sapaan ramah sedikit menggoda menawarkan jasa.  Dan gayung pun bersambut sembari menyebutkan nama sebuah kampung perempuan itu langsung saja naik keatas jok motornya, Badri pun tanpa banyak tanya lagi langsung melajukan motornya diatas jalan Jl KH Saleh yang berlobang-lobang tak karuan.

Daerah yang dimaksud perempuan itu terbilang jauh, tidak sedikit para pengojek di Pasar Beas enggan mengantar penumpang kedaerah tersebut apalagi pada malam hari, pasalnya disamping angker karena melewati hutan kecil, tempat tersebut terbilang rawan, tercatat sudah lima motor pengojek yang raib dibegal orang yang tiba-tiba muncul dari kegelapan.

Namun Badri coba berprasangka baik pada penumpangnya malam itu, lagipula dia hanya perempuan, jika mengukur kekuatan, Badri pasti mampu menghadapinya jika memang perempuan itu berniat jahat, lagipula sebilah golok terselip dipinggangnya.  Badri pun dengan tenang melajukan motornya membelah kesunyian, melewati Selaeurih, Leles, Kandang Sapi, masuk kampung Ciheulang dan terus melewati kampung demi kampung.

Sepanjang jalan perempuan itu tidak banyak bicara, malah terlihat seperti orang yang sedang dirundung bingung, malah secara tiba-tiba kepalanya dijatuhkan ke pundak Badri dan tangan perempuan itupun melingkar dipinggangnya, kontan saja Badri dibuat panas dingin oleh ulah perempuan yang berusia sekitar 27 tahunan itu, namun tetap dia berusaha bersikap sebagai pengojek profesional.

Tak berapa lama mereka pun tiba di kampung yang disebutkan perempuan itu, Badri pun melajukan pelan motornya, tapi secara tiba-tiba perempuan itu menyuruhnya berhenti disebuah gardu yang tampak kosong dan jauh dari perkampungan.  Badri mulai bersikap waspada, namun tetap memberhentikan motornya, perempuan itu pun lantas turun dan mengatakan sesuatu yang membuat Badri dibuat parno.

Kang abdi mah da teu gaduh artos, bayarna kumaha akang we lah hoyong naon, bilih akang hoyong ka abdi mah sok wae, tuh diditu aya gardu hayu atuh kang,

Badri pun tercengong, tercengang dan tercengung, perasaannya bercampur aduk, kaget, heran, gembira, bingung dan lain-lainnya. Jantungnya turun naik, keringat dingin tambah mengalir saja dari kerah jaketnya lantas membasahi punggungnya.  Malam itu Badri layaknya seekor kucing, yang didatangi seekor ikan yang dengan penuh kerelaan jiwa meminta sang kucing untuk melahapnya, nah kucing mana yang nggak doyan sama ikan?.

Tiba dipangkalan Badri pun langsung memburu teman-temannya yang terlihat sedang asyik bermain kartu domino.  Meledaklah mulut Badri dengan kejadian yang baru saja dialaminya,  serta merta menggelegarlah tawa dari teman-temannya itu.

Maka cerita-cerita sama pun keluar dari mulut pengojek yang lain. Sebut saja Tarjo (37), –juga bukan nama sebenarnya—adalah pengojek kahot Pasar Beas, diakuinya kejadian yang menimpa kawannya Badri sering dia alami sendiri, biasanya setiap malam minggu Tarjo sering menarik perempuan yang dalam tata bahasanya disebut perempuan jatohan.  “Lumayan lah gratisan, namanya juga jatohan,” ujarnya sedikit malu-malu yang langsung diamini oleh rekan-rekan sesama pengojeknya.

* * *

Pasar Beas menunjukkan pukul setengah dua malam, Tarjo, Badri, dan para pengojek lainnya tampak kedinginan menyambut subuh.  Sebuah mobil kijang kapsul tampak berhenti diseberang pangkalan,

“Jatohan euy,” teriak Tarjo terjaga.

Badri, Tarjo dan yang lainnya langsung sigap tancap gas, memburu perempuan yang keluar dari dalam mobil kijang tersebut.

@cikidang’05

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

One Response to “Ada Jatohan di Pasar Beas”

  1. hahai deudeuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: