Ada Orang Gila Baru

PEMILU sudah usai, KPU dan Panwaslu sebagai pihak yang paling berkompeten terhadap sukses tidaknya ajang pesta rakyat tersebut sudah selesai melaksanakan tugas dan kinerjanya.  Masyarakat sudah selesai menyalurkan aspirasi pada partai pilihannya dan calon legilsatif idolanya, dan seluruh partai peserta pemilu itu pun sudah usai bertarung diarena panggung politik tersebut.

Namun hegemoninya masih terasa sampai saat ini, bahkan berbagai persoalan menyeruak kepermukaan, berbagai kecurangan disinyalir banyak dilakukan oleh para peserta maupun penyelenggara pemilu, banyak ditemukan berbagai intrik dan konspirasi, bahkan aksi suap menyuap aspirasi dengan uang hangat dibicarakan dan diperdebatkan.

Masyarakat pun dibuat bingung, bukan bingung oleh partai mana atau caleg mana yang harus dipilih namun siapa yang salah dan salah siapa, karena para pelaku dan penyelenggara pemilu tersebut kini sedang saling menunjuk muka siapa menyalahkan siapa.

Akan tetapi terlepas dari bermacam ekses tersebut, pemilu memang sudah usai, ada yang pulang sebagai pemenang namun tak sedikit yang pulang sebagai pecundang.

Ada yang gembira namun banyak yang harus berduka mengurut dada.  Di Cianjur misalnya Partai – partai besar dan lama kembali menunjukkan tajinya dengan perolehan suara yang signifikan.  Sementara partai-partai kecil yang baru kembali hanya menjadi penggembira saja.

Para calon legislatif yang berangkat dari partainya masing-masing pun tentu sudah melihat hasilnya, apakah dirinya berhasil masuk jajaran anggota dewan untuk masa 5 tahun mendatang atau malah kembali ke kantor DPC nya !  Yang jadi tentunya rasa gembira sedang membahan didalam dadanya, dan yang gagal tentulah kiamat bagi yang menimpanya, karena usaha dan upayanya selama kampanye sia-sialah sudah, apalagi jika pengorbanannya itu berupa lembaran demi lembaran rupiah, maka kecewa adalah kalimat yang tepat ditujukan pada mereka.

Sebelum pemilu berlangsung, salah seorang calon legislatif dari partai X pernah sesumbar bahwa dirinya rela mengorbankan segala harta bendanya, bahkan rela untuk menggadaikan rumah mewahnya demi biaya kampanye atas dirinya,

“Saya tidak  terlalu risau dengan berapa biaya yang telah saya keluarkan, toh nanti kalau saya jadi anggota dewan uang itu bisa kembali lagi,” begitu ucapnya yakin tempo hari,

Dan apa kabarnya caleg itu, apakah dia sedang bersuka cita atau malah berduka lara meratapi kekalahannya.  Apakah namanya banyak dicoblos orang atau tidak.  Kasihan nian jika dia sekarang sedang duduk termenung memikirkan surat gadai rumahnya itu.  Namun jika dia benar terpilih, mungkin agenda pertama sebagai anggota dewan perdananya itu adalah merealisasikan program pengembalian uang kampanye atas dirinya untuk menebus surat gadai rumahnya itu.

Banyak yang terjadi dan yang dialami oleh caleg pasca pemilu itu, seperti yang dialami oleh salah seorang caleg dari daerah pemilihan Cianjur 2, dirinya kini harus berurusan dengan ruang ICU karena terkena stroke setelah melihat namanya tidak masuk jajaran anggota dewan angkatan 2004.

Bahkan ada seorang caleg yang harus berurusan dengan pihak KUA setempat untuk mengurusi perceraian dengan istrinya.  Pasalnya setelah namanya resmi tidak terpilih, ia menjadi seorang pemarah besar yang murang maring dan buntang banting, kontan saja sikapnya itu membuat seisi rumahnya gerah dan resah, terutama sang istri tercinta yang pada akhirnya menuntut caleg gagal itu untuk menceraikan dirinya.

Namun ada juga caleg yang begitu legowo dan berlapang dada saat dirinya gagal menjadi anggota legislatif, “Saya menjadi caleg itu semata-mata karena masyarakat yang meminta, namun jika ternyata tidak terpilih, itu sudah menjadi resiko dan konsekuensi saya, bahkan kekalahan ini merupakan bukti bahwa saya ternyata kurang dipercaya oleh masyarakat, sehingga harus lebih memperbaiki diri dikemudian hari,” ucapnya pasrah.

Cerita diatas mungkin hanya secuil dari apa yang serkarang dialami dan dirasakan oleh para politikus dan fungsionaris partai yng telah turut berpartisifasi dalam ajang pesta rakyat bulan lalu itu, yang jadi anggota dewan siap-siaplah untuk hidup senang, namun yang gagal alamat kecewa yang akan ditangungnya setidaknya selama lima tahun mendatang.  Itulah panggung politik, kejam dan tak berbelas kasihan, namun para pelakunya (politikus-red) jauh lebih kejam.

Apapun yang dialami oleh celag-caleg seperti di Cianjur tersebut, setidaknya bisa memberikan ajaran kepada masyarakat bahwa seberapa ikhlas hati mereka untuk menjadi wakil-wakil rakyat tersebut,  karena jika gagal sebagai anggota dewan namun niatnya ikhlas tentu akan menerima kekalahannya tersebut dengan ikhlas pula, secara legowo dan sportif, serta menjadikan kekalahannya itu sebagai ajang pembelajaran dan pendewasaasn diri, namun jika gagal dan kecewa berat apalagi keluar sumpah serapah, entah niat apa yang ada dibenaknya saat itu..

Sedangkan yang berhasil menjadi anggota legisltaif tentunya itu bukan sebuah wujud kemenangan yang substanstif, justru hal itu merupakan tanggung jawab besar yang akan dihadapinya kelak, karena substansi dari kemenangan pemilu adalah kemampuannya untuk membuktikan segala janji-janji semasa kampanye dulu.

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: