Buru Atuh Arek Moal Ieu Teh!

MALAM itu waktu menunjukkan pukul sepuluh teng, tidak kurang pun tidak lebih. Jalanan di sepanjang kota Cianjur sudah sangat sepi.  Mobil-mobil merah (baca: angkot) sudah tidak lagi terlihat seliweran cari penumpang. Tempat-tempat tongkrongan masih terlihat ramai oleh muda-mudi yang sedari tadi memadati area tersebut.

Aneka kostum, ragam aksesoris semarak berserak. Eneng-eneng geulis dan ujang-ujang kasep berbaur dalam simposium emperan tanpa makna. Ngobrol sana kemari, ngaler-ngidul, ngetan-ngulon, dengan tema yang itu-itu melulu. Kalau bukan masalah harta, pasti gaya, kalau nggak gaya tentunya all about wanita.

Selepas adzan maghrib berkumandang, tempat itu selalu dipadati oleh anak-anak muda Cianjur.  Banyak sekali orang yang berada di area parkir di kawasan mall terbesar dan satu-satunya di kota Cianjur itu. Setiap senti ruas bangku penuh sesak oleh gadis dan perjaka Cianjur yang asyik dengan kesibukannya masing-masing.  Malah tak sedikit yang sedang masyuk bermain bara api asmara cinta di pojok sana.

Malam itu malam minggu, dan tentunya sangat cocok dihabiskan untuk ber-week end ria bersama keluarga, teman, sahabat, kawan, apalagi pacar.  Namun istilah week end-an agaknya tidak berlaku bagi saya. Sebagai seorang kuli tinta yang di kejar dead line.

Sejak pagi tadi saya sudah mondar-mandir di kawasan Cianjur, menemui sumber berita, nyari-nyari berita, dan kadang nyari-nyari masalah.  Tapi sampai malam tenggelam sumber berita tidak ada apalagi berita yang dicari.

Maka terdamparlah saya di salah satu sudut mall tersebut.  Mencoba memaknai aneka perilaku yang berkarakter unik satu sama lain.  Hingga terbersit dan termaktub dalam diri bahwa ada rasa “kekaguman” saya pada anak muda Cianjur sekarang. Mereka sudah mampu berpenampilan trendy, fangkeh, stlyist, elegant, pokoknya banyaklah yang dapat diungkapkan sebagai wujud kekaguman saya itu.

Dari segi fisik, ternyata masyarakat Cianjur sudah mulai paham akan fungsi gizi dan suplemen, terbukti dari produk-produk yang dihasilkan, yang mencetak  jajaka-jajaka anu kararasep dan mojang-mojang anu gareulis.  Saya yang hampir 5 tahun meninggalkan kota kelahiran ini sampai tercengang menyaksikan perubahan yang terjadi, wuih, anak Cianjur ayeuna mah gaul abis euy, edun pisah lah, mungkin itu luapan emosi saya terhadap kondisi ini.

Hampir satu jam saya berdiam diri di tempat tongkrongan itu.  Begitu banyak bujal-bujal lalu lalang, namun tak ada satu bujal pun saya kenal.  Saya pun lantas beranjak untuk mengisi perut yang sedari tadi melantunkan irama keroncongan.  Tiba di sebuah kafe kecil yang terletak tepat di jantung kota Cianjur, saya singgah dan bersantap sekedarnya.

Seorang perempuan sedang duduk di sebelah saya.  Jam 11 malam itu.  Hmm, apa gerangan seorang perempuan masih berkeliaran di jalanan saat temaram sudah sangat hitam.  Ia tersenyum dan perkenalan pun terderai. Sebutlah namanya Yusi.  Ia sedang menunggu seseorang “yang baru dikenalnya” lewat telepon selular.  Ngobral cerita pun tergelar.  Yusi terbilang tipe perempuan terbuka pada orang yang baru kenal.  Buktinya baru saja kenal dengan saya, dia sudah cerita banyak tentang dirinya, padahal saya nggak minta lho.

Tak berapa lama sebuah mobil kijang kapsul putih berhenti di depan kafe.  Ia pun lantas berpamitan dan langsung nyelusup ke dalam mobil tersebut.  Dalam hitungan detik mobil itu langsung tancap gas.  Si akang pemilik kafe lantas menyambut keheranan saya.  Ia kasih tahu apa yang akan dilakukan oleh perempuan bernama Yusi itu berserta laki-laki yang berada di balik kemudi kijang kapsul putih.

Yusi, perempuan tinggi semampai berkulit sawo matang itu ternyata sudah sangat siap berkencan.  Ia yang berasal dari salah satu sudut kota Cianjur ternyata seorang perempuan malam.  Pemilik kafe itu juga memberitahu saya tentang siapa laki-laki di balik kemudi yang tak punya keberanian untuk keluar dari kijang kapsul putih tersebut. Haah, salah seorang pejabat di Cianjur !, aku cuma terkekeh.  Rupanya malam itu ia sedang beruntung, kalau saja ia turun dan bertemu muka dengan saya, maka 1- 0 untuk pejabat itu.

Saya lantas pergi meninggalkan kafe kecil itu.  Melaju di atas motor bebek hasil pinjam dari teman.  Perkenalan singkat dengan perempuan tadi melahirkan sebuah inspirasi.  Maka saya bulatkan tekad bahwa malam minggu itu akan observasi terhadap perempuan-perempuan malam.  Layaknya orang linglung saya terus lajukan motor berputar-putar mengitari kota Cianjur.  Sebentar masuk jalan gang, lantas keliling lagi di jalan besar.  Dari Terminal Joglo yang letaknya di sebelah kidul sampai ke Terminal lama (Muka) di daerah wetan. Kembali lagi, dan begitu seterusnya.

Beberapa meter jaraknya dari kafe itu, tepatnya di tepi alun-alun kota.  Seorang perempuan sedang berjalan penuh beban.  Saya coba berhenti sebentar.  Mungkin pembaca tidak akan percaya bahwa saat itu ia langsung menghampiri lantas tanpa basa basi menawarkan “sesuatu”.  Dan mungkin pembaca lebih tidak percaya lagi  bahwa malam itu saya menolaknya.  Motor kembali melaju menuju daerah wetan.

Saya berhenti di sekitar Terminal lama (Muka) Cianjur, tepatnya 10 meter dari arena gelanggang renang.  Dua perempuan berusia sekitar 25 tahun terlihat sedang “mengobrol” dengan seorang laki-laki yang duduk di atas bantalan jok motor.  Karena gelapnya tempat itu maka wajah ketiga insan manusia tersebut tak jelas tampak rupa.  Namun apa yang di perbincangan oleh mereka kentara terdengar karena memang sunyi senyap mendera tempat itu.

“Saratus lah duaan,”

“Wah, murah teuing atuh, saya aja sendiri saratus, ini berdua !,”

“Yah itung-itung penghabisan atuh,”

“Kalau mau,  dua ratus,”

“Dua ratus mah mending ka tempat lain,”

“Yang penting servisnya mas, coba dulu,”

“Biasanya juga gocapan di dieu mah,”

Entah apa lagi yang diperbincangkan, soalnya saya harus jaga jarak agak jauh dari mereka supaya tidak ketahuan.

Selang beberapa menit, laki-laki itu menyalakan mesin motornya.  Dan HUP, dua perempuan itu serempak naik.  Maka pergilah mereka bertiga. Saya langsung kuntit dari belakang.  Namun di perempatan jalan dekat Kantor LLAJ Cianjur mereka belok ke arah Jalan Raya Bandung, sedangkan saya membelokkan stang ke kawasan By Pass.  Motor sengaja saya lajukan perlahan di sepanjang jalan By Pass.  Satu, dua, tiga, sampai empat perempuan saya temui sedang berdiri di pinggir jalan.  Bahkan seorang dari mereka menebar senyum beracunnya ke arah saya.

Tiba di kawasan Jembatan Sasak Gantung.  Seorang perempuan sedang dikerumuni empat laki-laki.  Dari atas motor yang sedang melaju, masih bisa terdengar apa yang diucapkan oleh perempuan itu.

Buru atuh, arek moal ieu teh,”

Hampir satu jam lebih saya berputar-putar mengitari kota Cianjur di malam minggu itu.  Entahlah mungkin saat pulang nanti saya harus kerokan atau bahkan langsung di serang bronchitis.  Waktu menunjukkan tengah malam.  Saya pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan membawa data cerita sekaligus sebuah pertanyaan ?.  Siapakah gerangan perempuan-perempuan malam itu ? Hmm, apa yang mereka lakukan malam itu di daerah Gerbang Marhamah ini !.

@alun-alun’05

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: