Dialog Budaya : Debat Kuda Kosong

ALIH – ALIH bertujuan untuk mencari format pemberdayaan seni dan budaya sunda yang ada di tatar Cianjur, namun yang terjadi adalah perang opini antara ulama dengan seniman, yang membahas dan mempersoalkan perspektif agama (ulama-red) terhadap keberadaan kesenian kuda kosong di Cianjur.

Entah siapa yang pertama kali membuka wacana tersebut, namun kondisi acara dialog budaya yang digelar oleh Paguyuban Pasundan Cabang Cianjur dan Forum Silaturahmi Peningkatan Mutu Sekolah Swasta (FSPMSS) dalam rangka memperingati HUT RI ke-58 dan Milangkala Paguyuban Pasundan ke-89, yang semestinya adem ayem berubah menjadi sedikit “tegang”.

Peserta pun jadi tergiring dalam pergulatan opini tersebut.  Rupanya persoalan boleh tidaknya kesenian kuda kosong di Cianjur yang berkembang tempo hari masih membekas dalam benak dan diri para pelaku yang terkait dalam masalah tersebut, sebutlah saja seniman Cianjur dan ulama Cianjur.  Ulama bersikukuh melalui lembaga formalnya melarang budaya kuda kosong karena sarat muatan mistis, sedangkan seniman Cianjur bersikeras budaya kuda kosong merupakan produk asli kebudayaan masyarakat Cianjur yang sudah selayaknya di lestarikan.

“Tidak seharusnya sebuah institusi dengan mengatasnamakan agama melarang suatu bentuk kebudayaan,” ungkap seorang seniman Cianjur.

“Kami melakukan pelarangan atas dasar kekhawatiran kami terhadap kondisi keberagamaan masyarakat Cianjur yang mayoritas muslim, karena dalam perspektif kami kesenian kuda kosong sangat rentan dengan perbuatan musyrik,” kilah ulama Cianjur.

Moderator pun bingung, berusaha untuk memberikan arahan kepada para narasumber itu agar kembali kepada koridor tema awal, namun rupanya ia di cuekin begitu saja, karena pembahasan kuda kosong sedang hot-hotnya di perbincangkan.

“Kami tidak akan melarang suatu kebudayaan, selama kebudayaan tersebut tidak bertentangan dengan syariat,” ujar ulama itu.

“Kebudayaan merupakan warisan yang berharga, tindakan pelarangan terhadap suatu kebudayaan merupakan sebuah tindakan pengkebirian terhadap aktivitas kebudayaan,” ungkap seniman itu.

Salah seorang peserta pun saking geli melihat situasi yang terjadi akhirnya tidak tahan untuk berceloteh,

Wah kumaha ieu teh, bukannya mencari format untuk memberdayakan budaya sunda yang sudah mulai luntur di masyarakat, malah jadi perang urat saraf begini, kalau begitu di ganti saja temanya jadi dialog kuda kosong,” seloroh salah seorang peserta acara yang enggan di sebut namanya.

Perang opini pun berlanjut dalam sesi tanya jawab, yang masih tetap berkutat pada dikotomis antara agama dengan budaya, dalam hal ini gonjang ganjing persoalan kuda kosong.  Sementara tujuan awal dari acara dialog yang ingin menemukan sebuah format pemberdayaan seni dan budaya sunda yang ada di tatar Cianjur tersebut terabaikan.  Bahkan sampai acara selesaipun tak ada satu pun konsep mengenai format pemberdayaan budaya sunda tersebut menyeruak kepermukaan.

Di samping itu acara yang sekiranya mampu mendatangkan anemo masyarakat, nyatanya sepi peserta, hanya berkisar kurang dari 50 orang peserta saja yang datang dan duduk menghadiri acara yang dilaksanakan di gedung para wakil rakyat berceloteh tersebut.  Hal ini tentunya merupakan salah satu indikator awal akan kurangnya perhatian masyarakat Cianjur terhadap persoalan budaya sunda.  Sementara itu entah sampai kapan seniman dan ulama Cianjur beradu argumentasi mengenai persoalan kuda kosong.

@pendopo

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: