Tablig Akbar yang “Romantis”

MALAM Jum’at itu (25/07) tidak seperti biasanya, alun-alun kota Cianjur penuh sesak oleh warga yang datang dari berbagai tempat di seantero Kabupaten Cianjur, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, akang-akang, teteh-teteh juga tak ketinggalan remaja-remaji alias para ABG tanggung, mereka semua tumpah ruah nan tumplek memadati setiap sudut alun-alun yang terletak di jantung kota tauco tersebut.

Bukanlah hal aneh kenapa malam itu alun-alun Cianjur menjadi begitu hangat oleh peluh keringat, karena memang malam itu sedang berlangsung acara tablig akbar yang merupakan bagian dari rangkaian acara dalam menyambut hari jadi Cianjur yang ke-326.

Meskipun kegiatan tersebut merupakan kegiatan “alternatif” dari agenda yang telah direncanakan, menyusul batalnya KH. Abdullah Gymnastiar, yang populer disapa Aa’Gym untuk tampil dalam acara tablig akbar tersebut.  Meskipun ada rasa kecewa bagi sebagian warga Cianjur atas pembatalan kiai pemimpin Ponpes Daarut Tauhid Bandung yang terkenal itu, namun sosok Arifin Ilham sebagai penceramah “pengganti” masih mampu menyedot warga Cianjur untuk berduyun-duyun datang ke alun alun.

Selepas adzan magrib berkumandang, alun alun sudah dihiasi oleh puluhan nyala lilin yang di berasal dari lapak-lapak para pedagang, terlihat seperti sebuah pagelaran atraksi sastra epik yang memancarkan pelita adegan roman.

Tepat pukul 8 malam, alunan nada yang mendayu nan merdu mulai membuka acara tersebut.  Warga mulai menyatroni bibir panggung lantas duduk dengan sikap sempurna.  Ringkikan gitar, dentuman bass, lengkingan vokal, gebukan drum dan erangan melodi terdengar berirama membentuk rangkaian nada yang syahdu.

Acara tablig akbar tersebut memang menyuguhkan rangkaian acara yang menarik, terlebih lagi penampilan grup qasidah yang sedang naik daun di Cianjur yakni Tatar Santri dengan mengusung lagu perdana sekaligus andalannya yang berjudul “Gerbang Marhamah”.

Semula saat grup qasidah itu mulai berdendang, saya sempat kaget dikira itu alunan sebuah musikalitas dangdut yang mendayu, yang lebih cocok diikuti dengan goyangan daripada memaknai substansi liriknya.  Namun saat saya melihat ke atas panggung, ternyata irama itu berasal dari komposisi warna musik qasidah.  Warga Cianjur yang memenuhi alun-alun itu terlihat begitu antusias menyaksikan Tatar Santri itu berdendang dan berkumandang, bahkan ada sebagian dari pengunjung yang mulai menggoyangkan badannya,

“Maaf tidak boleh bergoyang, karena ini acara tablig akbar, kalau mau bergoyang silahkan bergoyang sambil duduk atau bergoyang dalam hati saja,” terdengar ucapan panitia dari balik mikrofon yang langsung disambut ketawa-ketiwi warga.

Meskipun mereka tidak diperbolehkan memenuhi hasrat bergoyangnya namun tepuk tangan selalu membahana di awal dan akhir lagu yang dilantunkan oleh dara-dara qasider tatar Santri itu.

Setelah warga Cianjur dimanja oleh alunan suara merdu nan mendayu, mereka langsung disiram oleh kata-kata hikmah nan bijak dari kiai yang wajahnya selalu menghiasi layar televisi, yakni KH. Arifin Ilham.  Pengunjung pun tak kalah antusiasnya, hampir tak ada ruang kosong di alun-alun itu, semuanya padat dijejali oleh warga Cianjur.

Meskipun panitia telah membuat pagar pembatas untuk untuk memisahkan insan perempuan dengan laki-laki, –atau dalam kegiatan semacam itu lazim dipanggil ikhwan dan akhwat–, namun pembatas itu seakan hilang ditelan kerumunan orang, maka berbaur dan bercampur aduklah orang-orang dari dua jenis kelamin yang berbeda itu sembari mendengarkan tausiah-tausiah agama.

Ada hal yang  “menarik” sepanjang acara tablig akbar tersebut, suatu keadaan yang luput dari pandangan semua orang, namun tidak bagi saya, sebagai seorang pencari berita, saya melihat itu sebuah peristiwa dengan nilai berita yang tinggi bila dibandingkan dengan kegiatan tablig akbar itu sendiri.

Sebuah adegan yang diperankan oleh sepasang muda mudi yang sangat menggelitik sekaligus memuakkan, –maaf, tak ada maksud untuk menghakimi moralitas muda mudi Cianjur–.  Namun dalam remangnya sudut-sudut taman, sebuah adegan “romantisme” mereka peragakan sambil khusyuk mendengarkan tausiah-tausiah dari penceramah.

Si-pemuda duduk di belakang punggung si-pemudi, sedangkan tubuh si-pemudi bersandar pada dada si-pemuda, bukan sepasang namun beberapa pasang terlihat melakukan posisi serupa.  Kedua tangan si-pemuda melinggari leher si-pemudi dari belakang dan sesekali diturunkan kebawah pinggang.  (si-pemudi mengenakan kerudung yang ujungnya dililitkan ke leher)

Mereka yang berdiri pun tak mau kalah romantisnya, tangan si-pemuda dilingkarkan di pinggang si-pemudi, sementara kepalanya jatuh di atas pundak si-pemudi, (si-pemuda mengenakan pakaian koko).  Semakin larut, tubuh mereka semakin merajut, semakin malam tenggelam, udara semakin menggigilkan dan tubuh-tubuh itupun semakin erat melekat.

Di akhir ceramah, ketika kiai dari Jakarta itu memanjatkan doa dan dzikir yang menyayat kalbu, si-pemuda dan si-pemudi tanpa merubah posisi semula terlihat hanyut dalam suara terbata-bata Arifin Ilham, lantas mereka berulang-ulang mengucap amin … amin … amin.

Acara terus berlangsung, sampai pada puncak dari rangkaian acara tablig akbar itu yakni pembacaan ayat suci Al-Qur’an dari qori kondang bertaraf internasional, KH. Muamar ZA.  Hal ini terasa aneh, biasanya pembacaan Firman Allah dalam setiap acara apapun bentuknya selalu di simpan di awal, namun ini dijadikan sebagai penutup acara, mungkin hal itu dimaksudkan untuk membersihkan hati para pengunjung sebelum mereka beranjak meninggalkan alun-alun.  Mungkin !.

Tengah malam perlahan merayap dan rangkaian acara demi acara pun selesai disuguhkan, entah perasaan dan pikiran apa dan bagaimana yang ada di dalam benak dan diri warga Cianjur yang datang ke alun alun malam itu, namun yang jelas, muda mudi itu pun beranjak meninggalkan rumput alun-alun.

Sembari bergandengan tangan lantas berpelukan, sebagai pengusir hawa dingin atau memang sudah menjadi kebiasaan, entahlah, yang pasti si-pemuda akan mengantarkan si-pemudi ke rumahnya lantas akan merasa bangga dihadapan orang tua si-pemudi karena mereka telah mengikuti acara tablig akbar yang sarat ilmu dan nilai agama.

@alun-alun’07

~ by secangkirkopipagi on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: