Epilog … Episode Prolog

aloneANAKKU baru saja tidur, istriku sedari tadi, jengkrik-jengkrik pun sudah tidur, suara kodok tak terdengar lagi, mungkin juga sudah tidur. Tinggal aku sendiri, menjaga malam, berteman sunyi bercengkrama dengan senyap, tak ada kawan tak ada lawan perbincangan.

 

Sunyi membuatku terdiam dalam sepi, mencoba menikmati efisode kesendirian di malam ini.  Aku berceloteh pada malam, jika malam dapat aku beli, akan aku setubuhi kesunyiannya.

 

Aku ingin jujur padamu, bahwa percintaan kita dulu begitu menggurat memahat kisah indah di hati ini, memberi jejak pada setiap langkah kehidupanku.  Bahwa hadirmu dulu adalah keindahan.  Kendati keindahan itu, bahkan segala bentuk keindahan yang ada di dunia ini nyatanya semu, terkadang hanya garisan fatamorgana tak bermakna.

 

Aku harus jujur padamu, bahwa malam ini, seharusnyalah dirimu yang tidur di sampingku, seharusnyalah buah hatiku keluar dari rahimmu, bukan dia, bukan seseorang yang sekonyong-konyong berdiri di depanku,  lantas aku mengucap janji setia hidup di altar ikatan.

 

Aku memang harus jujur padamu, cinta tak mengenal batas dan norma.  Bahkan terkadang cinta harus melanggarnya. Namun cinta seperti apa jika etika harus dikorbankan? Bukankah cinta itu agung, bermakna kesakralan yang tiada hingga! Bukankah cinta adalah sebentuk kejujuran hati dan kesetiaan jiwa pada pasangannya!.

 

Namun, lagi-lagi aku ingin jujur padamu, bahwa malam ini, saat sunyi menerpa hati dan senyap menghinggap raga, aku memang teringat padamu, teringat segalanya, teringat semuanya.

 

Terakhir, aku ingin jujur padamu, karena saat ini, aku sedang menikmati efisode hidup ini, bersama seseorang yang bisa mengerti dan memahamiku, yang setia berjalan beriringan dalam tawa dan derita, dan ada malaikat-malaikat kecil yang senantiasa menyirami kerontang hidup ini. Segala lelah yang terasa pun sirna dan aku kembali bergelora untuk menyelesaikan efisode kehidupan ini

 

Inilah hidup, begitulah kehidupan, yang tak selalu apa yang kita inginkan harus terwujudkan, yang tak selalu berharap keajaiban senantiasa menghampiri diri, yang tak selalu mampu mengenyahkan kecewa dalam setiap langkah gerak kaki.

 

Beginilah hidup, inilah sejatinya kehidupan, ada kecewa, ada tangis di atas ceria, ada tertawa di atas duka.  Seharusnyalah begini hidup, ada pengharapan yang tak berkesudahan, ada keajaiban yang datang tiba-tiba.

 

Hidup bukanlah penyesalan tiada akhir atas gairah yang tak membuncah, bukan pula euforia atas gembira, namun hidup adalah ajaran, adalah filsuf keikhlasan dalam menerima setiap kenyataan, pahit maupun manis.

 

Taqur
Puncak Bogor /13/12/13

 

~ by secangkirkopipagi on April 19, 2010.

One Response to “Epilog … Episode Prolog”

  1. anjrit … bikin gw nangis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: