Mojang Sunda, Naha Era Ngomong Sunda

WAKTU tepat menuding angka 2 siang, tidak kurang tidak lebih, pas.  Saya dan istri berikut anak yang masih berumur 1,5 tahun hendak meluncur ke salahsatu dan satu-satunya supermarket di kota Cianjur ini.  Sebenarnya, malas juga untuk berangkat ke sana, sebagai orang yang pro-pasar tradisional, belanja ke supermarket atau sejenisnya sama saja membunuh nasib para pedagang kecil dan tradisional.

Tapi –bukannya pledoi– sebagai hamba manusia yang diliputi hawa nafsu dan keinginan, agaknya ingin juga merasakan bagaimana ”gayanya” berbelanja sambil ngadodorong troli, ambil ini, ambil itu dari rak-rak produk.  Yah, sebulan atau dua bulan sekali ke supermarket, rasa-rasanya tidak akan menyakiti hati para pedagang di pasar dan pedagang warungan (Nah, kalau ini sebuah penjustifikasian).

Lagipula, hati kecil orang mungkin membenarkan, kalau belanja di supermarket atau swalayan cenderung lebih efisien, praktis dan tentu saja ”gaya” di banding berbelanja di pasar tradisional yang terkesan kumuh, becek, bau, sumpek dan sesak berdesak-desak.  Belum lagi harus selalu waspada karena setiap saat harus beradu cepat dengan tangan-tangan terampil para pencopet yang setiap kesempatan mengincar dompet dan hp kita.

Karena kondisi itulah, maka lagi-lagi sense of crisis terhadap wong cilik saya kalah oleh pragmatisme manusia dan istansibilitas.  Tapi, sudahlah mengenai masalah itu, saya tidak akan memperdalamnya, nanti saja saya tulis dilain kesempatan, karena yang akan saya tulis kali ini bukan masalah geliat supermarket yang menggerus pasar tradisional, namun mengenai apa yang saya alami bersama istri berikut anak selama berada di dalam angkot sepanjang perjalanan menuju salahsatu dan satu-satunya supermarket di kota Cianjur itu.

Awalnya, angkot yang kami naiki kosong melompong, malah kami bertiga adalah para penumpang perdana bagi angkot yang supirnya tampak gaul tersebut.  Namun, tiba di belokan pertama, segerombol pelajar dari SMA terkemuka di Cianjur masuk berdesak-desakan, saling berebut seolah tidak mau kehabisan tempat duduk.

Namanya angkutan publik, mau tidak mau saya harus mafhum atas ketidaknyamanan yang ada, saling cekikikan dan tertawa terbahak-bahak.  Namun, bukan perilaku mereka sebenarnya yang mengusik hati kecil ini, cukup istri saya sajalah yang melakukannya dengan memasang roman antagonis dengan para penerus bangsa itu.

Justru yang menarik perhatian saya adalah gaya bahasa dan tata kata yang mereka gunakan, sungguh tidak merepresentasikan keadaan demografi setempat.  Malah, dalam hati saya iseng-iseng bertanya, ”Jangan-jangan saya salah naik angkot, jangan-jangan ini angkot yang mau ke Kalideres atau ke Depok,”.

Betapa tidak, bahasa yang mereka gunakan semuanya menggunakan bahasa Indonesia yang sungguh tidak baik dan benar.  Kalimat elu dan gue mungkin ratusan kali meluncur dari bibir mereka, belum lagi kata-kata capee deeh, sumpeh lo, lebay de ih, bokis banget sih lho ….. kendati sesekali mereka memadankannya dengan bahasa setempat, bahasa Sunda.  Alhasil terangkainya susunan kalimat seperti ”Eh, jadi gak urang maen ke rmuah gue teh,” tanya salah seorang siswa ke temannya,”Yaah jadi dong ah, tapi tong lila teuing nya, BT gue di sana,”, ”Ih bokis banget sih lo,”

Saya pun jadi bertanya sendiri, jangan-jangan warga Jabodetabek sudah banyak yang eksodus ke Cianjur, buktinya saja mereka, pelajar-pelajar ini, tapi, apa benar mereka kaum urban? Iseng-iseng saya pun coba untuk mengetes jati diri mereka yang sesungguhnya.

Punten neng, tabuh sabaraha?” tanya saya pada salah seorang dari mereka yang duduk tepat di samping saya.  Alamak, ternyata gadis itu, yang tadi begitu fasih (baca : rancu) bicara elu gua ngerti juga akan bahasa saya.

Saya pun akhirnya berkesimpulan, mereka rupanya bukan kaum urban, mereka nyata-nyata urang asli Cianjur, ayah dan ibunya lahir dan besar di Cianjur, bahkan mungkin nenek dan kakeknya, buyutnya adalah tokoh Cianjur.

Tapi kenapa mereka tidak bisa, atau sengaja ditidakbisakan atau bahkan malu untuk menggunakan bahasa Sunda, bahasa ibu mereka, bahasa yang sangat kaya akan ragam kata, bahasa yang sangat menghormati usia dan strata, bahasa yang kaya akan silogismenya, ana caraka data sawala.

Saya pun geremet dan hanya bisa mengutuk diri ini atas kelakukan mojang-mojang Sunda itu, ”Mojang sunda, naha make kudu era ngomong Sunda,” Dengan berbicara bahasa Sunda yang santun, anda tidak akan menjadi kuno, tidak akan menjadi katro, tidak akan dipandang kampungan oleh orang sekitar, dengan berbicara sunda, justru anda sudah berani memperlihatkan jati diri anda yang sesungguhnya, karena kepalsuan, semakin lama anda melakukannya, cape rasanya menjalani hidup ini., Urang sunda, tong era ah ngomong sunda …….

~ by secangkirkopipagi on April 19, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: