Sungguh Kartini Sesungguhnya

DISAAT sebagian besar perempuan Cianjur gegap gempita merayakan peringatan Hari R.A. Kartini di Gedung Bale Rancage Cianjur, Rabu lalu.  Namun Mimin (55), perempuan paruh baya itu malah sibuk membersihkan jalanan dan trotoar Kota Cianjur dari sampah-sampah yang berceceran.

Di sapunya sampah-sampah itu, dicomotnya sisa-sisa bungkus jajanan anak sekolah itu, lantas disodok dengan pengki untuk kemudian dimasukkan ke dalam tempat sampah beroda yang sedari tadi setia menemaninya menjalankan tugas rutinnya sebagai petugas kebersihan (baca : penyapu jalan).

Mimin, nenek dengan 6 anak dan 9 cucu yang minta disapa cukup dengan Mak Emin saja itu mengaku tak pernah paham tentang hari Kartini.  Maksudnya, kenapa setiap hari Kartini, kaum perempuan selalu bahkan “diwajibkan” mengenakan kain kebaya?  Bukannya iri, tapi Mak Emin mengaku tak pernah memakai kain kebaya separuh hidupnya, apalagi setiap tanggal 21 April.

Mak Emin sejenak terjaga saat memperhatikan ibu-ibu yang baru saja keluar dari Gedung Bale Rancage itu, berkebaya bagus dengan manik-manik di setiap sisi kainnya.  Sebagai perempuan, mungkin Mak Emin ingin juga sekali dalam hidupnya menghadiri dan merasakan seperti apa duduk di antara deretan ibu-ibu itu; mengikuti prosesi hari Kartini.

“Tapi Emak mah da teu acan kantos ngiringan upacara Hari Kartini,” ucap Mak Emin dengan logatnya yang khas.

Mak Emin mungkin ditakdirkan untuk tidak akan pernah mengikuti Hari Kartini semasa hidupnya, karena tugasnya yang setiap saat menuntutnya untuk selalu siap sedia mengabdi.

Sebagai penyapu jalan yang dikontrak Dinas PU Cipta Karya setempat, Mak Emin mengaku sudah puas.  Apalagi saat mengenakan seragam “kebangsaannnya” itu, berwarna oranye, lengkap dengan topi rimba di kepalanya.  Bahkan siang itu, layaknya personil Densus 88, Mak Emin menutup wajah keriputnya dengan masker.  Tujuannya tentu saja, menghindari debu asap kendaraan dan polusi kota.

Bagi Mak Emin, saat ditanya makna Hari Kartini, ia cuma menggelengkan kepala.  Apa pasal, Mak Emin, yang kini tinggal di Kp. Tanahlapang Desa Maleber Kecamatan Karangtengah Cianjur itu mengaku tak pernah merasakan “jumawanya” mengikuti peringatan Hari R.A. Kartini.  Berkebaya manik-manik, cium pipi kiri dan pipi kanan lantas berbincang tentang barang-barang terkini yang harus dibeli.

Namun, kendati ia tak akan pernah bisa mengenakan kebaya bagus.  Namun, tak harus berkebaya, Mak Emin lah Kartini sesungguhnya.  Seorang pejuang perempuan masa kini yang terkadang kiprahnya tersisihkan.  Padahal, dari ketelatenannya mencomoti daun-daun yang berserakan di jalan, dan ketidakjijikannya memunguti sampah-sampah yang bertebaran di trotoar, Kota Cianjur meraih penghargaan sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia.

Sungguh, dialah Kartini sesungguhnya, perempuan paruh baya, yang mengabdikan separuh hidupnya sebagai penyapu jalan; seorang pahlawan adipura. (firman taqur)

~ by secangkirkopipagi on April 24, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: