Pemulung Anak, Salah Siapa?

SIANG itu adalah hari pertama di tahun yang baru 2008.  Kota Cianjur sudah diguyur hujan sedari subuh tadi.  Padahal, bulan-bulan sebelumnya, Kota “Tauco” ini terasa panas menyengat.  Sejak beberapa tahun terakhir, Kota Cianjur memang tak lagi se-sejuk dan se-adem dulu.  Apalagi banyaknya lahan pertanian dan pesawahan yang disulap jadi komplek perumahan, ditambah keberadaan Situ Jangari, menjadikan Kota “tatar santri” ini gerah tak bikin betah.

Namun, kendati jalanan masih becek akibat di guyur air hujan sisa subuh tadi, namun rasa dingin menggigil sepertinya tak nampak di raut wajah bocah berkaos oblong kerah gombrang bertelanjang kaki itu.  Seolah mengindahkan rintik hujan dan hawa dingin, dia anteng saja mencomoti gelas-gelas dan botol plastik sisa air mineral kemasan.  Mencari di gorong-gorong trotoar, sesekali kaitnya menyeruak di sana.  Bahkan, ia sengaja minta ijin ke pemilik warung pinggir jalan untuk sekedar mencari yang dicari di tempat sampah warung tersebut.

Jika yang dicarinya ada, kaitnya yang berbentuk gancu itu pun langsung mengaitnya, lantas dimasukannya ke dalam karung besar yang sedari tadi di panggulnya.  Kendati besar kapasitasnya, namun karung itu sepertinya tidak terasa berat di pundak.  Soalnya, yang ada dalam karung itu cuma tumpukan botol dan gelas plastik bekas air kemasan.  Kalaupun terisi penuh, paling cuma 2 kg saja beratnya.

Ujang, demikian bocah itu menyebut nama.  Singkat, namun sudah cukup menjelaskan darimana ia berasal.  Usianya sekitar 15 tahunan.  Kalau diukur dari usia Wajib Belajar, saat ini berarti ia duduk di bangku SLTP kelas 2.

Namun sayang, sebagaimana penuturannya, ia tak pernah menikmati seperti apa rasanya duduk di bangku SLTP itu, “Kelas 4 SD ujang mah tos eureun sakola (Ujang sudah berhenti sekolah),” ujar dia kental dengan logat sundanya.

Tanpa malu Ujang pun mengurai cerita, ia mengaku, kalau putus sekolahnya itu semata-mata karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba minimalis alias kekurangan.  Bahkan, bersama orangtuanya, mereka masih ngontrak rumah bedengan di sudut Kp. Ciharashas, Kec. Cilaku, Cianjur.

Bapa ujang mah tos teu dagang deui, ayeuna mah aya wae di bumi teu kamana-mana (Bapak Ujang sudah tidak berjualan lagi, hanya diam di rumah),” tuturnya.

Melihat bapaknya sedikit tak punya rasa tanggungjawab dan kerjaannya hanya ngusep (mancing-red) saja, Ujang pun bangkit menyingsingkan bajunya, berniat mengambil alih peran bapaknya sebagai pencari nafkah keluarga.

Ujang tak sendiri, bersama sang adik yang diakuinya tak pernah dimasukkan ke sekolah, mereka berdua bahu membahu membantu ibunya agar bisa tetap mengepulkan asap dapur keluarga.

“Bapak kadang suka ikut mulung, tapi jarang, kebanyakan mah ngusep,” ujarnya.

Jika batinnya diberi kesempatan untuk berontak, ia mungkin akan menjerit atas kondisi hidupnya.  Namun, hidup adalah pilihan, dan kehidupan telah menepatkannya pada posisi demikian; menjadi tulang punggung keluarga.  Sementara sang kepala keluarga asyik ngusep di sepanjang sungai dekat rumahnya.

Ujang berkisah, awal mulanya menjadi pemulung dirinya membatin, terlebih, saat tengah menjalankan profesinya itu, lantas bertemu dengan teman sebayanya.  Mukanya akan langsung memerah saga, malu tak ketulungan.

Makanya, di awal menjalankan profesinya ia tak pernah lepas dari topi kupluk yang senantiasa menutupi sebagian wajahnya.  Tujuannya tentu saja bisa di tebak, untuk menyembunyikan identitas diri dari orang yang dikenalnya.

“Tapi ayeuna mah sudah tidak malu lagi,” aku dia.

Ujang benar, mengedepankan rasa malu, tak makan sekeluarga adalah taruhannya.  Karenanya, sejak 6 bulan lalu, Ujang pun begitu pede dengan profesi mulungnya itu.  Ia akan cuek saja kalau bertemu dengan orang yang dikenalnya.  Apa kata mereka, seperti pepatah, Ujang pun berfalsafah, “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,”

Dalam menjalankan kerja mulungnya, Ujang mengaku dalam sehari bisa mengantongi uang sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.  Apalagi, jika ada kegiatan atau acara-acara seremonial yang menghimpun banyak massa, maka dalam sehari ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp 20 ribu dari hasil mulung gelas dan botol air kemasan yang berserakan tertinggal setelah acara tersebut usai.

“Ujang berangkat dari rumah biasanya pagi hari dan pulang siang, tapi kalau ada upacara atau tablig akbar suka pulang malam,” tandas Ujang yang bercita-cita ingin menjadi tentara itu.

Lain Ujang, lain cerita dengan Dedi, bocah tirus yang masih duduk di kelas 5 SD itu mengakui pekerjaannya sebagai pemulung semata-mata karena suruhan dari orang tuanya.

Ema anu miwarang dagang kantong, saurna kanggo biaya sakolah abdi – (ibu saya yang menyuruh jualan kantong, katanya untuk biaya sekolah saya),” ungkap Dedi.

Dedi yang sering dipanggil Oded oleh teman sepermainannya itu mengaku terpaksa menjadi pemulung atas suruhan orangtuanya.  Namun, karena sudah tidak lagi diberi uang saku oleh orangtuanya itu, maka jalan satu-satunya untuk membeli segala kebutuhannya itu ia peroleh dari hasil mulungnya.

Dalam sehari Oded bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.  Namun jumlah uang tersebut harus diberikan seluruhnya kepada sang ibu tercinta. Sementara dia hanya diberi uang sekedarnya untuk jajan.

Oded mengaku, guna cari tambahan uang, selain jadi pemulung, ia kerap jadi tukang panggul belanjaan di pasar.  Ia mengaku senang dengan pekerjaan sambilannya.  Soalnya, dari sambilannya itu ia bisa dapat uang tanpa harus disetor ke ibunya.

Kendati usianya baru 12 tahun, namun bocah yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru ini secara perlahan mampu ‘menggeser’ peran bapaknya yang pekerja serabutan yang lebih banyak diam di rumah itu sebagai tulang pungung keluarga.

Ujang, Dedi dan puluhan anak-anak lainnya yang bernasib sama adalah potret buram dunia anak masa kini.  Ternyata, menjadi anak di jaman sekarang tak seindah dongeng nina bobo sebelum tidur.  Mereka harus berjuang untuk menyambung hidup keluarganya.  Padahal, sebagai seorang anak yang masih potensial, mereka seharusnya mengisi waktu dengan belajar, bermain dan bergembira, serta memperoleh pendidikan yang memadai, baik pendidikan formal maupun informal.

Namun, kondisi hidup yang serba kekurangan mendorong sebagian anak terpaksa harus bekerja karena berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga yang miskin, sistem kesejahteraan sosial yang tidak memadai, serta keterbelakangan maupun budaya lingkungan yang membentuknya.

Realitas sosial yang menyangkut kesejahteraan sosial anak ini jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan dampak buruk terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti menurunnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan meningkatnya tindak kenakalan serta kriminal di masyarakat.

Kondisi inilah yang pada akhirnya mendorong para orangtua ‘terpaksa’ mempekerjakan anak-anaknya yang masih di bawah umur.  Ada banyak orangtua yang menyuruh anak-anaknya untuk menjadi pengamen di jalanan, tukang semir sepatu, berjualan rokok, menjadi pemulung bahkan peminta-minta serta pekerjaan-pekerjaan lainnya yang tidak sepantasnya dilakukan anak yang masih berusia belia.

Padahal, mempekerjakan anak selain melanggar hukum dan konvensi yang telah diratifikasi, seperti konvensi No. 138 tahun 1973, mengenai usia minimum, dan konvensi No. 182, tentang larangan dan tindakan penghapusan bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, juga akan mengancam masa depan anak secara individu serta dapat membahayakan masa depan bangsa.

Namun, ketika segudang hukum dan setumpuk aturan berbenturan dengan keberlangsungan hidup dan isi perut.  Lantas, kepada siapa harus menyalahkan, ketika anak menjadi pemulung?   (taqurrahman)

~ by secangkirkopipagi on May 8, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: