Aku Ingin Sekolah

SAAT memasuki Kampung Bungbulang RT 03/01 Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Kab. Cianjur, batin ini langsung terenyuh saat melihat seorang anak kecil tanpa daksa sedang bermain ceria bersama teman-teman sebayanya di bawah pohon bambu.

Meskipun tidak memiliki kedua kaki, namun Rijal (7), anak pasangan Ujang (34) dan Eneng (29) itu tampak ceria. Tak nampak raut kesedihan dari wajahnya saat kami coba menghampirinya dan memberi salam.

Bahkan Rijal tampak begitu bangga saat mampu memeragakan gerakan salto atau jungkir balik dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Ia pun begitu lugas dan luwes menggunakan kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya.

Namun, dibalik keceriaan yang terpancar, perjalanan hidup bocah periang itu ternyata sanggat mengenaskan. Lahir dalam keadaan tidak sempurna fisik, hidupnya lantas “ditelantar” kedua orangtuanya.

Ibunya sendiri kini berada nun jauh di negeri orang. Saat umurnya baru setahun, Rijal sudah ditinggal ibunya yang pergi ke luar negeri sebagai buruh migran di Jordania. Sementara ayahnya, kendati sesekali datang menjenguk, namun keberadaannya kini tidak jelas.

“Sekarang saya dan ibu saya yang merawatnya. Saya kadang sedih melihat kondisinya,” tutur Ny. Eha (46), bibi Rijal.

Dikemukakan Eha, dalam kondisi tidak sempurna, keponakannya itu tetap ceria menjalani kehidupannya sehari-hari. Bahkan, ia kerap bermain bersama teman-teman sebanyanya rumah layaknya anak normal.

“Untungnya anak-anak di sini tidak pernah mempersoalkan kondisi fisiknya apalagi sampai menghinanya, mereka malah senang bermain dengan keponakan saya itu apalagi kalau bermain petak umpat,” ucapnya.

 

Aku Ingin Sekolah Agar Pintar

 KONDISI tanpa daksa ternyata tak menyurutkan keinginannya untuk belajar. Rijal bahkan berkali-kali merengek kepada neneknya yang selama ini mengurusnya agar dibelikan buku tulis dan spidol.

Alhasil, tak ubahnya mendapatkan mainan baru, Rijal pun begitu senang saat neneknya memberikan seperangkat alat tulis tersebut. Apa yang dimauinya itu ternyata seiring dengan keinginannya untuk sekolah.

Sejak sebulan terakhir, diakui neneknya, Ioh (75), cucunya itu sangat ingin sekolah. Ia seakan tidak memperdulikan kondisi fisiknya yang tidak sempurna itu. Namun, neneknya bingung dengan keinginannya karena tidak tega harus melihatnya bersusah payah berangkat ke sekolah dengan menggunakan kedua tangannya.

“Saat ini cucu saya memang keukeuh ingin sekolah. Tapi saya bingung bagaimana mengabulkannya, karena kondisinya seperti itu,” tuturnya.

Ia pun bermaksud untuk membuatkan alas penopang tubuhnya yang dilengkapi roda agar geraknya bisa leluasa dan agar bisa menempuh jarak jauh. Namun rencana tersebut hingga saat ini belum juga terpenuhi.

“Inginnya dia ada alat bantu untuk berjalan. Kasihan, selama ini telapak tangannya sering lecet-lecet apalagi kalau sehabis pulang main dengan teman-temannya di kebun,” ujarnya.

Sementara Rijal sendiri, dengan ekspresi periangnya mengaku ingin sekolah biar pintar dan bisa cari uang. Ia sendiri mengaku senang menggambar gunung dan harimau. Hampir seharian penuh, ia tak lagi suka bermain di luar, namun lebih suka menggambar atau sekedar mencorat coret spidol di bukunya.

”Rijal mau sekolah, mau pakai baju dan tas sekolah,” ucapnya polos.

Namun, dibalik kepolosannya bertutur, terpancar semangat hidup yang tidak tergoyahkan kendati kesempurnaan fisik tidak begitu memihak padanya. Bocah penuh semangat yang selama hidupnya tak pernah mendapat belas kasih dari kedua orangtuanya itu di suatu saat nanti bermimpi untuk menjadi seorang guru.

Kapolres Sumbang Kursi Roda

Kapolres Cianjur, AKBP Dadang Hartanto menunjukkan sikap empatinya terhadap Rijal (7), bocah tanpa daksa yang hidup tanpa kedua kaki itu. Bersama pejabat perwira lainnya, kapolres menyambangi rumahnya untuk memberikan kursi roda.

Rijal yang sejak balita hidup dengan neneknya karena diterlantarkan kedua orangtuanya itu kini tak lagi harus bersusah payah menggerakkan kedua tangannya untuk bergerak. Bahkan, raut gembira terpancar di wajah polosnya itu. Bahkan, nenek, bibi bahkan tetangganya larut dalam suka cita dan haru.

“Tidak ada maksud apapun, ini saya lakukan semata atas dasar kemanusiaan. Saya salut dengan semangat hidup anak ini sebagaimana diberitakan media, di tengah kondisi fisik yang tidak sempurna dia penuh semangat memandang hidup,” ungkap.

Kapolres berharap, dengan bantuan kursi rodanya tersebut, selain dapat membantu (meringankan, red) aktivitas hidupnya, tekad dan keinginan anak tersebut untuk sekolah dapat terwujudkan. Ia pun meminta Rijal agar merawat baik kursi roda tersebut.

“Anak dengan keterbatasan fisik seperti Rijal ini masih punya keinginan kuat untuk belajar. Ini tentunya menjadi pembelajaran penting bagi kita semua dalam memaknai dan menghargai arti dari sebuah semangat hidup,” ungkapnya.

Sementara itu, nenek Rijal, Ny Mini (60) tak bisa menyembunyikan ekspresi kebahagiannya, bahkan ia tak bisa menahan tangis haru bercampur bahagia dihadapan orang nomor satu di institusi kepolisian Cianjur itu.

Ia mengaku tidak menyangka ada pihak yang begitu peduli dengan kondisi cucunya itu. “Jangankan mengharapkan, memimpikannya pun tidak pernah. Ini benar-benar berkah bagi kami khususnya bagi cucu saya. Semoga pak kapolres diberkahi Allah Swt,” tutur Mamini.

Wabup Jamin Pendidikan Bocah Tanpa Kaki

Wakil Bupati Cianjur, Suranto berjanji akan menjamin seluruh biaya pendidikan Rijal (7), bocah tanpa kedua kaki. Suranto menyampaikan janjinya itu saat mengunjungi kediaman bocah tanpa daksa tersebut di Kampung Bungbulang, RT 02 RW 07, Desa Sindangraja, Kec. Sukaluyu, Kab. Cianjur.

“Pemkab Cianjur akan menjamin bantuan pendidikan serta kesehatan untuk Rizal. Namun, jaminan ini tidak dalam beasiswa, karena biaya pendidikan untuk tingkat SD dan SMP saat ini gratis,” tuturnya.

Pihaknya akan memberikan bantuan berupa seragam, dan pengadaan alat sekolahnya. Namun Suranto belum memastikan sampai kapan jaminannya itu berlaku. “Kita lihat perkembangannya ke depan,” ujarnya.

Sebagai seorang dokter aktif, Suranto mengatakan, kondisi yang diderita bocah malang itu dibawa sejak lahir akibat kekurangan genetis saat dalam kandungan. Rijal sendiri, menurut dia, tidak bisa diupayakan pemasangan kaki palsu karena tidak memiliki tulang kaki.

“Salahsatu cara untuk meringankan beban aktivitas dan gerak tubuhnya adalah dengan bantuan alat roda. Alhamdulilah kemarin Pak Kapolres telah menyumbangkan kursi roda untuk anak ini,” tuturnya.

Sukaluyu 2012

~ by secangkirkopipagi on January 21, 2012.

One Response to “Aku Ingin Sekolah”

  1. terharu… dan sangat terharu…
    semoga suatu saat rijal jadi orang yg sukses..
    Amien…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: