Saatnya Alam Menjadi Guru

Oleh : Firman Taqur

SEKITAR tahun 2005, Asep Mirda Yusuf, seorang pekerja sosial di Cianjur memimpikan mempunyai sekolah alam, sekolah yang benar-benar menyatu dengan alam dan berada di tengah-tenagh alam yang masih alami.

Mimpinya itu kini perlahan mulai menjelma nyata. Kendati kenyataan yang kini berwujud itu masih memerlukan waktu yang teramat panjang, namun mimpi membuka pendidikan sekolah alam bagi Asep Mirda Yusuf terwujud sudah.

Hebatnya, pendidikan sekolah alam yang ia beri label “Bumi Lestari” itu ia dirikan secara swadaya bersama timnya yang beranggotakan 12 orang dari Divisi Pendidikan Yayasan Gerakan Penanggulangan Narkoba dan AIDS (Y-GPNA).

Bahkan Asep bertekad, dua tahun ke depan, sekolah alamnya yang dikelola saat ini akan menjelma menjadi Pendidikan Sekolah Alam Formal.”Untuk mewujudkannya tentu perlu waktu, tenaga dan pengorbanan,” ucapnya.

Adapun yang mendasari pembentukan sekolah alam tersebut, dikemukakan peraih Pemuda Terbaik tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 1995 itu, semata untuk lebih mendekatkan pelajar dengan alam dan lingkungan.

“Alam merupakan guru yang bijaksana, biarlah siswa belajar dengan alam, karena alam adalah sejujur-jujurnya pendidik,” kata Abah Mirza, panggilan akrabnya kepada Jurnal Bogor, Minggu (18/12/) kemarin.

Abah Mirza mengaku sangat kaget dengan respon masyarakat sekitar saat konsepnya itu dilontarkan. Bahkan, salah seorang warga setempat secara sukarela “menyerahkan” lahan perkebunannya seluas 1 hektar untuk dijadikan lokasi sekolah alam tersebut.

Mendapat kepercayaan dan dukungan penuh warga, Abah Mirza pun dalam kurun dua bulan bersama timnya berhasil menyulap areal perkebunan terlantar itu menjadi sebuah kawasan pendidikan bertema alam lengkap dengan sejumlah alat permainan outbond.

Alhasil, areal perkebunan melinjo milik keluarga besar Ujang Iwan (32) yang berlokasi di Kp. Tipar RT 01/01, Desa Panyusuhan, Kecamatan Sukaluyu, Kab. Cianjur itu pun berubah menjadi kawasan pendidikan Sekolah Alam Bumi Lestari.

“Saat ini kita sudah mulai bergerak untuk angkatan pertama dengan jumlah peserta 30 orang. Pesertanya sendiri adalah siswa kelas III SMP terdekat. Respon sekolah pun sangat positif dan mendukung kegiatan ini,” pungkasnya.

Lumpur, Loncat dan Merangkak

BERKUBANG dengan lumpur, meloncat seperti kera dan merangkak seperti landak merupakan aktivitas wajib yang harus diikuti peserta didik di Pendidikan Sekolah Alam (PSA) Bumi Lestari, Sukaluyu, Kabupaten Cianjur.

Sejumlah aktivitas tersebut sengaja diterapkan kepada para peserta didik oleh pengelola sebagai bagian dari pendidikan fisik, mental dan pembentukan kepribadian agar memiliki karakter yang kuat dan mandiri.

Karenanya, tidaklah mengherankan, di lokasi PSA Bumi Lestari tersebut disediakan sejumlah alat yang akan memupuk keberanian, ketangkasan, kecekatan dan keseimbangan serta kemampuan adaptasi peserta dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

“Kita sediakan jarring laba-laba, terowongan, bambu goyang, jembatan kera dan ayunan Tarzan. Selain itu, kelas pembelajarannnya sendiri beralaskan tanah dan beratapkan langit,” ungkap Direktur Program PSA Bumi Lestari, Dindin Kamaludin.

Dindin mengatakan, di sekolah alam, anak-anak dibiarkan untuk bebas berekspresi dan berinteraksi dengan lingkungan kehidupan yang sebenarnya. Pihaknya sendiri, tidak mengggunakan sistem ranking sebagai salah satu tolak ukur prestasi peserta (siswa), namun akan senantiasa memicu semua siswanya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

“Biar alam yang membentuk karakter dan kepribadian mereka, karena sejatinya di sekolah lama ini, alam adalah ruang belajarnya sekaligus sebagai medium bahan ajar dan objek pembelajaran,” tuturnya.

Pihaknya sendiri menyandarkan proses pembelajaran secara berimbang antara pendidikan konseptual dan permainan edukasi melalui sarana outbound tersebut. “Pembelajaran lebih ditekankan pada pengembangan karakter, pengembangan logika dan daya cipta melalui Expreriental Learning, dan pengembangan kepemimpinan melalui metodologi outbond Training,” tandasnya.

Dindin berharap, lumpur, pepohonan, tanah, semilir angin bahkan rintik air hujan akan memberikan pengalaman tersendiri bagi para peserta didiknya, sehingga kelak, mereka akan tumbuh sebagai pribadi-pribadi yang memiliki kecintaan terhadap alam dan berjuang untuk memertahankan kelestariannya yang saat ini semakin terancam oleh kerakusan segelintir makhluk bernama manusia. (firman taqur)

Menjadi Lebih Sayang Terhadap Alam

BAGI Arif (14), menjadi salahsatu siswa di Pendidikan Sekolah Alam (PSA) Bumi Lestari adalah berkah tersendiri. Siswa SMP Sukaluyu, Cianjur itu mengaku senang dan antusias mengikuti setiap kurikulum yang diberikan para tutor di sekolah yang berlokasi di tengah belantara kebun tersebut.

Arif mengaku saat mendengar akan dibuka sekolah alam, ia langsung mendaftarkan diri ke guru sekolahnya. “Saya ingin sekali ikut, ingin menimba banyak ilmu tentang alam dan lingkungan hidup dengan suasana berbeda dibandingkan di sekolah,“ tuturnya di lokasi PSA Bumi Lestari, Kec. Sukaluyu, Cianjur, Rabu (21/12) kemarin.

Orangtuanya yang hanya buruh tani itu pun tidak keberatan, waktu kesehariannya dihabiskan di sekolah alam binaan Y-GPNA Cianjur itu. Sudah sepekan ia dan 29 temannya mengikuti pembelajaran di PSA Bumi Lestari itu.

“Di sini kita diajarkan materi pembelajaran sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Penyampaiannya pun tidak menjemukan, sesekali kita disuruh melakukan kegiatan outbond, seperti wall climbing dan menyusuri terowongan sambil merangkak,“ ungkapnya.

Senada, Eneng (13) mengaku senang setiap mengikuti kegiatan belajar di sekolah alam tersebut. Bahkan, ia selalu menunggu saat-saat untuk berkubang dengan lumpur dan “mengotori“ bajunya dengan tanah.

“Selain seru kotor-kotoran, di sini kita dituntut untuk dapat menceritakan peristiwa apa saja yang kita alami dihari sebelumnya kepada teman-teman. Awalnya saya kikuk, tapi sekarang sudah berani bicara di depan mereka,“ tuturnya.

Arif, Eneng dan puluhan siswa angkatan perdana PSA Bumi Lestari itu pun berharap dapat terus mengikuti pembelajaran hingga tuntas. “Manfaatnya sangat banyak, kenapa tidak dari dulu ada sekolah semacam ini di daerah kami,“ pungkas Eneng diamini Arif.

 

@Sukaluyu, Desember 2011

~ by secangkirkopipagi on January 21, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: