Selamat Hari Ibu, Ibu …

MENGHEMPASKAN diri di atas peraduan sehabis bertarung mengarungi belantara kehidupan seharian membuat aku ingin sejenak saja lari dari kenyataan. Lantas berkhayal tentang segala keinginan yang terkabulkan, meskipun aku sadar, sungguh tak ada keinginan yang dapat terkabulkan semua.

Akhir-akhir ini aku sering berkhayal, tak kenal waktu, tak kenal keadaan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjelajahi alam awang-awang. Mungkin itu semua aku lakukan karena tekanan dan juga beban hidup yang terasa berat menghimpit.

Memang, selepas kepergian ibuku untuk selamanya, aku merasa begitu berat hidup yang harus aku jalani, tak ada pegangan, tak ada tempat mengadu, tak ada tempat berkeluh kesah. Aku tak ubahnya John Smith yang terdampar di pulau tak bertuan, lantas berfikir keras agar bisa bertahan hidup.

Sosok perempuan paruh baya tanpa daksa akibat serangan stroke yang menyerangnya lima tahun silam. Aku selalu menyimpan fotonya di dalam dompetku, bukan foto seorang perempuan cantik yang seksi, bukan pula foto artis idola, namun foto ibuku, sengaja aku memilih fotonya yang sedang sehat bugar, agar aku bisa membayangkan bahwa ibuku memang dalam keadaan baik-baik saja, meskipun kenyataannnya, ibuku hanya bisa tergrolek tak berdaya di atas peraduannya. Sesekali ia bangkit sekedar untuk mengambil air wudhu.

“Kan bisa dengan tayamum bu,” aku kasihan dengannya yang selalu terpontang panting saat mengambil air dengan gayung.

“Selagi bisa berwudhu dengan air, kenapa tidak,” ucapnya enteng sambil terus berusaha mengambil gayung dengan tangannya yang gemetar sehingga air yang tersisa didalam gayung hanya cukup untuk membasuh mukanya saja.

Sehabis berwudhu, ibu memintaku untuk mendorong kursi rodanya ke dalam kamar, kembali ia akan tertatih-tatih saat hendak memindahkan tubuh lumpuhnya dari kursi roda ke atas kasur. Namun ia selalu marah kalau aku ingin mencoba membantunya,

“Biar, biar, ibu bisa sendiri kok,” ucapnya.

Aku sebenarnya tidak tega melihat ibuku harus salah untuk kesekian kalinya memasukkan mukena ke dalam tubuhnya, namun ia sepertinya hendak mengajariku arti sebuah kemandirian dan kerja keras.

“Maaf sudah membuat kamu repot dengan keadaan ibu seperti ini,” selalu saja itu yang diucapkannya.

Sungguh, ibu yang telah berjuang membesarkanku, bahkan bertarung nyawa dengan memberikan nafas bagi hidupnya untukku masih saja bicara seperti itu. “Biarlah bu, itung-itung ladang ibadah saya,” ujarku yang entah darimana mendapatkan jawaban seperti itu.

Namun aku malu, dibalik ketidakberdayaannya di atas kursi roda, dia tampil sebagai kreator, motivator sekaligus mobilisator keluarga. Aku malu, atas kegigihannya menjalani hidup. Smenetara aku, lelaki perkasa, sempurna dari kacamata raga, selalu memandang sinis hidup ini.

Jika mimpi bisa aku beli, seperti asa Iwan Fals dalam salah satu syair lagunya, maka akan aku beli untuk sepekan saja. Aku ingin bermimpi, namun bukan untuk memimpikan tengah berduaan dengan artis di layar kaca yang seronok dengan buah dadanya yang sengaja ditonjolkan. Bukan pula bermimpi menjadi jutawan kaya harta yang tengah pelesiran di pulau pribadinya dengan sepuluh perempuan pengumbar birahi. Namun, aku hanya ingin bermimpi bertemu ibu.

Kini semua itu hanyalah kisah kenangan, ibuku kini telah tiada, pergi meningalkan aku disini, sendirian, tak pernah pamit tak sempat menitipkan pesan dan petuah kepadaku. Aku terpuruk ditinggal pergi olehnya, namun aku tak ingin menyesali atas takdir yang telah diguratkan Tuhan terhadapnya. Dia bukan punyaku, ibuku hanya jalan yang diberikan-Nya untuk kehadiranku di dunia ini.

Ibuku pergi, dan takkan pernah kembali … membawa sakit hati dan mimpi-mimpi. Ibuku pergi sudah dan takkan pernah lagi singgah, meninggalkan resah dan amarah yang tak membuncah. Ibuku tinggal kenangan, dan yang tersisa hanya harapan dan ajaran. Ibuku berpulang tak pernah bilang. Aku di sini tenggelam di lautan pedih nan perih ….. hanya sanggup berucap dalam ketiadaannya, maafkan aku ibu, yang tak pernah bisa membuatmu tersenyum dalam bangga.

Aku terjaga, mengusap muka menghapus jejak-jejak masa. Lima tahun berselang sejak kepergian ibu, rasa rindu ini tak pernah lekang. Selalu tiba-tiba datang dan mengaduk-ngaduk batinku. Aku tak pernah menziarahi nisannya sekedar untuk melepas kerinduan. Aku hanya berdiam sambil berusaha mengurai setiap ucap, setiap titah, setiap langkah yang aku lihat dari sosoknya. Itulah ajaran ibuku, ajaran yang takkan pernah aku lupakan.

Dimataku, dia adalah sosok yang serba bisa, sosok multi talenta dan super human. Ia senantiasa menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah ada habisnya. Ibuku adalah figur dimana ia harus memerankan banyak fungsi. Ia adalah kreator, motivator sekaligus mobilisator. Ia adalah episentrum sejati-jatinya manusia.

Namun, tentu saja sosoknya tidak untuk dipuja laksana dewa, ibuku hanya makluk biasa yang mempunyai peran luar biasa. Ia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan sama, namun ditempatkan pada posisi istimewa. Ia, sekali lagi, adalah sejati-jatinya kemulian manusia, selamat hari ibu, ibu …

@Pabuci/22/12/2011

~ by secangkirkopipagi on January 31, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: