Tradisi Papajar, Rasa Gundah Kalau Belum Munggah

TAK seperti biasanya, setiap petang menjelang, lelaki tua mantan jawara di desanya itu sudah nagen depat Tivi sekedar untuk mengkonsumsi berita-berita seputar artis ibukota.  Namun, sore itu, sepertinya ia sudah tidak lagi tertarik dengan berita seputar gosip selebritis yang oportunis itu, malah ia memilih tercenung seorang diri di teras belakang rumahnya.

Petang itu, rupanya Mang Taslim tengah dilanda kebingungan yang sangat.  Betapa tidak, sampai ini, hari keluarga besarnya belum juga melaksanakan ritual Papajar.  Padahal, ibadah shaum di Bulan Ramadhan tinggal hitungan jari.  Maka itulah, sedari siang sampai petang menjelang, otaknya terus berputar sekedar mencari keputusan solutif perihal lokasi mana yang akan dijadikan tempat untuk papajar tahun ini.

Sebagai raja di keluarganya, sebenarnya Mang Taslim bisa saja menggunakan hak prerogatif-nya untuk mengambil keputusan itu. Namun sebagai warga negara yang baik, ia pun ikut-ikutan menjadi penganut demokrasi, karenanya diputuskanlah untuk sesegera mungkin menggelar Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) bersama keluarga besarnya dengan bahasan, kapan dan dimana pelaksanaan Papajar keluarganya tahun ini.

Maka digelarlah Munaslub tersebut keesokan harinya. Hampir tak ada yang absen dalam rapat tersebut, delapan anaknya plus cucu-cucunya hadir memenuhi kourum.  Rapat pun berjalan cukup alot dan sengit, terutama pada bahasan tempat pelaksanaan papajar.  Maklum, sebagai pemimpin rapat, Mang Taslim mau tak mau harus menampung delapan tempat tujuan yang keluar dari sumbangsih ide ke-8 anaknya itu.

Maka jadilah ia dibuat pusing empat belas keliling.  Pasalnya, jarum jam telah menunjukkan pukul 5 sore, namun keputusan belum juga diambil dalam rapat intern tersebut. Untungnya, tak mau kalah dengan Amerika, Mang Taslim mengaku terpaksa menggunakan Hak Veto-nya.  Daripada tidak menghasilkan apa-apa, pikirnya!

Ia pun terpaksa mengambil keputusan sepihak –namun tentu saja dengan pertimbangan untung rugi– bahwa pelaksanaan Papajar keluarganya pada tahun ini akan dilaksanakan di Kebun Raya Cibodas.  Palu pun diketuk tiga kali; SAH.

Bagi-bagi tugas pun mulai diatur sedemikian adil, mulai dari anaknya, menantunya, sampai cucu-cucunya ikut ketiban tugas. Anaknya yang pertama ditugaskan untuk membuat gelondongan timbel.  Anaknya yang kedua mendapat mandat untuk mencarter angkot, anak ketiga diserahi tugas membawa tikar, samak, terpal dan alas duduk sebangsanya.

Sedangkan anaknya yang lain mau tidak mau harus rembukan menyediakan aneka lauk-pauk, mulai dari goreng ayam, tempe bacem, sambal kacang, kerupuk, sayur lodeh, pepes ikan, sampai goreng jengkol dan aseupan peuteuy.

Sementara anaknya yang bungsu mengemban perintah untuk menyiapkan berbagai hal yang berhubungan dengan dokumentasi.  Alhasil, keluarga besar Mang Taslim pun sibuk dengan tugas dan perannya masing masing hingga sampai hari H itu pun tiba.

 ***

 Fenomena di atas bukanlah sepenggal kisah fiksi apalagi dongeng basa-basi, namun sepotong realitas sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat Cianjur. Papajar bagi urang Cianjur tetahg menjadi tardisi telah menjadi sebuah fenomena yang sudah cukup lama berlangsung di tatar kota yang berjuluk ”Kota Santri” itu.

Bagi urang Cianjur, menjalankan ritual shaum di bulan suci Ramadhan rasa-rasanya kurang shahih tanpa mengadakan papajar terlebih dahulu, karena memang konon katanya papajar itu sendiri hanya bisa dijumpai di ranah Cianjur.

Urang Cianjur bilang, Papajar adalah kegiatan makan-makan di luar yang diadakan jelang pelaksanaan ibadah shaum pada bulan suci Ramadhan.  Adalagi yang berpendapat papajar itu memindahkan makan dari dalam rumah keluar rumah, bahkan ada yang berargumen papajar itu sunat hukumnya.

Biasanya, papajar ini dilakukan oleh keluarga besar, sanak famili, bahkan satu kampung atau sekelurahan.  Lokasinya pun beraneka tempat, bagi mereka yang suka dengan wisata air atau bahari, maka kawasan semisal Situ Jangari, Pantai Palabuhanratu Sukabumi, ataupun Laut Jayanti Cidaun akan menjadi tempat tujuan.  Sedangkan bagi mereka yang senang dengan suasana alam pegunungan, tempat semisal Cibodas, Talagawarna, Gunung Putri, Gedeh, Taman Bunga Nusantara adalah tempat yang cocok untuk dituju.

Bahkan ada dan tidak sedikit yang mengunjungi Makam Ariawiratanudatar atau yang populer dengan sebutan Eyang Cikundul di daerah Cikalong; untuk meminta berkah atau sekedar berziarah.  Sementara bagi mereka yang memiliki dana terbatas, tempat semisal saung di sawah atau tegalan adalah tempat yang bisa dijadikan lokasi papajar.

Jika coba untuk menalungtik dan menelisik asal muasal kata Papajar tersebut, seperti pernah dikemukakan salah seorang ulama kahot di Cianjur, KH. Abdul Halim, atau yang akrab disapa Ajengan Liem, konon katanya, tradisi papajar sudah ada sejak puluhan tahun silam, dimana pada waktu itu, banyak warga Cianjur selatan datang ke Masjid Agung di pusat kota untuk menanyakan kepada ulama, tentang kapan dimulainya shaum Ramadhan, karena memang pada waktu itu, belum aja penjelasan resmi dari pemerintah maupun ulama tentang kepastian waktu dimulainya shaum tersebut seperti saat ini.

Karena menunggu adanya kejelasan pasti kapan dimulainya waktu shaum itu, mereka pun terpaksa menginap atau tidur di masjid, atau di rumah-rumah saudara mereka di kota.  Bahkan, tidak sedikit yang menggelar tikar di alun-alun Kota Cianjur.

Saat malam harinya, mereka pun mendapat penjelasan resmi dari ulama terkait pelaksanaan shaum Ramadhan yang dilaksanakan esok hari.  Karenanya, perbekalan makanan yang mereka bawa sebelumnya dijadikan menu sahur yang dilakukan menjelang pajar.

“Sejak saat itulah Papajar dimulai dan mulai diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Cianjur ini,” turur Ajengan Liem yang telah menjabat Ketua MUI Cianjur berpuluh tahun itu.

“Pokoknya papajar itu setengah wajiblah.  Lagipula adanya kan setahun sekali, jadi sayang kalau tidak dilakukan,” ujar Ny. Nuning (45), warga Kp. Pabuaran, Kelurahan Sayang, Cianjur yang mengaku tak pernah absen tiap tahun mengadakan acara pajajar bareng keluarganya.

“Itung-itung rekreasi terakhir kali lah, soalnya kan nanti pas bulan puasa kita harus serius ibadah. Jadi yah tidak bisa main atau rekreasi di siang hari,” sambung Yeye, warga Samolo, Karangtengah,Cianjur.

Pada Akhirnya, apapun pendapat orang tentang papajar, yang pasti ritual tersebut seolah telah menjadi bagian dari ritual shaum di bulan suci Ramadhan bagi urang Cianjur yang agamis ini. “Pajajar itu ibarat perpisahan dengan makan di siang hari, soalnya nanti di bulan puasa kita tidak boleh makan di siang hari,” ujar Mang Eje (45), pedagang baso di Pasar Induk Cianjur.

Nah, jika memang papajar merupakan perpisahan dari aktivitas makan di siang hari, mudah-mudahan saja pelaksanaan shaum nanti urang Cianjur tidak ada lagi yang makan di siang hari, apalagi yang berkunjung ke warung nasi yang terlihat seolah tutup padahal di dalamnya banyak yang balakecrakan sedang papajar, semoga.

@Firman Taqur – Cibodas//19/7/12

~ by secangkirkopipagi on July 19, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: