Aku Adalah Nabi!

hayatiAKU rindu menulis karena di sana ada semacam orgasme pemikiran. Menulis terkadang membuat resah yang singgah sirna seketika. Aku selalu merindukan satu adegan dimana aku seorang diri di kamar, menghadap layar komputer ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok, lantas mulailah aku menulis.

Saat momen seperti itu, saat aku coba mereka cerita, aku berharap roh Seno Gumira Ajidarma tengah merasuki ragaku. Saat aku mencoba menulis artikel dan essai, aku ingin kerasukan roh Gunawan Muhammad. Saat puisi coba ku reka, serta-merta aku menjelma menjadi Khalil Gibran yang absurd.

 

Ingin rasanya aku disandingkan dengan nama-nama besar seperti mereka. Tapi, ah rasa-rasanya tidak akan kesampaian, bakat menulisku masih selalu bertabrakan dengan kegiatan mencari penghidupan #malangnyabakatkuini, hiks

 

Namun aku bersyukur, impianku menjadi penulis ternyata menjadi kenyataan. Meski bukan menjadi penulis puisi dan perangkai kisah fiksi, aku tetap bisa menulis; menulis berita. Aku menjelma menjadi pewarta yang selalu hadir di saat ada peristiwa.

 

Kendati sudah menjadi pewarta, yang selalu dituntut untuk menulis; menulis fakta yang dirangkai menjadi berita, namun aku ingin menulis yang lain. Ingin menulis yang efeknya seperti narkoba, melayang-layang terbang ke angkasa.

 

Padahal, seperti yang pernah kawanku katakan, menjadi pewarta –yah macam aku ini lah–  tak ubahnya seperti nabi. Melalui berita, aku harus memberikan pekabaran yang bisa mencerdaskan, informasi yang membuat orang lebih mawas diri. Karena sejatinya, berita yang aku tulis akan menjadi arsip sejarah di suatu masa nanti, saat tubuh sudah berkalang tanah, dan nama ini hanya berbekas cerita.

 

Kembali ke persoalan tak ubahnya nabi, kalau coba kurangkai kalimatnya seperti ini, pewarta tak ubahnya nabi, aku adalah pewarta, jadi, aku tak ubahnya nabi #ngarep J. Namun tentunya aku tidak mau jumawa begitu saja dengan pernyataan teman baruku itu, karena makna tak ubahnya adalah sebuah pengejawantahan mengenai arti dan posisi yang sama namun dalam konteks yang sangat-sangat jauh-jauh berbeda.  Lagipula, sangat tidak mau dan malu kalau aku harus disejajarkan dengan nabi, meskipun hanya sebatas perannya sekalipun.

 

Akan tetapi, memaknai kata itu juga sama halnya bahwa apa yang selama ini aku tulis, aku kabarkan, aku informasikan merupakan aktivitas yang biasa nabi lakukan. Namun tentunya, jika aku ingin dianggap nabi, atau setidaknya tak ubahnya seperti nabi, maka setiap yang aku tulis dan aku kabarkan tentulah harus berisi petuah dan petunjuk pada kebaikan.

 

Kalau melihat ke sana, jangankan seperti nabi, mendekati kata tak ubahnya pun tak sama sekali, karena apa yang aku kabarkan selama ini tak ubahnya hanya sebuah peristiwa yang kebanyakan tanpa makna bahkan terkadang penuh rekayasa. Hanya sebuah pekabaran akan siklus kehidupan yang begitu-begitu saja.

 

Bahkan, aku menulis berita sekedar untuk memenuhi pesanan oplah agar aku bisa tetap bekerja sebagai pewarta, mendapatkan uang agar bisa menghidupi anak dan istri di rumah, dan sesekali bisa membeli barang-barang yang lumayan mewah, menurutku.

 

Jika sudah begitu, malulah aku dengan pernyataan temanku itu, untuk bisa disejajarkan dengan tak ubahnya nabi saja, aku tak mendekati sedikitpun. Karena ternyata, aku bukanlah nabi, aku hanya manusia yang coba bertahan dalam pusaran siklus kehidupan. #menangistersedusedan, hiks

 

Pulo, 21 Nov 2013

~ by secangkirkopipagi on November 21, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: