Journalist, Who Am I !

Meet the PressDAN aku pun telah mengabdikan seluruh hidup ini ke dalam dunia jurnalistik, dunia pers, dunia industri media, industri kapitalis media. Secara profesi, aku pun menjadi jurnalis; mencari makan dari menulis. Sayang, beberapa manusia merusaknya dengan perilaku tidak elegan, mereka merusak hakekatnya, maknanya, spiritnya. Teramat ironi, mereka dengan rasa bangga dan pongah mengumbar identitas kejurnalistikannya itu.

Di helmnya, di plat nomor kendaraannya, di jaketnya, di rompinya dan di topinya mereka labeli dengan kalimat “Pers”. Pers yang artinya tekan, artinya “penekan” dengan bangga disematkan diberbagai spot terbuka itu. Tujuan sebenarnya hanya satu; sebagai jimat, agar bisa “lewat” dari razia aparat.

 

Entah kenapa, polisi lalulintas pun seakan enggan untuk menilang mereka, atau sekedar memberhentikan kendaraan yang ada tulisan “Pers” itu untuk diperiksa kelengkapan kendaraannya. Sebagai seorang jurnalis, tentu aku tahu dan sangat tahu alasannya, tapi tak elok rasanya kalau harus aku ungkap di sini. Biarlah itu menjadi rahasia kami berdua, rahasia pewarta dan polisi lalulintas di jalan raya sana.

 

Menjadi pengabar peristiwa tentu ada rasa bangga, karena selain menyampaikan, aku juga menjadi saksi dan bagian dari peristiwa itu sendiri. Rasa-rasanya tak ada satu pun profesi yang bisa menjadi saksi sejarah di berbagai tempat dan masa. Inilah jurnalis, hebatnya jurnalis, jumawanya jurnalis.

 

Jurnalis adalah penyampai kabar, namun ketika seorang pelajar bertanya, apa parameter kesuksesan seorang jurnalis? Aku terhenyak, pertanyaan siswi ayu berkacamata baca itu begitu lembut terdengar namun tepat menghujam dalam jantung ini.

 

Berpuluh tahun aku menjadi jurnalis, seketika tertampar dengan pertanyaan itu. Karena sedetik pun aku tidak pernah memikirkannya, bahkan tidak pernah peduli akan parameter kesuksesan itu. Bagiku, menjadi jurnalis cukup menyampaikan peristiwa, mengabarkan kabar, lantas mendapatkan remah rupiah, ya sudah.

 

Bagiku, mungkin bagi jurnalis lainnya, parameter kesuksesan seorang jurnalis adalah media yang diusungnya laku keras seperti kacang goreng, atau medianya ditonton jutaan pasang mata di seantero jagat raya.

 

Namun, apakah kesuksesan diukur hanya sekedar itu. Sekedar seberapa besar tiras didapat, seberapa banyak oplah yang terjual, seberapa tinggi rating dan share siarannya. Inilah tamparan telak setelah berpuluh tahun aku mengabdikan hidup ini menjadi seorang pewarta.

 

Jika itu yang jadi ukuran, hina-lah aku menjadi jurnalis yang tak jauh beda dengan mesin fotocopy, yang bertugas hanya memperbanyak  informasi agar bisa tersebar secara serentak. Padahal, seorang jurnalis tak sekedar sebagai pewarta, namun ada peran yang maha digdaya di sana, Panglima Perang  Prancis, Napoleon Bonaparte saja takut dengan pewarta! Namun pewarta seperti apa? Entahlah, aku masih terus mencarinya, memburunya, dan menemukannya untuk berguru padanya.

 

Terima kasih nona, gadis ayu berseragam abu-abu, kau telah mengusik “kenyamanan” hidupku ini.

 

Joglo, 20 Mei 2014

Meet the Press

~ by secangkirkopipagi on May 16, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: