The Coffer

coffe platSECANGKIR kopi masih tetap setia menemaniku melalui malam-malam panjang. Malam ini saja sudah tiga gelas kopi aku habiskan, dan ini yang keempat, masih tersisa setengah lagi. Meski sudah dingin tapi tetap akan kunikmati karena setiap kali menyeruputnya ada semacam desirat imaji yang mengalir dari manis dan hitamnya kopi ini.

Aku menatap kopi yang masih tergenang di dalam cangkir bening porselin. Hitam pekat. Aku perhatikan dan melihat lebih dalam, kopi memang hitam, meski hitam jadi simbol kejahatan, namun kenapa hitam kopi ini justru bisa bangkitkan orang untuk berbuat kebajikan.

Ia memang hitam, tapi di hitamnya aku melihat segurat harapan, secercah cahaya untuk lusa yang belum tercipta, ada emosi yang menggelora, dan sejumput keinginan dalam binar hitamnya.

Sungguh kopi ini hitam dan sangat pekat, tapi hitamnya adalah jiwa, adalah inspirasi penggerak hati. Terkadang juga pahit, dan sungguh pahit dirasa, namun hidup telah mentasbihnya untuk manis, maka tersenyumlah ia dengan manisnya segera.

Aku penyendiri, pecumbu sepi, menyetubuhi sunyi, bersenggama dengan gulita, menghujam diri dalam bait puisi, mendera raga dengan cerita lewat kata. Saat kalut menerjang, tersentak, mengguncang cita yang direka, maka kopi segera ada, menamparku dengan manisnya untuk kembali berdiri.

Aku temukan arti di adanya, aku rasakan makna di hadirnya, jiwaku telah menyatu dalam hitam yang tampak dan manis yang tercipta. Sungguh, aku telah memujanya, tapi kopi bukan dewa, karena aku punya Dia, aku hanya suka manisnya dan jatuh cinta pada hitamnya.

Aku tak bisa menulis cerita tanpa kopi, aku tak sanggup sambut pagi tanpa secangkir kopi, aku tak mampu nikmati senja tanpa ditemani segelas kopi. Aku tak berdaya lalui malam-malam panjang tanpa kehadirannya. Rupanya aku telah jatuh cinta padanya, entah kapan aku akan melamarnya, lantas menikahinya, dan punya beberapa anak darinya.

Aku tidak memandang dimana  harus minum kopi, di kios  rokok, warung angkringan, di cafe, di resto, atau dipinggiran jalan di atas trotoar. Aku pun tidak harus selalu menakar estimasi antara kopi dengan gula, apalagi berkelakukan perfectionist seperti si-Bethoven yang harus ada 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya. Asalkan cukup terasa pahit di lidah, maka kopi kembali menjadi teman setia melewati malam-malam panjang.

Kehadirannya selalu mendatangkan kata-kata bijak dan rencana-rencana fundamental, bahkan setelah menyeruput sekali saja aku langsung mampu menulis berlembar-lembar surat cinta, meskipun surat-surat itu tak pernah aku kirimkan pada seseorang. Terkadang aku selalu bertanya apa jadinya dunia tanpa kopi. Sepertinya aku ingin menjadi petani kopi saja, atau pemilik kedai kopi, tapi setelah dipikir-pikir lagi lebih baik menjadi penikmat saja.

Mungkin sudah sepatutnya aku dan para penikmat kopi di seantero jagat ini berterima kepada seorang penggembala kambing asal Abessynia yang untuk kali pertama menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembalakan ternaknya. Atas jasanyalah minuman satu ini menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa.

Arabika, aku jatuh cinta padanya, warnanya yang hitam pekat namun menimbulkan aroma yang sentimentil, harum dan menyejukkan hati. Robusta, kendati memiliki kafein yang tinggi, namun terkadang aku suka merindukan pahitnya.

Sebagai penikmat kopi aku sangat bersyukur karena dilahirkan dan hidup di abad ini. Bayangkan saja kalau dilahirkan sebelum jaman Renaissance, mungkin aku tidak akan pernah mencicipi eksotisme kepekatannya. Kecuali kalau aku dilahirkan dari keluarga Aristokrat dan berkarib kerabat dengan Raja Frederick Agung dari Rusia.

Bayangkan pula, kalau aku hidup di tahun 1656, dimana Wazir dan Kofri, Kerajaan Usmaniyah mengeluarkan larangan untuk membuka kedai-kedai kopi. Bukan hanya melarang kopi, tetapi menghukum orang-orang yang minum kopi dengan hukuman cambuk pada pelanggaran pertama. Aku pun bersyukur tidak menjadi warga negara Swedia saat Raja Gustaff ke-II masih berkuasa. Ia pernah menjatuhkan hukuman terhadap seorang peminum kopi.

Kopi, ah aku jatuh cinta padanya …

firman.taqur’08


4 Responses to “The Coffer”

  1. aku penikmat kopi susu dan yg instan demi alasan kepraktisan…tp melalui “The Coffer” aq belajar…
    terimakasih

  2. Salam kenal mas. sebagai sesama penikmat kopi mohon izin copas artikelnya di bloq saya🙂 Silakan mampir deh..

    • salam kenal juga sobat …..bang nazrul, sungguh site nya membuat dunia kopi ku bangkit kembali, terima kasih banyak atas cita rasa kopi nya bang…… lets taste the coffe every breath …..

  3. Sangat memukau, bung. Jikalau sempat mampir ke blog sederhana saya juga ya http://penjajakkata.wordpress.com/2013/03/20/kopi-hitam/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: